Archive for the ‘pendidikan moral’ Tag

Peranan Keluarga dalam Pendidikan Emosional Anak

Yuni Setia Ningsih *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), Dosen matakuliah Metodologi Studi Islam, Fak. Tarbiyah, IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Abstract:

Family is a tiny scope that will bring someone to social life. The fine social order influenced by condition of every family inside it, because society is an accumulation and reflection of lifestyle, world view, even way of thinking of every individual in a family. Good or worse community at social life is depending on family condition. Family is playing important role to direct
children to become good moral generation on and beneficial for society. Therefore, to realize that goal, children emotional education from early age at family scope is requirement.

Keywords: family, children emotional education.

Pendahuluan
Keluarga yang mampu mempersiapkan generasi yang baik adalah keluarga yang mampu memberikan pendidikan sikap sehingga emosionalnya terarah dan proporsional. Apabila pendidikan mereka terabaikan dan pembentukan pribadi mereka dilakukan secara tidak proporsional, maka mereka akan menjadi bencana bagi orangtua dan gangguan bagi masyarakat dan umat manusia secara keseluruhan.1 Pendidikan fase pertama ini menentukan sikap dan mental anak dalam berinteraksi dengan alam lingkungannya. Kekokohan pondasi mental dan kejiwaan pada fase awal akan menjadi filter dalam menghadapi berbagai persoalan hidupnya di kemudian hari.2

Keluarga sebagai lembaga terkecil di dalam masyarakat diharapkan mampu menyiapkan mental anak dalam menghadapi hidupnya pada masa mendatang. Apabila didikan anak dalam keluarga baik dan terarah, maka kelak anak akan tumbuh dewasa sebagai manusia yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat.3 Untuk mempersiapkan generasi yang baik tersebut tidaklah mudah. Orangtua sebagai pendidik di lingkup keluarga harus memiliki pengetahuan tentang perkembangan emosional anak dan juga harus mengetahui kewajibannya dalam mendidik anak. Oleh karena itu, tulisan ini akan membicarakan tentang pembentukan keluarga yang ideal sehingga dapat memberikan pengaruh terhadap anak, perkembangan emosional anak, dan peranan keluarga dalam pendidikan emosional anak.

Baca selengakpnya: 5-Peranan Keluarga dalam Pendidikan Emosional Anak – yuni setia ningsih

Kepemimpinan Pendidikan: Tinjauan terhadap Teori Sifat dan Tingkah Tingkah-laku

Muh. Hizbul Muflihin *)

*) Penulis adalah Magister Pendidikan (M.Pd.), dosen tetap dan Ketua Prodi KI, STAIN Purwokerto.

Abstract:

The substance of education is learning activity. The key of education successfulness is correlation and interaction between teacher and headmaster as top level leader at school. The ability or competence of school leader (headmaster) to develop teacher spirit or other employee is depending on character and ways shown to them. Its mean that good manner and how to treat other team-member has significant effect to his success to implement leadership at school. Education leader, at every level—headmaster, vice, teacher or other official—must able to play role as EMASLIM; namely educator, manager, administrator, supervisor, leader, innovator, and motivator.

Keywords: learning activity, character and manner, education leadership.

Pendahuluan
Sekolah sebagai salah satu bentuk organisasi formal terdiri dari unsur tujuan, sekumpulan orang, serta adanya hierarki kewenangan. Untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan, sekaligus agar dapat menggerakan dan memotivasi orang-orang yang terlibat dalam institusi tersebut, maka diperlukan adanya suatu kepemimpinan.
Karby1 menyatakan bahwa kepemimpinan atau leadership berarti membimbing, artinya proces of managing organization, yaitu proses yang berlangsung dalam pengendalian organisasi. Soekarno2 juga menyatakan bahwa kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas atau tindakan untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang-orang dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan. Selain itu, kepemimpinan juga bisa diartikan dengan seni mengkoordinasikan dan mendorong orang atau kelompok guna mencapai tujuan yang dikehendaki.3

Baca selengkapnya: 6-kepemimpinan-pendidikan-muflihin

Dari Teacher-Centered Learning ke Student-Centered Learning

Rahmini Hadi *)

*) Penulis  adalah  sarjana  ekonomi  manajemen,  staf  administrasi  di  Pusat  Sumber  Belajar (PSB)  Sekolah Tinggi Agama  Islam Negeri  (STAIN) Purwokerto.  Saat  ini  tengah menempuh  pendidikan di Program Magister Sains Ekonomi Manajemen, Program Pascasarjana Universitas  Jenderal Soedirman.

Abstract:

Learning  system  in  almost  every  higher  education  in  Indonesia  still  one-directional  have character, namely  lesson giving by  lecturer. This  learning system known as Teacher Centered Learning (TCL)  model,  that  unfortunately  make  passive  student  that  only  listening  lecture  so  his  creativity underdeveloped  or  even  uncreative.  Therefore,  this  system  must  be  change  with  Students  Centered Learning  (SCL)  learning  system model.  In SCL  learning  system,  student being  demanded active doing
assignment  and  discussed  with  lecture  as  facilitator.  If  student  active,  their  creativity  will  develop  and grow. This condition will encourage  lecturer  to advance  their knowledge and  lesson content, adjusting  it
with  science  and  technology  improvement.

Keywords: learning  system,  higher  education,  Teacher Centered Learning, Students Centered Learning.

Pendahuluan
Apabila kita amati cara-cara seseorang dalam belajar, tampak bahwa terdapat variasi di dalam cara belajarnya. Ada yang belajar sambil berada pada kondisi yang ramai, misalnya mendengarkan musik  atau menonton  televisi. Sebaliknya, ada yang hanya dapat belajar bila suasana sunyi sehingga suara berisik sedikit saja menjadi gangguan dan membuyarkan konsentrasi. Ada pula yang dapat memahami materi hanya dengan duduk tenang, mendengarkan dosen menjelaskan materi perkuliahan. Namun, ada
cara  belajar  dengan membaca  berulang-ulang  sehingga  ada  yang  betah  dalam waktu  relatif  lama membaca buku di perpustakaan. Variasi  cara belajar  lain  adalah mendiskusikan  setiap materi yang sedang berusaha dipelajari, yang berimplikasi pada waktu yang dibutuhkan untuk kegiatan  tersebut. Bahkan,  ada lagi yang tidak hanya mencatat tetapi mencorat-coret catatannya sedemikian rupa seakan-akan ingin memvisualisasikan pemahamannya.

Baca selengkapnya: 9-dari-teacher-centered-learning-student-centereded-learning-rahmini-hadi

Penggunaan Bahasa Asing dalam Konteks Pendidikan Bahasa di Indonesia

Suwartono *)

*) Penulis adalah Dosen Program Studi Bahasa Inggris,  FKIP, Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Abstract:

This paper presents issues on foreign language use in the context of language education in Indonesia. Some  people believe that our “old” language(s) would only hinder the acquisition of a “new” one. Whatever the reason it is wrong to  leave the language(s) we have already acquired in attempt to acquire a new one. Even, in the case of our national language,  Indonesian, we have to preserve it, develop it and, when possible, upgrade its position among the important languages of the  world. One way is by using it properly for communication while learning another (foreign) language. Just as any other skills  acquisition, the key to success in a foreign language learning is practice. Since foreign language learning environment is in  general  not  conducive  to  have  automatic  practices,  hard,  deliberate  efforts  are  frequently  required  for  compensation.  Unfortunately, only few learners do this. Therefore, our discussion is centered around learner strategies. In relation with this,  foreign language teacher professionalism is crucial . Classroom activities he/she develops should be able to create setting for
target  language  intensive use and build  learner autonomy – a condition scarcely observed  in our  language classrooms.

Keywords: foreign language, use, context, and language education.

Pendahuluan
Sejumlah bahasa asing, selain bahasa Inggris, telah diajarkan dan dipelajari di Indonesia dewasa ini,  seperti bahasa Jerman, Perancis, Belanda, Spanyol, Jepang, dan yang sudah sangat lama, bahasa Arab,  atau yang baru mengalami pertumbuhan pesat bahasa Cina (Mandarin). Di beberapa tempat, bahasa  Korea  juga  tengah diminati. Sebagai bahasa  asing, bahasa-bahasa  ini umumnya dipelajari di dalam  ruang-ruang kelas, baik dalam jalur pendidikan formal melalui lembaga persekolahan dan perguruan  tinggi,  maupun  jalur  nonformal  seperti  kursus  dan  pelatihan.  Barangkali,  tidak  banyak  orang  di  Indonesia  belajar  bahasa  asing  secara  informal,  yaitu mengembangkan  sendiri  bahasa  asing  yang  dipelajari di  luar  ruangan-ruangan kelas. Kondisi pembelajaran seperti  ini  tentu saja berbeda dengan
kondisi yang dijumpai di lingkungan-lingkungan yang menggunakan bahasa-bahasa tersebut sebagai  bahasa kedua atau bahkan bahasa pertama.

Lingkungan  yang  ideal  bagi  pemerolehan  bahasa  adalah  wilayah  yang  masyarakatnya,  entah  sebagian atau seluruhnya, menggunakan bahasa itu untuk komunikasi sehari-hari. Bukan saja bahasa itu  digunakan dalam komunikasi lisan, melainkan sejauh mata memandang, termasuk kultur yang melatari  penggunaan bahasa itu juga berperanan dalam penguasaan bahasa. Konkretnya, belajar bahasa Inggris  di  negara  Inggris  (sebagai  bahasa  pertama)  atau  di  Singapura  (sebagai  bahasa  kedua)  akan  lebih  mangkus dan sangkil dibandingkan dengan di Indonesia.

Baca selengkapnya: 8-penggunaan-bahasa-asing-dalam-konteks-pendidikan-bahasa-suwartono

Ngelmu Iku Olehe Kanthi Laku

Kholid Mawardi *)

*) Penulis adalah Magister Humaniora (M.Hum.) alumnus Program Studi Sejarah, Jurusan Humaniora, Pascasarjana  UGM. Dia dosen  tetap di Jurusan Pendidikan  (Tarbiyah) STAIN Purwokerto. Bukunya  yang  telah  terbit, Mazhab Sosial  Keagamaan NU (Grafindo bekerjasama dengan STAIN Purwokerto Press, 2006).

Abstract:

From  early  times,  traditional  Islamic  community  accustomed  to  interpret  Islamic  teaching  with  local  comprehension. This tradition is a legacy from Walisongo teaching that prudent with local tradition on the beginning of match  between Islam and Javanese culture. On education sphere, traditional Islamic community gives more interest to process not
outcome, as apprehension to moralities of classical  Islamic education thought. On the process of knowledge searching, a santri  have  to  do  specific  laku-laku  (special  practice)  as  wandering  for  searching  the  teacher,  loyal  (ta’zim),  haul   (yearly  commemoration of someone’s pass away) and ziarah (make a devotional visit to a sacred place), an tabarukkan (ask for  blessing).  If  this  practice  (laku-laku)  done  correctly,  then  the  knowledge  being  gained—even  little—will  become  blessed  (barokah)  and have benefit.

Keywords: traditional Islamic community, Islamic teaching, laku-laku (special practice).

Pendahuluan
Dalam masyarakat Islam tradisional, menuntut ilmu adalah suatu bentuk pengabdian kepada Tuhan.  Segala yang terkait dengan proses mencari ilmu selalu diarahkan kepada tujuan tersebut. Seorang guru  yang dikenal dalam komunitas sebagai kiai sangat dimuliakan. Kiai adalah pengemban amanat untuk  menyebarluaskan  ilmu-ilmu Allah  kepada masyarakat  banyak. Kiai mempunyai  kedudukan  tinggi  secara  sosial karena  integritas moral dan karisma yang dimilikinya,  selain adanya keyakinan publik  bahwa mereka mempunyai kedekatan khusus dengan Tuhan.

Seorang pencari  ilmu  juga memiliki kedudukan yang  tinggi dalam masyarakat  Islam  tradisional.  Pemuda  yang  berani  untuk  melanjutkan  belajar  ke  pesantren-pesantren  besar  yang  masyhur  dan  biasanya berada jauh dari tempat tinggalnya dipandang sebagai orang yang istimewa oleh masyarakat  sekitarnya. Kemampuannya untuk berlaku prihatin, jauh dari rumah, menahan kerinduan, melakukan  tirakat, dan mempelajari ilmu agama mendapat apresiasi tinggi dari masyarakatnya. Mereka berharap
pemuda  itu  akan  menjadi  orang  alim  yang  dapat  mengajarkan  berbagai  kitab  dan  memimpin  masyarakat dalam kegiatan keagamaan.1

Penghargaan  terhadap  orang  yang mencari  ilmu  (santri)  tidak  hanya  berupa  dukungan moral,  melainkan  juga  finansial.  Terdapat  beberapa  kasus  pendanaan  bagi  santri  yang  melanjutkan  pendidikannya di pesantren masyhur yang dibiayai oleh masyarakat kampungnya secara gotong-royong  atau mencari mertua yang kaya untuk membiayai pendidikannya di pesantren. Seorang santri yang akan  pergi belajar di sebuah pesantren yang jauh, sebelum berangkat biasanya diadakan semacam upacara  penghormatan  yang  meriah.  Dalam  upacara  ini  biasanya  dihadiri  oleh  hampir  seluruh  penduduk  kampung.2

Baca selengkapnya: 7-ngelmu-iku-olehe-kanthi-laku-kholid-mawardi

Pendidikan Berbasis Cinta

Asef Umar Fakhruddin *)

*) Penulis adalah peneliti pada Centre for Developing Islamic Education (CDIE) UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Abstract:

Education with love as its basic will shape and develop children potential. A Child should able to do activity that good and rational. A teacher and parent are just spectators, who suggest correction when something unwise and dangerous happen to children and everyone else. Creativity forming on love based education is direct student to always creative. Therefore, this conception is a criteria that he applying spiritual quotient. Intelligent people spiritually will not solve live problem just rationally or emotionally. But, he will relate it will life meaning spiritually, connect it with spiritual legacy as sacred texts or saint saying to give interpretation to recent situation.

Keywords: spiritual quotient, sacred text, love-based education.

Pendahuluan
Dewasa ini, pendidikan semakin menjadi kebutuhan yang sangat mendesak bagi semua orang. Pendidikan menjadi faktor terpenting dalam mewujudkan pembangunan mental dan spiritual manusia. Tidak hanya itu, dan ini sangat menggembirakan semua pihak, di tempat pelosok sekalipun telah dibangun lembaga-lembaga pendidikan. Meskipun lembaga ini tidak didanai pemerintah pusat, tetapi mereka tetap mampu eksis di tengah masifnya kompetisi dalam dunia pendidikan.
Sudah menjadi perbincangan yang khas apabila pendidikan ditempatkan dalam barisan terdepan sebagai pranata membangun suatu peradaban yang baik dan tangguh. Akan tetapi, sering dilupakan bahwa membangun iklim pendidikan yang mampu melahirkan generasi-generasi yang demikian membutuhkan perangkat yang “canggih” pula.
Sudah menjadi kajian bersama dan juga pemahaman umum pula bahwa pendidikan menjadi faktor terpenting dalam membangun kepribadian manusia. Di samping itu, dengan pendidikan pula sasaran yang ingin dicapai oleh sebuah peradaban akan bisa direalisasikan. Apalagi jika kita mengaca kepada dinamika yang berkembang dewasa ini, ketika semakin masifnya kerusakan datang menyapa, pendidikan menjadi komoditi utama. Pendidikan seakan menjadi sumber primer dan bahkan sebagai makanan pokok.
Dalam terang perkembangan seperti sekarang ini, pendidikan mendapatkan perhatian yang besar. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri, jika pendidikan yang berkembang saat ini juga kerap menanggalkan dan meninggalkan para anak didik dalam kubangan pesimisme. Oleh karena itu, tidak jarang pula kita menyaksikan banyak anak didik yang merasa kesepian di tengah keramaian dan perkembangan zaman seperti yang terjadi sekarang ini.

Baca selengkapnya: 5-pendidikan-berbasis-cinta-asef

Reformasi Sistem Pendidikan Islam di Indonesia

Siswadi *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), dosen di Jurusan Tarbiyah (Pendidikan) STAIN Purwokerto.

 

Abstract:

Islam education reformation is an absolute demand. Everyone effort, especially teacher, lecturer, politician, stakeholder, state, or private sector surely bring positive impact to education, include Islamic education. However, education system implemented today, in school or ex-scroll, remain contain weakness and deterioration. This paradigm triggers the rise of Islam education reforms spirit. This article show how Indonesian education figure see Islamic education condition in Indonesia. Meanwhile, by and large we would about reforms Islamic education effort that more constructive ad relevant with change and development on this globalisation and industrialisation era.

Keywords: Reforms and Islamic education.

 

Pendahuluan

Tahun 1998 merupakan titik awal munculnya reformasi pendidikan di Indonesia. Bersamaan dengan tahun ini pula, krisis ekonomi, sosial, dan politik melanda masyarakat dan bangsa Indonesia ini. Krisis ini menuntut adanya usaha keras untuk memperbaiki atau untuk mencapai keadaan kehidupan yang lebih baik, kita mengenalnya dengan istilah reformasi.

Emil Salim menekankan arti reformasi untuk perubahan dengan melihat keperluan masa depan. Din Syamsudin sebagaimana dikutip H.A.R. Tilaar menekankan kepada kembali dalam bentuk asal.1 Dalam hal ini, jelaslah bahwa reformasi merupakan suatu usaha pembaharuan menyeluruh dari suatu sistem kehidupan dalam aspek-aspek politik, ekonomi, hukum juga termasuk pendidikan, khususnya pendidikan Islam.

Sejak awal abad ke-20, masyarakat Muslim di Indonesia telah melakukan reformasi (pembaharuan). Reformasi ini dirintis oleh tokoh pelopor pembaharu pendidikan Islam Minangkabau, seperti Syekh Abdullah Ahmad, Zainudin Labai El-Yunus dan lain-lain, juga dalam bentuk organisasi-organisasi Islam seperti Jamiat Khair, Al-Irsyad, Persyarikatan Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Islam (PERSIS), dan Nahdatul Ulama di daerah lain.2 Akan tetapi, perubahan itu memiliki motivasi yang betul-betul pragmatis, yaitu bagaimana mengimbangi pendidikan umum yang berkembang pesat yang semata-mata diorientasikan pada pemenuhan kebutuhan kolonialisme.3

Baca selengkapnya: 3-reformasi-sistem-pendidikan-islam-di-indonesia-siswadi

Urgensi Pendidikan dalam Budaya Politik

Luthfiyah *)

*) Penulis menyelesaikan Program Magister, Konsentrasi Pemikiran Pendidikan Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang sedang menempuh Program Doktor pada tempat yang sama.

 

Abstract:

The crisis of nation is caused by the crisis of inner self and moral degradations, that politic which must be oriented to safety people, but show emphasizing to individual or group orientation finally the politic, which must have service character precisely dominated and patronage character. So, it is significant to develop cognition, affection, and psicomotoric componens on a simultant scale through education. However education has antisipatoris and preparatoris characters. The identification of democaration values and provide a model through civic education will be concrete the fundamental function of education in effort to create the humanis people and shaped unresistant education to reality. So, education can cange political culture.

Keywords: education, political culture, moral values.

 

Pendahuluan

Indonesia baru yang dicita-citakan banyak orang adalah masyarakat baru yang disebut civil society. Hal ini berarti kekuasaan berada di tangan rakyat, ditentukan oleh rakyat, dan untuk rakyat. Rakyat tidak lagi menjadi objek, tetapi sebagai subjek pelaku kekuasaan. Masyarakat madani hanya dapat terwujud jika masyarakat memperoleh pendidikan yang memadai sehingga masyarakat dapat memahami perannya dalam proses perubahan sosial secara kreatif-konstruktif untuk mencari bentuk-bentuk sintetik baru secara tulus, damai sekaligus mencerahkan.1

Oleh karena itu, pemerintah seharusnya dapat meningkatkan komitmennya untuk menciptakan pemerintahan yang bersih, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, dan berpihak pada proses pemberdayaan rakyat dengan memprioritaskan pada bidang pendidikan. Kesejahteraan rakyat seharusnya diartikan dengan semakin meningkatnya kualitas sumber daya manusia yang terdidik agar mampu meningkatkan penghasilannya secara benar, mandiri, dan kreatif. Ukuran kesejahteraan rakyat harus menyertakan indikator menguatnya etika sosial, kualitas partisipasi rakyat dalam politik, kreativitas budaya, dan komitmen moralitas keagamaan dan kemanusiaan universal, tidak semata mata menggunakan indikator ekonomi,2 meskipun ekonomi menjadi salah satu indikator di dalamnya.

Baca selengkapnya: 2-urgensi-pendidikan-dalam-budaya-politik-lutfiyah

Pendidikan Nilai dalam Era Pluralitas

Ruslan Ibrahim *)

*) Penulis adalah alumni Jurusan Tarbiyah STAIN (sekarang IAIN Mataram). Menyelesaikan Program Magister Konsentrasi Pemikiran Pendidikan Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan pada tempat yang sama, sekarang sedang menempuh Program Doktor Konsentrasi Studi Islam.

Abstract:

Values education is activity which help students in order that they have instruction which determine all of their actions. Values education is considered urgent in education activity. It is purposed to build social solidarity, especially in religion and cultural plurality era. The reality of social, religion, and cultural conflict, showed education functions as transfer of moral values still optimal yet. Therefore, values education include moral training must be aplicated to help students be up against social problems in their life.

Keywords: values education, plurality, moral training, social solidarity.

 

Pendahuluan

Hubungan antara nilai dengan pendidikan sangat erat. Nilai dilibatkan dalam setiap tindakan pendidikan, baik dalam memilih maupun dalam memutuskan setiap hal untuk kebutuhan belajar. Melalui persepsi nilai, pendidik dapat mengevaluasi peserta didik. Demikian pula peserta didik dapat mengukur kadar nilai yang disajikan pendidik dalam proses pembelajaran. Masyarakat juga dapat merujuk sejumlah nilai (benar-salah, baik-buruk, indah-tidak indah) ketika mereka mempertimbangkan kelayakan pendidikan yang dialami anaknya.

Lembaga pendidikan memiliki tugas mempersiapkan terbentuknya individu-individu yang cerdas dan berakhlak mulia. Terpenuhinya kedua kriteria itu memungkinkan terwujudnya nilai kehidupan sosial yang ideal, yang memiliki semangat kebersamaan, menghindari konflik sosial, mengembangkan potensi diri, dan memanfaatkannya untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin, serta keselamatan umat manusia pada umumnya.1

Hal tersebut menunjukkan bahwa peran pendidikan dalam pembentukan dan penanaman nilai terhadap peserta didik sangat menentukan kehidupan mereka. Tanpa pendidikan, nilai sangat sulit untuk ditemukan atau didapatkan. Oleh karena itu, fungsi pendidikan adalah untuk menanamkan nilai-nilai (yang baik) kepada peserta didik (bukan hanya transfer pengetahuan) sebagaimana yang popular selama ini. Pengetahuan tanpa memahami nilai cenderung melahirkan konflik, baik antar-kelompok agama, budaya, wilayah, maupun antar-institusi.2

Baca selengkapnya:1-pendidikan-nilai-dalam-era-pluralitas-ruslan-ibrahim

Andhap Asor, Pracaya, lan Mituhu

Kholid Mawardi *)

*) Penulis adalah Magister Humaniora (M.Hum.) alumnus Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Dia dosen tetap di
Jurusan Pendidikan (Tarbiyah) STAIN Purwokerto. Bukunya yang telah terbit, Mazhab Sosial Keagamaan NU (Grafindo
bekerjasama dengan STAIN Purwokerto Press, 2006).

Abstract:

K.H. Hasyim Asy’ari is one Islamic scholar that has global insight without ripped out from
tradition that grows him up (Javanese). He develops Islamic ideas about education with local sense. His
thought structure about education philosophically based on view that every activity conducted to seek
Allah’s acceptance and place good characters as basic morality. From that two basic values bring about
adab (moral) as its operational.

Keywords: K.H. Hasyim Asy’ari, moral, and education.

Pendahuluan
K.H. Hasyim Asy’ari dibesarkan dalam tradisi sufi dari golongan muslim tradisionalis Jawa. Ia
menuntut ilmu dan berkiprah di masyarakat pada masa munculnya gerakan Wahabi dalam dunia Islam.
Abad ke-19 di Jawa merupakan masa transisi, yaitu masa dialog antara golongan santri tradisional
dengan golongan modernis yang dipengaruhi oleh gerakan Wahabi dan Muhammad Abduh. Golongan
modernis mengatakan bahwa Islam di Jawa telah tertinggal jauh karena salah menafsirkan Islam dengan
tujuan sufi dan percampuran Islam dengan budaya lokal. Slogan golongan modernis adalah kembali
kepada al-Qur’an dan Hadis. Misi mereka adalah memurnikan ajaran Islam dari pengaruh-pengaruh
budaya lokal.2
Sebagaimana tipologi kiai Jawa, K.H. Hasyim melakukan penggabungan elemen-elemen Islam
dengan budaya lokal dalam berdakwah sepanjang praktik-praktik budaya lokal itu tidak bertentangan
dengan prinsip-prinsip Islam. Perpaduan semacam inilah yang digunakan oleh K.H. Hasyim dan
pengikutnya sehingga lebih mudah untuk diserap oleh sebagian besar masyarakat Jawa.3 Dia tidak
pernah mencela orang-orang yang berbuat salah, tetapi secara pelan-pelan mendekati mereka dengan
penuh ketulusan dan penghargaan. Dengan pendekatan yang bijaksana akan menarik masyarakat untuk
meninggalkan kebiasaan buruk, dan kembali ke jalan yang benar. Perilaku yang tumbuh dari kesadaran
akan lebih baik dan bertahan lama daripada disebabkan oleh kritik dan cercaan. Dia selalu menunjukkan
kehidupan nabi sebagai contoh yang ideal. Nabi lebih cenderung memberikan nasihat dan bimbingan
daripada kekerasan.4

Baca artikel selengkapnya: 5-andhap-asor-pracaya-lan-mituhu-kholid-mawardi