Archive for the ‘pendidikan tinggi’ Tag

Epistemologi Pendidikan Islam:Melacak Metodologi Pengetahuan Perguruan Tinggi Islam Klasik

Musnur Hery *)

*) Penulis adalah Doktor lulusan UIN Sunan Kalijaga (2008), Dosen Fak. Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang. Bukubukunya yang telah terbit: Filsafat Wacana, Terjemahan dari buku Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse and the Surpluss of Meaning, Yogyakarta: Ircisod, 2002. Hermeneutika, Terjemahan dari Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermarcher, Dilthey, Heidegger and Gadamer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

Abstract:

Islamic higher college not only limited to higher education that famous at Islamic history like madrasah (e.g. Nizamiyah), and al-Jami’ah (e.g. al-Azhar). Yet, Islamic higher college is the implementation of learning process that can be categorized in higher education stage, that being practiced in Moslem society, even still in non-formal or informal form before madrasah existence. Several epistemologies branch indeed take place at formal institution, while some epistemologies branch theoretically applied at formal institution, but it’s practiced at non-formal institutions. These non-formal institutions were still reflecting Islamic higher education level.

Keywords: Islamic higher college, madrasah, al-Jami’ah, non-formal, informal, epistemology.

Pendahuluan

Harus ditegaskan terlebih dahulu, sebelum mengulas epistemologi di perguruan tinggi Islam, bahwa yang dimasudkan dengan perguruan tinggi Islam tidak hanya sebatas lembaga pendidikan tinggi yang sudah masyhur dalam sejarah pendidikan Islam seperti madrasah (misalnya Nizamiyah), dan al- Jami’ah (seperti al-Azhar). Dua lembaga terakhir ini merupakan pengembangan selanjutnya dari pendidikan tinggi Islam. Namun, perguruan tinggi Islam adalah pelaksanaan proses belajar-mengajar yang dapat dikategorikan dalam jenjang pendidikan tinggi, yang dipraktikkan dalam mayarakat Islam, meskipun masih dalam bentuk yang non-formal atau informal sebelum kehadiran madrasah.

Hal ini berarti, sebagaimana yang dikatakan Bayard Dodge, proses belajar-mengajar yang masuk kategori jenjang pendidikan tinggi dalam lembaga masjid, majlis maupun halaqah ataupun di lembagalembaga lain dapat dikategorikan sebagai perguruan tinggi Islam. Penegasan ini dirasakan perlu karena memang yang menjadi fokus telaah bukanlah persoalan manajemen, organisasi dan profesionalisme kelembagaan, melainkan adalah bagaimana sumber pengetahuan di perguruan tinggi tersebut? Cara memperoleh pengetahuan tersebut serta pengembangannya.

Baca selengkapnya: 7-Epistemologi Pendidikan Islam – musnur hery

Pengembangan Instrumen Evaluasi Domain Afektif

Rohmad Qomari *)

*) Penulis menyelesaikan S-1 di IAIN Sunan Kalijaga Fakultas Tarbiyah dan S-2 Universitas Negeri Yogyakarta. Sejak Oktober 2003 menduduki jabatan Lektor Kepala di STAIN Purwokerto. Sekarang sedang mengikuti Program Doktor By Research di UIN Yogyakarta.

Abstract:

To carry out evaluation comprehensively, we need appropriate instrument that suitable with domain that being evaluated. Evaluation instrument development with test has been conducted by experts. These instruments were only suitable to measure cognitive domain and part of psychomotor domain. To measure affective domain, we need to develop non-test evaluation instrument (alternative test). The development of this instrument tends to more difficult and complicated compare with instrument test evaluation instrument. Therefore, it does necessitate a through study to derive and elaborate affective domain to specific aspect to develop valid and reliable instrument.

Keywords: evaluation instrument, affective domain, reliable.

Pendahuluan
Pembelajaran adalah perubahan dalam diri seseorang yang merupakan hasil pengalaman. Perubahan pada seseorang tersebut dapat dilihat pada aspek behavioral dan kognitif. Para ahli psikologi behavioral seperti J.B. Watson, E.L. Thorndike, dan B.F. Skinner menegaskan bahwa pembelajaran merupakan perubahan perilaku, yang dengannya seseorang bertindak dalam satu situasi tertentu. Sebaliknya, para psikolog kognitif seperti Jean Piaget, Robert Claser, John Anderson, dan David Ausumbel mengatakan bahwa pembelajaran merupakan proses internal yang tidak dapat diobservasi secara langsung. Menurut pandangan kognitif pembelajaran merupakan perubahan dalam kemampuan seseorang untuk me0respons satu situasi tertentu.1

Terdapat bermacam-macam model desain pembelajaran, misalnya model yang dikembangkan oleh Winarno Surakhmad, Winkel, Hisyam Zaini dkk., Briggs dan Wager, Gerlach dan Ely, dan Kemp.2 Dari model-model desain tersebut komponen dan polanya antara yang satu dengan lainnya terdapat perbedaan. Meskipun demikian, dari berbagai desain pembelajaran tersebut terdapat komponen-komponen yang termasuk komponen pokok, yaitu tujuan, materi, strategi, media, dan evaluasi. Tujuan3 adalah sesuatu yang ingin dicapai; materi adalah bahan yang dipelajari siswa atau diajarkan guru kepada siswa; strategi adalah langkah-langkah yang ditempuh siswa dan/atau guru dalam mempelajari (guru=mengajarkan) materi pelajaran untuk mencapai tujuan; media adalah sarana untuk memudahkan pencapaian tujuan; dan evaluasi adalah proses untuk mengetahui
pencapaian hasil dan efektivitas pembelajaran. Dengan demikian, evaluasi merupakan salah satu komponen pokok yang selalu ada dalam pembelajaran. Dengan kata lain, pembelajaran tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan evaluasi.

Baca selengkapnya: 7-pengembangan-instrumen-evaluasi-domain-afektif-rohmad-qomari

Pengembangan STAIN: antara Tantangan dan Peluang di Indonesia

Moh. Roqib *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), dosen tetap Jurusan Pendidikan (Tarbiyah) STAIN Purwokerto, sedang menyelesaikan program Doktor (menunggu promosi) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Abstract:

If we notice Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 about Teacher and Lecturer, and Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 about National Standard of education, we realize that
it’s a chance for PTAIN (State Islamic Higher Education) to strengthen its position, politically or socially. Here, role of alumni, academician, and Department of Religion officer that in charge of education, is to build plan and concrete action using all potential and involved every institution related. With this fine planning and cooperation of every institution, solution about Islamic education will be found.

Keywords: government act, State Islamic Higher Education, Department of Religion.

Pendahuluan
Pada awal tahun 1990-an, penulis mengikuti Pendidikan dan Latihan Kepemimpinan Mahasiswa Se-Indonesia di Kaliurang Yogyakarta mewakili Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga. Saat dibuka sesi tanya-jawab dengan penceramah, Prof. Muin Umar,1 penulis mengajukan pertanyaan tentang problem pengembangan PTAI atau IAIN di antaranya problem kelembagaan
yang terkait dengan pengakuan dan pembiayaan. Konon anggaran 14 IAIN se-Indonesia sama dengan anggaran satu IKIP Negeri Yogyakarta.2 Hal ini disinyalir karena perbedaan departemen sehingga berbeda pula kebijakan dan anggarannya, padahal sama-sama Institut. Bagaimana jika IAIN ini disatukan dalam satu naungan departemen, yaitu IAIN berada di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan3 sama dengan IKIP negeri agar IAIN mendapatkan perlakukan, pengakuan, dan anggaran yang sama? Prof. Muin Umar menjawab tidak semudah itu memindahkan IAIN dari Departemen Agama ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, karena
IAIN memiliki sejarah yang unik dan perjuangan panjang. Jasa para pendiri IAIN dan Departemen Agama tidak mungkin dilupakan.
Penulis memahami jawaban Prof. Muin sebagai orangtua yang pernah mengalami detik-detik menegangkan saat memperjuangkan status IAIN di Departemen Agama dan IAIN sebagai sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang mendapatkan naungan politik dan anggaran dari Negara. Perjuangan berat yang telah dilakukan tidak mudah untuk dihapus begitu saja hanya karena anggaran yang kecil dan pengakuan yang setengah hati. Secara psikis, peralihan IAIN ke Departemen Pendidikan mengesankan bahwa IAIN telah pindah tangan yang terkesan negatif karena ada perasaan kalah dan rendah.

Baca selengkapnya: 4-pengembangan-stain-antara-tantangan-dan-peluang-moh-roqib

Technology and Higher Education: Opportunities and Challenges for the New Era

Patricia J. Gumport & Marc Chun *)

*) Penulis adalah peneliti di National Center for Postsecondary Improvement, Stanford University, School of Education. Versi modifikasi esai ini telah diterbitkan sebagai satu bab dalam American Higher Education in the Twenty-first Century: Social, Political and Economic Challenges, disunting oleh Philip Altbach, Robert Berdahl, dan Patricia J. Gumport (Baltimore, MD: Johns Hopkins University Press, 1999).

Abstrak:

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah memungkinkan pendekatan baru terhadap pengajaran, pembelajaran, dan riset ilmiah. Paper ini membahas bagaimana teknologi menimbulkan dampak pada pendidikan tinggi, dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan tinggi dan konteks sosial yang lebih luas. Lima hal yang penting dibahas adalah sebagai berikut: (1) pendidikan tinggi dan teknologi dalam masyarakat modern; (2) dampak historis teknologi terhadap pendidikan; (3) bidang-bidang pendidikan yang tersentuh kemajuan teknologi terkini; (4) pertimbangan kebijakan pemerintah dalam bidang teknologi; and (5) keengganan terhadap perubahan teknologis dalam pendidikan tinggi. Kemajuan teknologi telah memperluas akses dan penyesuaian pembelajaran dengan kebutuhan koginitif dan tingkat kesiapan pembelajar. Satu contoh adalah layanan perpustakaan digital, yang bukan sekadar penyimpan kumpulan pustaka, namun juga membuka akses yang lebih luas terhadap sumber-sumber informasi lain, misal lewat cyberspace.

Kata Kunci: teknologi, pendidikan tinggi.

 

Introduction

It is difficult to overestimate the influence of technology on the everyday life of academe. The extensive reach of technology into higher education is captured by briefly recounting the process of writing this chapter. For much of the time that the chapter was being written, we were traveling, and therefore communicated with each other and with the editor via phone, voice mail and e-mail. References and background information were located through computerized searches of the library holdings, by reviewing on-line journals, and via the World Wide Web. Drafts of the chapter flew through phone lines as electronic versions and as faxes. Not only did technology provide access to the information we used, but it also shaped the very way in which we collaborated. In other words, both the product and process were heavily influenced by technology. However, despite the many ways technology facilitated this process, there were also numerous incidents of technological difficulties: problems converting files between computers, inability to access e-mail, and network servers that went down. An irony, of course, is despite the fact that the chapter acknowledges the power of technological advancements and that we have come to rely on them, the end result is not distributed on CDROM or posted on a web page, but is of course a chapter in a book, a medium now considered a low-tech means of disseminating knowledge. Although many of us may take for granted the ways that technology hasaltered academic work, such experiences remind us that it is useful to step back and reflect on the nature of these changes. 

As we near the turn of the millennium, advancements in information technology and communications technology have made possible new approaches to teaching, learning, and research that were previously unimagined. While some advancements have been wholeheartedly embraced as valuable educational innovations, others have been less enthusiastically received. The goal of this chapter is to discuss how technology potentially impacts higher education, while acknowledging its interdependence with a complex array of opportunities and pressures that reside in the higher education system and in the wider societal context. We focus our analysis on five areas: (1) higher education and technology in modern society; (2) the historical impact of technology on education; (3) the arenas of impact for contemporary advancements in higher education; (4) wider policy pressures and legitimacy considerations; and (5) resistance to widespread technological change within higher education.1

Read more: 9-technology-and-higher-education-opportunities-and-challenges-patricia