Archive for the ‘pembelajaran’ Tag

Puisi Sebagai Metode Alternatif dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Munjin *)

*) Penulis adalah Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I.), dosen tetap Jurusan Tarbiyah (Pendidikan) STAIN Purwokerto.

Abstract:

There is still a notion stated by some students that English language is difficult and bored It is like a big monster which has always to be avoided, moreover it is to be one of the National Final Examination materials, English can make them upset dan frustrate. Why do the students sill have an opinion like this? The answer is that the teachers still use, in teaching English, traditional method and strategy which are unapropriate to the students’ demand. Poem as a material of teaching is, according to the writer, considered as a method which can increase students’ interest in studying English. Because the teaching will run in a joyful atmosphere, there is no burden on students’ shoulders

Keywords: Poem, Method, and Teaching English.

Pendahuluan
Sebagaimana kita ketahui, tujuan pembelajaran bahasa Inggris adalah dikuasainya empat kemampuan berbahasa, yakni berbicara, menulis, membaca, dan mendengar. Namun pada kenyataannya, meskipun kurikulum sudah didesain sedemikian rupa untuk mencapai tujuan dimaksud, pembelajaran yang berlangsung sebagian besar masih timpang. Artinya, pembelajaran itu hanya menonjolkan salah satu kemahiran saja, bahkan tidak jarang malah hanya aspek tata bahasa atau grammar-nya yang diajarkan. Pembelajaran bahasa yang seperti ini tidak lain adalah pembelajaran tentang bahasa, bukan bagaimana berbahasa.

Padahal, di dalam kurikulum bahasa Inggris telah diamanatkan bahwa tujuan pembelajaran bahasa adalah kebermaknaan dan fungsi komunikasi.1 Hal ini berarti pembelajaran bahasa harus didesain sedemikian rupa agar peserta didik pada gilirannya dapat menggunakan bahasa tersebut sebagai alat komunikasi, baik secara lisan maupun tulisan. Oleh karena itu, untuk mencapai basil pembelajaran tersebut, pemilihan metode, pendekatan, strategi, serta media memegang peran yang penting.

Baca selengkapnya: 9-Puisi Sebagai Metode Alternatif – munjin

Strategi Pembelajaran: Konsep dan Aplikasinya

Sunhaji *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), Dosen tetap Jurusan Tarbiyah dan Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam di STAIN Purwokerto.

Abstract:

Learning strategy is a teacher effort to create environment system that enable student to learn, or choice of teacher-student activity pattern at learning process. There are several different strategies, but only at its accentuation, namely as abstract conception thought versus its operation on three activity i.e. pre-instructional, instructional, and evaluation. As criteria to choose learning strategy there are: learning goal, skill at lesson, media being used, evaluation system, and student as subject and teacher as implementer.

Keywords: Learning strategy, effort, environment, teacher, student.

Pendahuluan
Banyak pendapat ahli yang mendefinisikan strategi belajar-mengajar dengan berbagai istilah dan pengertian yang berbeda, perbedaan tersebut sebenarnya hanya terletak pada aksentuasinya saja. Misalnya, Nana Sudjana mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar merupakan tindakan guru melaksankan rencana mengajar, yaitu usaha guru dalam menggunakan beberapa variabel
pengajaran (tujuan, metode, alat, serta evaluasi) agar dapat mempengaruhi siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan.1 Dengan demikian, ia adalah usaha nyata guru dalam praktik mengajar yang dinilai lebih efektif dan efisien, atau politik dan taktik guru yang dilaksanakan dalam praktik mengajar di kelas.

Selanjutnya, Nana Sudjana menambahkan bahwa strategi mengajar ini dibagi tiga tahapan; tahapan pra-instruksional, tahap instruksional, dan tahap evaluasi. Pada tahap pra-instruksional, misalnya guru menanyakan kehadiran siswa, bertanya tentang materi lalu ini semua sebagai upaya melakukan apersepsi, kemudian tahapan kedua guru menjelaskan tujuan, menuliskan pokok-pokok materi sesuai tujuan ini dimaksudkan untuk menekankan fokus pada tujuan yang diharapkan (learning outcome), dan tahap evaluasi guru berusaha mengetahui sejauh mana siswa memahami pada materi yang dijelaskan pada tahapan instruksional dan termasuk sebagai feedback terhadap pelaksanaan seluruh kegiatan instruksional.2 Menurut definisi sebagaimana dijelaskan dimuka, maka strategi belajar-mengajar adalah operasionalisasi dari desain pembelajaran yang telah dirancang.

Baca selengkapnya: 8-Strategi Pembelajaran – sunhaji

Metode Pembelajaran Bahasa Arab: antara Tradisional dan Modern

Sapri *)

*) Penulis adalah Master of Arts (M.A.), Dosen matakuliah Bahasa Arab, Fak. Tarbiyah, IAIN Sumatera Utara.

Abstract:

Teaching method is one of educational elements. The exist of a good method in the teaching learning process is to be because it can help to get hope goal of an instructional. In Arabic instructional, a teacher must use various method
throught it is conventional or modern.

Keywords: Teaching method, Arabic language, modern, traditional.

Pendahuluan
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi peserta didik melalui kegiatan pengajaran sehingga ia dapat berkembang secara sempurna. Ada dua buah konsep kependidikan yang berkaitan dengan lainnya, yaitu belajar (learning) dan pembelajaran (intruction). Konsep belajar berakar pada pihak peserta didik sedangkan konsep pembelajaran berakar pada pihak pendidik.

Dalam proses belajar-mengajar (PBM) bahasa Arab akan terjadi interaksi antara peserta didik dan pendidik. Peserta didik adalah seseorang atau sekelompok orang sebagai pencari dan penerima pelajaran yang dibutuhkannya. Pendidik adalah seseorang atau sekelompok orang yang berprofesi sebagai pengolah kegiatan belajar-mengajar dan seperangkat peranan lainnya, yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar yang efektif.

Kegiatan belajar-mengajar bahasa Arab melibatkan beberapa komponen, yaitu peserta didik, guru (pendidik), tujuan pembelajaran, isi pelajaran, metode mengajar, media, dan evaluasi. Tujuan pembelajaran adalah perubahan perilaku dan tingkah laku yang positif dari peserta didik setelah
mengikuti kegiatan belajar-mengajar, baik perubahan secara psikologis dalam tingkah laku (over behaviour), motorik, maupun gaya hidupnya.

Baca selengkapnya: 6-Metode Pembelajaran bahasa arab – sapri

Komersialisasi dan Tanggung Jawab Pendidikan: Sekelumit Pembicaraan

Wan Anwar *)

*) Penulis adalah Magister Humaniora (M.Hum.) lulusan S-2 Ilmu Sastra FIB Universitas Indonesia. Kini mengajar sastra di Jurusan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Tirtayasa (Untirta) Banten, dan menjadi editor majalah sastra Horison. Bukunya yang sudah ditulis: Sebelum Senja Selesai (2002), Sepasang Maut (2004), Kuntowijoyo dan Dunianya (2006).

Abstract: One of crucial pictures of our education recently is expensive education expense. This happen parallel with pragmatism mental on every side of social life. Commercialization and capitalism often become cause of human values destruction that actually should to be preserved by education. Therefore, we have to do awareness movement to change attitude and action of education’s actor. BHP and BHMN (State’s owner legal institution) status, that giving autonomy to education institution to raise fund from community shouldn’t accentuate commercialization of education at school or campus. Its
also prevail on entrepreneurial university that its network source from global market capitalism expansion. School and campus must revitalize its public and humanity responsibility to independent, quality, creative, and responsible human. According to Kuntowijoyo, education task and responsibility is on humanizing human (humanization) effort, liberation, and spiritualizing human (transcendent).

Keywords: pragmatism, education commercialization, capitalism, BHP-BHMN, entrepreneurial university, dehumanization, awareness movement, and humanization liberation-transcendent.

Pengantar
Salah satu potret dunia pendidikan yang belakangan ini menggelisahkan adalah mahalnya biaya pendidikan. Sementara itu, jumlah orang miskin semakin bertambah, jurang kaya-miskin tambah menganga. Rakyat miskin yang “dilumpuhkan” oleh berbagai kebijakan dan struktur negara, akhirnya
harus pula dilindas oleh dunia pendidikan. Hal ini berarti, langsung tidak langsung, pengelola negara mengkhianati rakyatnya, si kaya menghisap si miskin, kaum terpelajar menindas orang-orang yang tidak mampu mengenyam pendidikan.

Berkaitan dengan pernyataan di atas, perlu ditegaskan bahwa masalah penting dalam dunia pendidikan yang harus terus dibicarakan adalah pergumulan dua kekuatan tidak terhindarkan: kuasa yang menindas dan perjuangan manusia untuk bebas! Dalam pergumulan itulah, dua kenyataan mengemuka: pendidikan kita terpuruk, meskipun “idealisme” masih tampak bergelora dalam diri sebagian pelaku atau pengelolanya. Sejumlah potret carut-marut dunia pendidikan tidak sulit ditunjukkan dan berbagai kritik terhadap kenyataan itu hingga kini terus bergulir. Inilah yang cukup melegakan, masih ada sekelompok orang yang menghasratkan perbaikan di tengah kebanyakan orang tenggelam di dalam rawa-rawa kemapanan.

Baca selengkapnya: 3-Komersialisasi dan tanggung jawab pendidikan – wan anwar

Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Subur *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), dosen tetap dan Ketua Jurusan Pendidikan (Tarbiyah) STAIN Purwokerto.

Abstract:

“Language as a tool, not as a goal” becomes the most basic principal of designing communicative approach in the learning of foreign language. In this way, teaching foreign language should make students not only have receptive competence but also demonstrative one. The problem that mostly comes is merely related to how to design and handle such way in the real teaching. This paper just gives an alternative perspective in applying a communicative approach in learning Arabic.

Keywords: language, communicative approach, instructional design, and learning process.

Pendahuluan
Secara sosiolinguistik, bahasa dan masyarakat adalah dua hal yang saling berkaitan, keduanya memiliki hubungan mutualistik; antara yang satu dengan yang lain saling ada ketergantungan, membutuhkan, dan menguntungkan. Ujaran dan bunyi jelas disebut sebagai bahasa jika berada dan digunakan oleh masyarakat. Demikian pula, masyarakat tidak dapat eksis dan bertahan (survive) tanpa adanya bahasa yang digunakan sebagai alat berinteraksi dan berkomunikasi di antara mereka.
Bahkan, lembaga–lembaga yang dibentuk oleh anggota masyarakat pun dipertahankan dan dikembangkan dengan menggunakan alat yang bernama bahasa. Jadi, tiada aktivitas dalam kehidupan ini yang dapat dipisahkan dari bahasa.1

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan dalam menggunakan bahasa sebagai media komunikasi merupakan salah satu kunci dan dasar keberhasilan manusia dalam hidupnya.2 Di sini, bahasa dipahami dengan sangat praktis dan fungsional sebagai alat komunikasi, mengingat sebagian besar waktu hidup manusia digunakan untuk berkomunikasi. Bahkan, komunikasi mempengaruhi dan menjadi standar kesehatan seseorang, baik secara sosiologis maupun psikologis.3

Peran bahasa bagi kehidupan manusia demikian penting sehingga pengajaran bahasa menuntut kecermatan, tujuannya agar bahasa bermakna fungsional. Oleh karena itu, terdapat perbedaan filosofi antara belajar berbahasa dengan belajar pengetahuan yang lain. Belajar pengetahuan pada umumnya, seseorang dituntut untuk mengetahui secara kognitif, afektif, dan psikomotor. Berbeda dengan belajar berbahasa (mendengar, membaca, berbicara, dan menulis) yang merupakan alat ekspresi dan komunikasi, maka seseorang dituntut untuk belajar mengaplikasikan bahasa itu sendiri dalam berekspresi dan berkomunikasi sehari-hari.4 Bahasa bukan hanya dipelajari secara teoretik, melainkan dipelajari secara praktis dan fungsional. Dalam pembelajaran berbahasa, apalah arti sebuah konsep dan teori, jika tidak pernah dipergunakan/dipraktikkan dalam interaksi sosial di masyarakat.

Baca Selengkapnya: 4-Pendekatan Komunikatif – subur

Penguasaan Bahasa Inggris Melalui Extensive Reading Program

Munjin *)
*) Penulis adalah Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I.), dosen tetap Jurusan Pendidikan (Tarbiyah) STAIN Purwokerto.

Abstract:

Even though there is no representative data reporting the profile of Indonesian students’ proficiency in English, it seems that English teaching program has been largely unsuccessful. Factually, most of high school graduates just had average reading vocabulary of 1000 words, a number considered too small. This phenomenon needs an appropriate solution.
Extensive Reading Program (ERP) may be the answer. Why? Because it can, with “easy and interesting” strategy, motivate students’ interest in reading, increase their language acquisition, and eliminate their negative predisposition on English as either difficult language or bored lesson.

Keywords: unsuccessful teaching, language acquisition, Extensive Reading Program.

Pendahuluan
Pengajaran bahasa Inggris (English Language Teaching: ELT) merupakan suatu masalah yang sangat kompleks. Ada sejumlah variabel atau faktor yang secara potensial dapat mempengaruhi keberhasilan pengajaran bahasa asing. Namun, faktor metode mengajar dapat dianggap sebagai faktor determinan dalam menentukan keberhasilan pengajaran bahasa Inggris.

Meskipun demikian, telah banyak upaya yang dilakukan untuk mengembangkan kualitas pengajaran bahasa Inggris, secara umum hasilnya masih sangat memprihatinkan. Menurut Wulan Retno, hampir sebagian besar alumni sarjana strata satu (S-1) masih sangat kesulitan memahami teks berbahasa Inggris.1 Hal senada diungkapkan oleh Darjdowidjojo2 bahwa para praktisi, pakar pembelajaran bahasa, dan pembuat kebijakan menyadari betul akan belum berhasilnya pembelajaran bahasa Inggris. Siswa yang telah memperoleh materi dalam jangka waktu yang cukup lama (SMPSMA) juga belum mampu menyusun kalimat sederhana dalam bahasa Inggris, apalagi
menggunakannya secara aktif.

Namun demikian, data empiris yang menggambarkan tentang kemampuan berbahasa siswa secara komprehensif masih sangat jarang. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Quin’s, sebagaimana dikutip oleh Lowenberg3 menyebutkan bahwa lulusan sekolah tingkat atas (SLTA) rata-rata hanya
menguasai 1000 kosa kata. Sebuah penguasaan yang sangat minim untuk dapat memahami referensi berbahasa Inggris di perguruan tinggi. Menurut Sadtono,4 rendahnya penguasaan siswa terhadap bahasa Inggris lebih banyak disebabkan oleh rendahnya kompetensi guru. Masih banyak guru bahasa yang
sangat lemah dalam memadukan teori-teori dan pendekatan secara interdisipliner, terlebih lagi dalam pembelajaran reading. Fakta ini ditemukan dalam sebuah penelitian terhadap guru-guru bahasa yang mengambil program doktor di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Dalam penelitian itu digambarkan sebagai berikut.

Baca selengkapnya: 3-Penguasaan Bahasa Inggris – munjin

Tinjauan Aspek Budaya pada Pembelajaran IPA

Fajar Hardoyono *)

*) Penulis adalah dosen STAIN Purwokerto, mahasiswa S-2 Jurusan Ilmu-ilmu MIPA, Program Studi Fisika Terapan
Bidang Elektronika Instrumentasi dan Jaringan Komputer, Sekolah Pascasarjana UGM.

Abstract:

Education deals with enlightening people and developing human resources. The reasecher concluded that
cultural background of students influences their learning attitude in the school. Therefore, the developing learning process of Natural Sciences insist student to elaborate principles of Natural Sciences without ignoring cultural valuesof local community. The policy of decentralization of Indonesian Government had authorized and legitimated local authorities to develop curriculum based on the local cultures. To do so, each local government through the officers of Education has to create a curiculum by involving some curriculum experts, instructures, natural sciences theachers, and the lectures of universities who adequately understand learning model of Natural Sciences.

Keywords: Curriculum development, ethnoscience, learning model, local government, and local based curriculum.

Pendahuluan
Sukmadinata (1997) mengutarakan beberapa sifat penting dari pendidikan, dua di antaranya
adalah2 sebagai berikut.
1. Pendidikan diarahkan pada kehidupan masyarakat. Pendidikan yang dilaksanakan oleh
pemerintah maupun swasta diadakan untuk menyiapkan siswa di dalam kehidupan masyarakat.
2. Pelaksanaan pendidikan dipengaruhi dan didukung oleh lingkungan masyarakat tempat
pendidikan itu berlangsung.
Pernyataan tersebut mengisyaratkan kedudukan penting dari masyarakat di dalam proses
pendidikan, baik di dalam perencanaan pendidikan, misalnya pengembangan kurikulum, maupun di
dalam pelaksanaan, misalnya dalam dukungan dana. Berkaitan dengan pengembangan kurikulum,
pernyataan ini juga menyiratkan perlunya kurikulum yang dikembangkan harus bertumpu pada
sistem sosial budaya masyarakat setempat. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh
Fensham (1988) bahwa kurikulum dibuat untuk memenuhi beberapa tuntutan dari pembuatnya,
antara lain tuntutan dari segi ekonomi, politik, sosial, budaya, dan individu.3 Kurikulum yang ideal
mampu mengakomodasi seluruh tuntutan tersebut. Sayangnya, kurikulum yang ada, seperti
kurikulum pendidikan IPA kita belum dapat melayani seluruh tuntutan tersebut secara seimbang.
Kurikulum yang berlaku sekarang lebih melayani kepentingan politik dan ekonomi, dengan masih
mengabaikan tuntutan sosial dan budaya.4

Baca artikel selengkapnya: 1-tinjauan-aspek-budaya-pada-pembelajaran-ipa-fajar-hardoyono

Realistic Mathematics Education (RME)

Ifada Novikasari *)

*) Penulis adalah Sarjana Sains (S.Si.), dosen di STAIN Purwokerto.

Abstract:

Teaching methods is always developed to make students became easily to understand the lesson. One of the developing methods tries to maka students can apply scientific theories to the real life. In this way, mathematics as pure science gets much attention to be developed. The most fundamental question is how students can utilize mathematics which initially in the form of concept as a formula which can be used in solving problem of life. Realistic Mathematics Education (RME) developed by Freudenthal Instute is a method which harmonize betweeen mathematics concept with reality.

Keywords: mathematics, reality, concept, and RME.

Pendahuluan
Salah satu permasalahan yang muncul terkait dengan dunia pendidikan matematika di tingkat
pendidikan dasar, menengah, dan perguruan tinggi sejak lama adalah bagaimana melakukan
transformasi berbagai konsep matematika yang telah dikenal masyarakat dengan ilmu ‘matimatian’-
nya menjadi konsep-konsep yang mengasyikkan untuk dipelajari dan mudah untuk
diaplikasikan.
Sebagai ilmu dasar, matematika perlu mendapatkan perhatian yang cukup besar karena pada
setiap aktivitas sehari-hari yang dilakukan manusia hampir bisa dipastikan tidak mungkin dapat
terlepas dari kegiatan matematika. Oleh karenanya, kebutuhan untuk mengembangkan pendidikan
matematika merupakan tuntutan yang sulit dihindarkan.
Kecenderungan yang mengarah pada pemenuhan tuntutan tersebut sedikit demi sedikit mulai
tampak. Dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir ini, Kurikulum Sekolah Dasar dan Menengah
di Indonesia mengalami perkembangan ke arah positif. Kurikulum 1994 yang dianggap berorientasi
pada materi ajar (subject-matter oriented) berkembang menjadi Kurikulum 2004 yang secara
konseptual berorientasi pada kompetensi (competency-based). Perkembangan terbaru adalah
Kurikulum 2006 yang berorientasi pada kompetensi dan otonomi sekolah (school-based) dalam
pengembangan kurikulum, terkenal dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Dalam proses pendidikan, kurikulum menempati posisi yang menentukan. Ibarat tubuh,
kurikulum merupakan jantung pendidikan.1 Kurikulum yang dikembangkan dalam praktik
pendidikan di Indonesia selama ini dipandang lebih banyak diorientasikan kepada pencapaian
kemajuan akademik, padahal sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, spektrum tujuan yang harus
dicapai oleh pendidikan lebih luas dari sekadar aspek akademik.2 Oleh karenanya, Kurikulum 2006
(KTSP) diharapkan dapat memberi angin segar bagi perubahan praktik pendidikan di Indonesia,
termasuk pendidikan matematika.

Baca artikel selengkapnya: 7-realistic-mathematics-education-ifada-nofikasari

Variasi dan Register Bahasa dalam Pengajaran Sosiolinguistik

Sunahrowi *)

*) Penulis adalah Sarjana Sastra Prancis (S.S.) alumni Universitas Negeri Semarang (Unnes). Kini sedang studi S-2
Prodi Sastra Indonesia Jurusan Ilmu Humaniora Sekolah Pascasarjana Gadjah Mada.

Abstract:

Teaching sociolinguistics is so important since it involves at least two disciplines, i.e. social studies and lingusitics. Sociolinguistics is a study of language linking to social circumstance. There are so many varieties of social classification, such as sex, age, status and classes in collective life that rise so many languange variation. Language variation is usually influenced by at least three factors; geographical area that rise local dialect, social factors relating to social classes and status, and educational background. Those aspects develop social dialect and register.

Keywords: Variation, Register, Sociolinguistics, and Teaching.


Pendahuluan

Pengajaran sosiolinguistik, terutama pada mahasiswa di perguruan tinggi bertujuan untuk
memperkenalkan tentang hakikat keberadaan bahasa di dalam masyarakat. Bahasa dan masyarakat
merupakan dua hal yang saling berkaitan, keduanya mempunyai hubungan layaknya hubungan
simbiosis mutualisme, hubungan antara dua makhluk hidup yang saling menggantungkan dan
menguntungkan. Hubungannya tampak jelas bahwa ujaran dan bunyi disebut sebagai bahasa jika
berada dan digunakan oleh masyarakat. Masyarakat tidak dapat berjalan (survive) tanpa adanya
bahasa yang berguna sebagai sarana untuk saling berinteraksi dan bekerjasama antarindividu di
masyarakat. Lembaga-lembaga yang dibentuk oleh anggota masyarakat dipertahankan dan
dikembangkan dengan menggunakan bahasa. Tiada satu segi kehidupan yang dapat dipisahkan
dengan bahasa. Kita memanipulasi, membujuk, mengejek, dan bernegosiasi tanpa kita sadari bahwa
kita sedang terlibat dalam pelaksanaan kehidupan berbahasa.
Keberagaman bahasa akan dapat dijangkau, diketahui, dan dipahami oleh siswa maupun
mahasiswa melalui pengajaran sosiolinguistik, yaitu ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa
dan kaitannya dengan masyarakat. Secara sederhana Pride dan Holmes merumuskan sosiolinguistik
sebagai “……the study of language as part of culture and society,” yaitu kajian bahasa sebagai bagian
dari kebudayaan dan masyarakat.1 Sosiolinguistik menelaah penggunaan bahasa sebagai alat
interaksi anggota masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat sebagai unsur penting di
samping bahasa sendiri dalam penelaahan sosiolinguistik. Tata bahasa tidak lengkap apabila dalam
kaidah-kaidahnya tidak dimasukkan faktor sosial seperti umur, keluarga, latar belakang, dan
kelompok masyarakat. Faktor sosial berpengaruh terhadap munculnya variasi bahasa, baik berupa
kalimat maupun ujaran dalam masyarakat.

Baca artikel selengkapnya: 6-variasi-dan-register-bahasa-sunahrowi

Strategi Pembelajaran Era Digital

Fajar Hardoyono *)

*) Penulis adalah dosen STAIN Purwokerto, mahasiswa S-2 Jurusan Ilmu-ilmu MIPA, Program Studi Fisika Terapan Bidang Elektronika Instrumentasi dan Jaringan Komputer, Sekolah Pascasarjana UGM.

 

Abstract:

The most important devices for digital campus development are computer network, Internet, and content. Computer network and Internet depend on the outside factors, i.e. vendors and technology suppliers. The last devices depend on the internal factor but it must be suitable by the users. The users in digital campus include all of the students, lectures, and the non-academic staff. This paper is not only to propose how to manage the content of digital learning but also to propose the digital learning model and the development of cyber campus in State College of Islamic Studies of Purwokerto, Central Java.

Keywords: digital campus, computer network-internet-content, and digital learning model.

 

Pendahuluan

Kebijakan pengembangan cyber kampus merupakan petunjuk kuat bahwa STAIN Purwokerto akan memasuki era kampus digital. Apakah kampus digital lebih unggul dibandingkan kampus tradisional? Suatu pertanyaan menantang yang tergantung dari definisi “kampus digital” itu sendiri, salah satunya adalah “segala usaha untuk mengubah sumber daya kampus yang ada ke dalam bentuk digital berbasis internet, melalui alat atau instrumen yang canggih, sedemikian rupa sehingga kehidupan nyata kampus dapat ditingkatkan melebihi waktu maupun ruang yang ada”2 [Sumber daya itu meliputi semua informasi di lingkungan kampus (jadwal transportasi yang tersedia, perbankan, kantin, ketersediaan fasilitas), sumber daya material (buku, materi/modul pembelajaran) sampai dengan aktivitas kampus (proses belajar dan mengajar, manajemen, dan pelayanan administrasi).

Jika demikian halnya maka jelaslah bahwa kampus digital akan lebih unggul jika dibandingkan dengan yang tradisional. Bayangkan, perpustakaan dapat diakses malam hari langsung dari rumah, tugas dikumpulkan melalui email, pengumuman kampus diakses tanpa harus ke kampus, dan sebagainya.3 Teknologi Informasi (TI) yang merupakan tulang punggung kampus digital, didukung oleh tiga komponen utama,4 computer, communication, dan content. Tentulah yang dimaksud dengan communication adalah jaringan internet. Dengan adanya jalinan kerjasama kampus dengan tiga vendor raksasa teknologi, yaitu Microsoft-Intel-Toshiba maka sudah diperoleh jaminan bahwa dua komponen pertama di atas pasti akan berfungsi sebagaimana dimaksud, sedangkan komponen content tidak sepenuhnya dapat dijamin keberhasilannya karena tergantung dari manusia-manusia pengelola maupun pemakainya.

Baca artikel selengkapnya:  2-strategi-pembelajaran-era-digital-fajar-hardoyono