Archive for the ‘Sekolah’ Tag

Problem Pengajaran Sastra di SMK

Teguh Trianton *)

*) Penulis adalah Sarjana Pendidikan (S.Pd.), pernah bekerja sebagai wartawan. Kini menjadi guru Bahasa dan Sastra Indonesia pada SMK Widya Manggala Purbalingga. Buku antologi yang memuat karyanya; puisi “Jiwajiwa
Mawar” (Bukulaela, 2003), “Untuk Sebuah Kasihsayang” (Bukulaela, 2004), antologi “Puisi Penyair Jawa Tengah: Pendhapa-1” (TBJT 2005). Kumpulan Cerpen (Kumcer) “Robingah Cintailah Aku” STAIN Purwokerto Press (Grafindo 2007), antologi “Temu Penyair Antar Kota: Pendhapa-5 (TBJT 2008).

Abstract: At high-school vocational education, literary lesson didn’t have yang proper portion. This is a serious problem, if education wishes to build nation character by humanizing human. The problem at vocational education is, at its 2004’s curriculum that Indonesian language lesson fully directed to one direction, namely using utilizing right and roper Indonesian language to communicate at work. Therefore, it’s the time for government and education department to reformulate or revitalize the real education goal, by equalizing all matters and lesson even if that lesson didn’t tested at national test (UN). Teacher also must apply curriculum with flexibility and wise, because curriculum inst a sacred text that annul interpretation and difference on its realization.

Keywords: vocational education, literary lesson, curriculum.

Pengantar

Hubungan bahasa dengan sastra Indonesia pada dasarnya serupa dua sisi mata uang logam. Keduanya saling ketergantungan, tidak dapat dipisahkan atau berdiri sendiri. Sastra merupakan sistem tanda yang mempunyai makna dengan bahasa sebagai mediumnya (Pradopo, 1995). Bahasa sendiri tidaklah netral, sebab sebelum jadi anasir dari bangunan karya sastra, bahasa telah memiliki arti tersendiri (meaning) berdasarkan konvensi bahasa tingkat pertama melalui pembacaan heuristik.

Sumbangan sastra sendiri terhadap khazanah bahasa Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Konvensikonvensi sastra dengan sendirinya memberikan sokongan yang besar bagi perkembangan bahasa.

Dalam pendidikan, nilai estetik dan puitik sastra selama ini diyakini mampu memompa dan membangun karakter manusia. Bahkan, mendiang Presiden Amerika Serikat John F. Kenedy (JFK) begitu yakin bahwa sastra mampu meluruskan arah kebijakan politik yang bengkok sehingga politikus yang mati tertembak ini mengatakan, “Ketika Politik Bengkok, Sastra akan Meluruskannya”.

Baca selengakapnya: 4-Problem Pengajaran Sastra – teguh trianton

Advertisements

Komersialisasi dan Tanggung Jawab Pendidikan: Sekelumit Pembicaraan

Wan Anwar *)

*) Penulis adalah Magister Humaniora (M.Hum.) lulusan S-2 Ilmu Sastra FIB Universitas Indonesia. Kini mengajar sastra di Jurusan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Tirtayasa (Untirta) Banten, dan menjadi editor majalah sastra Horison. Bukunya yang sudah ditulis: Sebelum Senja Selesai (2002), Sepasang Maut (2004), Kuntowijoyo dan Dunianya (2006).

Abstract: One of crucial pictures of our education recently is expensive education expense. This happen parallel with pragmatism mental on every side of social life. Commercialization and capitalism often become cause of human values destruction that actually should to be preserved by education. Therefore, we have to do awareness movement to change attitude and action of education’s actor. BHP and BHMN (State’s owner legal institution) status, that giving autonomy to education institution to raise fund from community shouldn’t accentuate commercialization of education at school or campus. Its
also prevail on entrepreneurial university that its network source from global market capitalism expansion. School and campus must revitalize its public and humanity responsibility to independent, quality, creative, and responsible human. According to Kuntowijoyo, education task and responsibility is on humanizing human (humanization) effort, liberation, and spiritualizing human (transcendent).

Keywords: pragmatism, education commercialization, capitalism, BHP-BHMN, entrepreneurial university, dehumanization, awareness movement, and humanization liberation-transcendent.

Pengantar
Salah satu potret dunia pendidikan yang belakangan ini menggelisahkan adalah mahalnya biaya pendidikan. Sementara itu, jumlah orang miskin semakin bertambah, jurang kaya-miskin tambah menganga. Rakyat miskin yang “dilumpuhkan” oleh berbagai kebijakan dan struktur negara, akhirnya
harus pula dilindas oleh dunia pendidikan. Hal ini berarti, langsung tidak langsung, pengelola negara mengkhianati rakyatnya, si kaya menghisap si miskin, kaum terpelajar menindas orang-orang yang tidak mampu mengenyam pendidikan.

Berkaitan dengan pernyataan di atas, perlu ditegaskan bahwa masalah penting dalam dunia pendidikan yang harus terus dibicarakan adalah pergumulan dua kekuatan tidak terhindarkan: kuasa yang menindas dan perjuangan manusia untuk bebas! Dalam pergumulan itulah, dua kenyataan mengemuka: pendidikan kita terpuruk, meskipun “idealisme” masih tampak bergelora dalam diri sebagian pelaku atau pengelolanya. Sejumlah potret carut-marut dunia pendidikan tidak sulit ditunjukkan dan berbagai kritik terhadap kenyataan itu hingga kini terus bergulir. Inilah yang cukup melegakan, masih ada sekelompok orang yang menghasratkan perbaikan di tengah kebanyakan orang tenggelam di dalam rawa-rawa kemapanan.

Baca selengkapnya: 3-Komersialisasi dan tanggung jawab pendidikan – wan anwar

Apresiasi Sastra Indonesia di Sekolah

Maman S. Mahayana *)

*) Penulis adalah Magister Humaniora (M.Hum.), Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, dan kini tengah menempuh studi Doktor (S-3) di Malaysia.
Abstract:

The essence of literary learning is appreciation, and that only can be realized if teacher and student read those literary works. There’s numerous literary works around the world, especially traditional literary works like legends and
folktales. Why those literary treasures have been abandoned by literary learning at school? Therefore, teachers must show their faith and bravery to deliver learning matters that they feel good, appropriate, and joyful. In curriculum, KTSP (unit-learning curriculum) have give freedom to translate the Standard of competence and Basic Competence. There’s local content and matters that appropriate with local social-cultural condition?

Keywords: literary learning, appreciation, KTSP, legends and folktales.

Pendahuluan

Apakah pengajaran sastra (Indonesia) di sekolah bertujuan agar siswa; (a) menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan (b) menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia,1 atau agar siswa memperoleh pengetahuan; (a) tentang sastra dengan berbagai teori; dan (b) nama pengarang, judul, dan angkatan-angkatan?

Jika merujuk pada tujuan yang hendak dicapai pada tujuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)2 yang mulai diberlakukan tahuan ajaran 2006—2007 dan yang pemberlakuannya didasarkan pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 dan 23/2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, maka sesungguhnya KTSP memberi peluang yang lebih leluasa bagi guru dan pihak sekolah untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensinya.3 Akan tetapi, dunia pendidikan (baca: hidup) di Indonesia sering kali serba tidak terduga. Seloroh ganti menteri, ganti kurikulum-–yang selama ini selalu menjadi kenyataan—hendaknya tidak lagi terjadi.

Baca selengkapnya: 2-Apresiasi Sastra Indonesia – maman s mahayana

Fenomena Kekerasan di Lingkungan Pendidikan

Ida Novianti *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), dosen tetap di Jurusan Hukum Islam (Syariah) STAIN Purwokerto.

Abstract:

Friend at school ideally have role as a partner, to motivate other student to do learning activity. Meanwhile, teacher role is as mentor, facilitator, supervisor, and role model for student. However, fact shows that bullying and violence case at school reaching frightened level. Bullying is a serious problem that can cause traumatic effect to the victim. Several factors causing bullying are family background, individual character, and school environment. Bullying can take a form like averse nickname, alienating, wrong issue, expelling, physical violence and aggression (pushing, beating, kicking), intimidation, theft, and with religion, ethnic, or gender based. Several strategies to stop bullying are adequate monitoring to student, and giving effective and distinct punishment to performer. Better communication between parent and teacher also important to resolute this problem. Theater have to give positive role model and give reinforcement, and school must proactive to formulate social skill learning program, problem solving, conflict management, and character education.

Keywords: bullying and violence, school, teacher, student.

Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu usaha untuk membentuk manusia seutuhnya yang berkualitas, baik secara akademik maupun kepribadian. Sekolah menjadi salah satu institusi ujung tombak yang menentukan keberhasilan atau kegagalan pencapaian tujuan tersebut.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kelancaran pelaksanaan program pendidikan di sekolah, baik faktor intern dan ekstern.1 Faktor intern, yaitu segala sesuatu yang berasal dari siswa itu sendiri, seperti rasa senang terhadap pelajaran, motivasi belajar siswa, kesehatan fisik, psikis, serta inteligensi. Faktor ekstern adalah segala sesuatu yang berasal dari luar siswa seperti lingkungan sekolah; berupa desain tempat belajar, ketersediaan sarana dan prasana, dan yang tidak kalah pentingnya adalah faktor relasi atau hubungan yang terjalin antara siswa dengan siswa, serta siswa dengan guru. Istilah terakhir dapat disebut dengan istilah “partner” belajar, baik yang berasal dari teman sejawat maupun guru.

Teman di lingkungan pendidikan —di sekolah— idealnya berperan sebagai “partner” siswa dalam proses pencapaian program-program pendidikan. Keberadaannya dapat mendorong siswa lain agar lebih bersemangat dalam melakukan berbagai aktivitas. Hal ini senada dengan John W. Santrock2 yang
mengatakan bahwa ada enam fungsi pertemanan/ persahabatan di lingkungan pendidikan, di antaranya adalah sebagai kawan belajar/peer lesson, pendorong, dukungan fisik, dukungan ego, perbandingan sosial, dan keakraban/afeksi. Sementara itu, guru bagi Winkel3 berperan menjadi pembimbing, fasilitator, pengawas, dan teladan bagi siswa.

Baca selengkapnya: 10-Fenomena Kekerasan – ida novianti

Guru Dituntut, Guru Menuntut

Muhammad Irsyad *)
*) Penulis adalah Doktorandus dan Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I.), dosen tetap di jurusan Pendidikan (Tarbiyah) STAIN Purwokerto.

Abstract:

the emergence of Act number 14, 2005 (Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005) actually mean answer question about teacher problems. Until now, teacher always demanded to have professional skill and competency. However, on the other side, the consequence accepted did not equal with effort exertion for teacher profession. Teacher and lecturer act try to answer several problems about right and obligation of teacher and lecturer, even its implementation still far from what is teacher hoping and demanded.

Keywords: teacher, Profession, Competency.

Pendahuluan
Keberadaan guru senantiasa menjadi isu menarik dalam diskursus pendidikan di Indonesia. Kedudukannya senantiasa dikaitkan dengan kualitas hasil pendidikan itu sendiri. Jika suatu pendidikan memiliki kualitas baik, maka guru mendapatkan pujian karena dianggap berhasil melakukan proses pendidikan dengan baik. Sebaliknya, jika suatu pendidikan memiliki kualitas tidak baik, maka guru akan “panen” kritikan, bahkan cemoohan karena dianggap tidak becus melaksanakan proses pendidikan. Tidak salah kiranya jika masyarakat menilai sebuah sekolah, pertama-tama dengan menengok deretan nama-nama gurunya. Mulai dari gelar kesarjanaannya, tingkat pendidikannya, kiprahnya di masyarakat, ketenarannya, dan sederet pertimbangan lainnya. Hal ini bisa diamati pada waktu menjelang pendaftaran siswa baru, baik pendidikan tingkat dasar maupun pendidikan tingkat menengah.

Isu mengenai guru semakin menarik dan mencapai puncaknya, ketika pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Isu tersebut menjadi menarik karena dalam undang-undang tersebut memberi sejuta harapan bagi guru untuk memperbaiki masa depannya. Betapa tidak, guru yang selama ini identik dengan “penderitaan”, dalam undang-undang tersebut dijanjikan akan dinaikkan dua kali lipat penghasilannya, ditambah mendapatkan kemaslahatan-kemaslahatan lainnya, seperti tunjangan khusus bagi yang bertugas di daerah terpencil, tunjangan kesehatan, serta bantuan pendidikan bagi yang ingin melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Di lain sisi, dalam undang-undang tersebut mensyaratkan beberapa hal yang harus dipenuhi bagi guru jika ingin memperoleh penghasilan berlipat-lipat dan tunjangan-tunjangan dimaksud, seperti tingkat pendidikan yang minimal S-1 atau Diploma IV dan lulus uji kompetensi.

Baca selengkapnya: 2-Guru Dituntut, guru menuntut – M irsyad