Archive for the ‘pendidikan multikultural’ Tag

Sekolah sebagai Tempat Pesemaian Nilai Multikulturalisme

Anwar Efendi *)

*) Penulis adalah dosen di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Yogyakarta, kini sedang menempuh program Doktor di Universitas Negeri Malang.

Abstract:

A nation’s reality showing cultural diversity, directed us to grasp multiculturalism principle. In this principle, there’s consciousness that nation is not singular, but plural, consist of many different components. Historical realities showing that Indonesian nation stand in midst cultural diversity. We can call Indonesia as most complete plural country in
the world, beside America. In America, we know et pluribus unum slogan, resemble with bhineka tunggal ika, literally stand for many but one. Latest condition showed that cultural diversity became source of conflict between nations-components. Multidimensional crisis suffered by Indonesian nation still not ending yet. Therefore, we need explicit and clear action and step to maintain society’s attitude to care, respect, and understand cultural diversity values that become fundament of this nation and state. One of its steps is make cultural pluralism as educational strategy at school.

Keywords: multiculturalism and multiculturalism education.

Pengantar
Sebuah bangsa terbentuk apabila dalam kelompok manusia itu terdapat nilai-nilai yang sama dan berkeinginan kuat untuk hidup bersama. Nilai-nilai yang sama ini dapat benar-benar sama yang dapat berakar dari kebudayaan yang lebih kurang sama, dapat pula berupa aspirasi untuk bersatu dengan dilandasi realita bahwa dalam kesamaan dan kebersamaan itu pada hakikatnya terdapat berbagai perbedaan. Hal itulah yang menjadi salah satu alasan ditetapkan asas yang dianut oleh suatu bangsa. Penetapan suatu asas yang akan dianut tentu saja berdasarkan kesepakatan bersama antarkomponen penting dalam bangsa tersebut.1

Penetapan untuk memilih suatu asas disesuaikan dengan realitas dalam bangsa itu sendiri. Realitas suatu bangsa yang menunjukkan adanya kondisi keanekaragaman budaya mengarahkan pada pilihan untuk menganut asas multi-kulturalisme. Dalam asas multikulturalisme ada kesadaran bahwa bangsa itu tidak tunggal, tetapi terdiri atas sekian banyak komponen yang berbeda. Multikluturalisme menekankan prinsip tidak ada kebudayaan yang tinggi, dan tidak ada kebudayaan yang rendah di antara keragaman budaya tersebut. Semua kebudayaan pada prinsipnya sama-sama ada. Oleh karena itu, harus diperlakukan dalam konteks duduk sama rendah dan berdiri sama
tinggi.

Asas itu pulalah yang diambil oleh Indonesia, yang kemudian dirumuskan dalam semboyan bhineka tunggal ika. Pernyataan tersebut mengandung makna meskipun berbeda-beda tetapi ada keinginan untuk tetap menjadi satu. Indonesia adalah potret sebuah negeri yang memiliki keragaman
budaya. Dalam pandangan Koentjaraningrat Indonesia dapat disebut sebagai negara plural terlengkap di dunia di samping Amerika. Di Amerika dikenal semboyan et pluribus unum, yang mirip dengan bhineka tunggal ika, yang berarti banyak namun hakikatnya satu.2

Baca selengkapnya: 5-sekolah-sebagai-tempat-pesemaian-nilai-multikulturalisme-anwar-efendi

Advertisements

Pendidikan Islam dan Pluralisme Beragama

M. Slamet Yahya *)

*) Penulis adalah magister Agama (M.Ag.), dosen tetap di Jurusan Pendidikan (Tarbiyah) STAIN Pruwokerto.

Abstract:

Islam is a religion that has prophetic mission, namely rahmatan lil ‘alamin, blessing to universe. To realize this mission, Islamic education must able to produce outputs that have inclusive character, pluralist,  and appreciative to pluralism. Pluralism in Islam not only normatively supported by religious texts, but also on praxis-empiric level. Islam also has practiced  life orientation  that  reflected  religious plurality. Therefore, on global scale, acknowledgment  to  religious plurality became essential and significant matter. To realize this, it’s urgently needed wisdom to suppress emotional and radical attitude on everyday life.

Keywords: Islamic education, religious plurality.

Pendahuluan
Realitas dunia yang plural dan multikultural semakin disadari dan diyakini oleh umat manusia. Kesadaran ini muncul karena umat manusia telah mampu melihat jumlah etnis atau bangsa yang beragam  di  dunia  ini.  Kesadaran  itu  pula  mengalami  perkembangan  sesuai  dengan  episteme
jamannya.1  Akan  tetapi,  tampaknya  realitas  yang  plural  dan  multikultural  ini  belum  disadari  sepenuhnya —dan kalaupun disadari—masih enggan diterima di  Indonesia yang masyarakatnya  multi etnik, agama, suku, dan warna kulit.

Kondisi  semacam  ini  sebetulnya  memiliki  tingkat  sensitivitas  yang  cukup  tinggi  untuk munculnya  berbagai  konflik. Keadaan  ini  ibarat  hutan  di musim  kemarau  panjang,  yang  siap terbakar kapan saja, ketika ada api yang menyulut (baik sengaja ataupun tidak). Hal ini merupakan tantangan  tersendiri dalam sejarah perjalanan negara kita karena berbagai kepentingan  individual seperti  jabatan,  maupun  kelompok  seperti  kepentingan  partai  politik  dan  golongan,  sering dimanfaatkan pihak-pihak  yang  sengaja  membangkit-bangkitkan  sensitivitas  konflik  dan  menyulutnya hingga bergema ke seluruh negeri, bahkan ke luar negeri.2

Selain  itu,  kita  dapat  melihat  bahwa  kehidupan  manusia  ditandai  dengan  kepastian  dan ketidakpastian karena agama. Manusia bisa damai dan bersaudara karena agama, bisa  resah dan pecah karena agama pula.3
Ada orang menolak beragama karena melihat agama sebagai sumber
konflik, perpecahan, dan peperangan. Pertikaian yang terjadi di Eropa, Afrika maupun Asia, hampir selalu diwarnai karena perbedaan agama (paling tidak perbedaan paham tentang keagamaan).4

Di lain pihak, tidak ada satu pun agama di muka bumi ini yang mengajarkan, menginginkan, serta  merestui  terjadinya  tindak  kekerasan,  seperti  pembunuhan,  perampokan,  penodongan, pemerkosaan,  atau  pun  bentuk  anarkhisme  lainnya. Agama merupakan  kebenaran  hakiki  yang bersifat perennial, kebenarannya  juga bersifat  timeless  (istilah H. Smith). Agama adalah  sesuatu yang absolut dan eternal, yang berbicara tentang nilai-nilai, arti, dan tujuan kehidupan, serta hal-hal yang berhubungan dengan kualitas spiritual (spiritual quality) seseorang.5

Baca selengkapnya: 1-pendidikan-islam-dan-pluralisme-beragama-m-slamet-yahya

Dari Teacher-Centered Learning ke Student-Centered Learning

Rahmini Hadi *)

*) Penulis  adalah  sarjana  ekonomi  manajemen,  staf  administrasi  di  Pusat  Sumber  Belajar (PSB)  Sekolah Tinggi Agama  Islam Negeri  (STAIN) Purwokerto.  Saat  ini  tengah menempuh  pendidikan di Program Magister Sains Ekonomi Manajemen, Program Pascasarjana Universitas  Jenderal Soedirman.

Abstract:

Learning  system  in  almost  every  higher  education  in  Indonesia  still  one-directional  have character, namely  lesson giving by  lecturer. This  learning system known as Teacher Centered Learning (TCL)  model,  that  unfortunately  make  passive  student  that  only  listening  lecture  so  his  creativity underdeveloped  or  even  uncreative.  Therefore,  this  system  must  be  change  with  Students  Centered Learning  (SCL)  learning  system model.  In SCL  learning  system,  student being  demanded active doing
assignment  and  discussed  with  lecture  as  facilitator.  If  student  active,  their  creativity  will  develop  and grow. This condition will encourage  lecturer  to advance  their knowledge and  lesson content, adjusting  it
with  science  and  technology  improvement.

Keywords: learning  system,  higher  education,  Teacher Centered Learning, Students Centered Learning.

Pendahuluan
Apabila kita amati cara-cara seseorang dalam belajar, tampak bahwa terdapat variasi di dalam cara belajarnya. Ada yang belajar sambil berada pada kondisi yang ramai, misalnya mendengarkan musik  atau menonton  televisi. Sebaliknya, ada yang hanya dapat belajar bila suasana sunyi sehingga suara berisik sedikit saja menjadi gangguan dan membuyarkan konsentrasi. Ada pula yang dapat memahami materi hanya dengan duduk tenang, mendengarkan dosen menjelaskan materi perkuliahan. Namun, ada
cara  belajar  dengan membaca  berulang-ulang  sehingga  ada  yang  betah  dalam waktu  relatif  lama membaca buku di perpustakaan. Variasi  cara belajar  lain  adalah mendiskusikan  setiap materi yang sedang berusaha dipelajari, yang berimplikasi pada waktu yang dibutuhkan untuk kegiatan  tersebut. Bahkan,  ada lagi yang tidak hanya mencatat tetapi mencorat-coret catatannya sedemikian rupa seakan-akan ingin memvisualisasikan pemahamannya.

Baca selengkapnya: 9-dari-teacher-centered-learning-student-centereded-learning-rahmini-hadi

Urgensi Implementasi Pendidikan Multikultural di Sekolah

Iis Arifudin *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), dosen UIN Bandung, dan DPK di Fakultas Agama Islam UNWIR
Indramayu.

Abstract:

Indonesian nation consist of many kind of culture, ethnic, race, religion, etc. At one side
that diversity is a treasure of Indonesian, but at other side it triggers social conflict. Conflict that
happens about three decade of New Order power is because our education always teaching similarity
(uniformity) and averse plurality. Therefore, this paper suggested multicultural education as solution to
this problem. Multicultural education has to be implemented on learning process at school. It not
necessarily became separated lesson, but can integrated to every lesson. Multicultural education is a
process to cultivating attitude to respect each other, honest, and tolerant to cultural diversity that exit
on the plural society. With multicultural education we hope there’s toughness and flexibility of this
nation to face the clash of social conflict.

Keywords: multicultural, respect to diversity, and tolerance.

Pendahuluan
Pelaksanaan pemerintahan Orde Baru selama tiga dasawarsa menerapkan kebijakan yang
sentralistis dengan pengawalan yang ketat terhadap isu perbedaan berakibat telah menghilangkan
kemampuan masyarakat untuk memikirkan, membicarakan, dan memecahkan persoalan yang
muncul dari perbedaan secara terbuka, rasional, dan damai. Kekerasan antarkelompok yang
meledak secara sporadis di akhir tahun 1990-an di berbagai kawasan di Indonesia menunjukkan
rentannya rasa kebersamaan yang dibangun dalam negara-bangsa, betapa kentalnya prasangka
antarkelompok, dan betapa rendahnya saling pengertian antarkelompok. Hal ini tidak bisa lepas dari
proses pembelajaran yang dilaksanakan pada masyarakat Indonesia yang cenderung kurang
menekankan pentingnya menghargai perbedaan. Sejak dulu pendidikan kita mengajarkan dan
menekankan persamaan (keseragaman) bukan menghargai perbedaan.
Indonesia adalah suatu negara yang terdiri dari berbagai kelompok etnis, budaya, suku, dan
agama sehingga Indonesia secara sederhana dapat disebut sebagai masyarakat multikultural. Akan
tetapi, di lain pihak, realitas multikultural tersebut berhadapan dengan kebutuhan mendesak untuk
merekonstruksi kembali kebudayaan nasional Indonesia yang dapat menjadi integrating force yang
mengikat seluruh keragaman etnis dan budaya tersebut.
Pluralisme pasti dijumpai dalam setiap komunitas masyarakat. Teristimewa pada saat ini, ketika
teknologi transportasi dan komunikasi telah mencapai kemajuan pesat. Kemajemukan merupakan
inevitable destiny di tingkat global maupun di tingkat bangsa-negara dan komunitas. Secara teknis
dan teknologis, kita telah mampu untuk tinggal bersama dalam masyarakat majemuk. Namun
demikian, spiritual kita belum memahami arti sesungguhnya dari hidup bersama dengan orang yang
memiliki perbedaan kultur yang antara lain mencakup perbedaan dalam hal agama, etnis, dan kelas
sosial.

Baca artikel selengkapnya: 6-urgensi-implementasi-pendidikan-multikultural-di-sekolah-iis-arifudin