Archive for the ‘Siswa’ Tag

Strategi Pembelajaran: Konsep dan Aplikasinya

Sunhaji *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), Dosen tetap Jurusan Tarbiyah dan Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam di STAIN Purwokerto.

Abstract:

Learning strategy is a teacher effort to create environment system that enable student to learn, or choice of teacher-student activity pattern at learning process. There are several different strategies, but only at its accentuation, namely as abstract conception thought versus its operation on three activity i.e. pre-instructional, instructional, and evaluation. As criteria to choose learning strategy there are: learning goal, skill at lesson, media being used, evaluation system, and student as subject and teacher as implementer.

Keywords: Learning strategy, effort, environment, teacher, student.

Pendahuluan
Banyak pendapat ahli yang mendefinisikan strategi belajar-mengajar dengan berbagai istilah dan pengertian yang berbeda, perbedaan tersebut sebenarnya hanya terletak pada aksentuasinya saja. Misalnya, Nana Sudjana mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar merupakan tindakan guru melaksankan rencana mengajar, yaitu usaha guru dalam menggunakan beberapa variabel
pengajaran (tujuan, metode, alat, serta evaluasi) agar dapat mempengaruhi siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan.1 Dengan demikian, ia adalah usaha nyata guru dalam praktik mengajar yang dinilai lebih efektif dan efisien, atau politik dan taktik guru yang dilaksanakan dalam praktik mengajar di kelas.

Selanjutnya, Nana Sudjana menambahkan bahwa strategi mengajar ini dibagi tiga tahapan; tahapan pra-instruksional, tahap instruksional, dan tahap evaluasi. Pada tahap pra-instruksional, misalnya guru menanyakan kehadiran siswa, bertanya tentang materi lalu ini semua sebagai upaya melakukan apersepsi, kemudian tahapan kedua guru menjelaskan tujuan, menuliskan pokok-pokok materi sesuai tujuan ini dimaksudkan untuk menekankan fokus pada tujuan yang diharapkan (learning outcome), dan tahap evaluasi guru berusaha mengetahui sejauh mana siswa memahami pada materi yang dijelaskan pada tahapan instruksional dan termasuk sebagai feedback terhadap pelaksanaan seluruh kegiatan instruksional.2 Menurut definisi sebagaimana dijelaskan dimuka, maka strategi belajar-mengajar adalah operasionalisasi dari desain pembelajaran yang telah dirancang.

Baca selengkapnya: 8-Strategi Pembelajaran – sunhaji

Advertisements

Ibn Khaldun and Education

Fahri Kayadibi *)

*) Penulis adalah Doktor, Associate Professor di Ilahiyat Fakultesi, Istanbul University, Beyazit, Istanbul, Turki.

Abstrak:

Ibn Khaldun adalah pemikir besar muslim, yang gagasan-gagasannya mempunyai arti penting dalam sejarah pemikiran Islam. Pemikirannya yang orisinil dan inovatif, mampu meneropong ke masa sesudahnya, bahkan tetap berguna hingga kini. Dalam artikel ini, dipaparkan beberapa pemikiran Ibn Khaldun dalam dunia pendidikan, khususnya berkaitan dengan sistem pendidikan. Penekanannya tentang hubungan guru dan murid yang lebih manusiawi, dan pengajaran yang menyesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan murid, merupakan sumbangan bernilai bagi dunia pendidikan.

Kata Kunci: Ibn Khaldun, pendidikan, pengajaran, guru, murid.

Introduction
The great thinker Ibn Khaldun was born in Tunis, 1332 AD and died in Cairo, 1406 AD. His ideas have reflected their importance on the history of universal thought as much as within the Islamic realm. His thoughts are all self-created. He has been affected by savants before him but he is not a continuation of them. He created genuine and innovative ideas. It is due to this fact that although he lived during the 14th century his thoughts still manage to shed light among events of current times. His ideas have not lost their relevance as time has passed. Recognized as the founder of sociological sciences, Ibn Khaldun has been accepted and commented upon by historians, jurists, theologians, politicians, economists, teachers, educators and environmentalists alike. Ibn Khaldun’s great work of art, The Muqaddimah has been translated into the world’s most common languages.

Here, we shall try to enumerate his education-teaching views which shed light on current educational systems and consequently provide a text from which we may take benefit.

Read more: 12-Ibn Khaldun and Education – fahri kayadibi

Fenomena Kekerasan di Lingkungan Pendidikan

Ida Novianti *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), dosen tetap di Jurusan Hukum Islam (Syariah) STAIN Purwokerto.

Abstract:

Friend at school ideally have role as a partner, to motivate other student to do learning activity. Meanwhile, teacher role is as mentor, facilitator, supervisor, and role model for student. However, fact shows that bullying and violence case at school reaching frightened level. Bullying is a serious problem that can cause traumatic effect to the victim. Several factors causing bullying are family background, individual character, and school environment. Bullying can take a form like averse nickname, alienating, wrong issue, expelling, physical violence and aggression (pushing, beating, kicking), intimidation, theft, and with religion, ethnic, or gender based. Several strategies to stop bullying are adequate monitoring to student, and giving effective and distinct punishment to performer. Better communication between parent and teacher also important to resolute this problem. Theater have to give positive role model and give reinforcement, and school must proactive to formulate social skill learning program, problem solving, conflict management, and character education.

Keywords: bullying and violence, school, teacher, student.

Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu usaha untuk membentuk manusia seutuhnya yang berkualitas, baik secara akademik maupun kepribadian. Sekolah menjadi salah satu institusi ujung tombak yang menentukan keberhasilan atau kegagalan pencapaian tujuan tersebut.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kelancaran pelaksanaan program pendidikan di sekolah, baik faktor intern dan ekstern.1 Faktor intern, yaitu segala sesuatu yang berasal dari siswa itu sendiri, seperti rasa senang terhadap pelajaran, motivasi belajar siswa, kesehatan fisik, psikis, serta inteligensi. Faktor ekstern adalah segala sesuatu yang berasal dari luar siswa seperti lingkungan sekolah; berupa desain tempat belajar, ketersediaan sarana dan prasana, dan yang tidak kalah pentingnya adalah faktor relasi atau hubungan yang terjalin antara siswa dengan siswa, serta siswa dengan guru. Istilah terakhir dapat disebut dengan istilah “partner” belajar, baik yang berasal dari teman sejawat maupun guru.

Teman di lingkungan pendidikan —di sekolah— idealnya berperan sebagai “partner” siswa dalam proses pencapaian program-program pendidikan. Keberadaannya dapat mendorong siswa lain agar lebih bersemangat dalam melakukan berbagai aktivitas. Hal ini senada dengan John W. Santrock2 yang
mengatakan bahwa ada enam fungsi pertemanan/ persahabatan di lingkungan pendidikan, di antaranya adalah sebagai kawan belajar/peer lesson, pendorong, dukungan fisik, dukungan ego, perbandingan sosial, dan keakraban/afeksi. Sementara itu, guru bagi Winkel3 berperan menjadi pembimbing, fasilitator, pengawas, dan teladan bagi siswa.

Baca selengkapnya: 10-Fenomena Kekerasan – ida novianti