Archive for the ‘kurikulum’ Tag

Urgensi Kurikulum Gender dalam Pendidikan

Khusnul Khotimah *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.) alumnus Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia menjadi dosen tetap pada Jurusan Dakwah (Komunikasi) STAIN Purwokerto.

Abstract:

One of education goal is how to realize fair society, by not discriminate one sex. But the reality exist discrimination at education that necessitate several effort to solve it, on of it is by formulating curriculum that have gender
perspective. Curriculum is a development of vision and mission of educational institution that want to realize education goal. Gender curriculum is based on an assumption that woman and man are equal in education, and have equal opportunity to get education. In its application, gender curriculum can be formulated implicitly (hidden curriculum), or explicitly (overt curriculum). However, to explain gender problems we recommend explicit way.

Keywords: Gender curriculum, education.

Pendahuluan
Pendidikan merupakan aktivitas yang khas bagi manusia dalam suatu komunitas masyarakat dengan tujuan untuk memanusiakan manusia,1 dan merupakan instrumen yang penting bagi pemberdayaan masyarakat, terutama bagi masyarakat yang termarjinalkan.2 Pendidikan juga merupakan kunci terwujudnya keadilan gender dalam masyarakat, karena di samping merupakan alat untuk mentransfer norma-norma masyarakat, pengetahuan dan kemampuan manusia, juga sebagai alat untuk mengkaji dan menyampaikan ide-ide dan nilai baru. Dengan demikian, lembaga pendidikan
merupakan sarana formal untuk sosialisasi sekaligus transfer nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, termasuk nilai dan norma gender. Nilai dan norma tersebut ditransfer secara lugas maupun secara tersembunyi, baik melalui buku-buku teks yang digunakan maupun pada suasana dan proses pembelajaran.

Oleh karena itu, dalam lembaga pendidikan, sebagai tempat mentransfer pengetahuan kepada masyarakat, mewujudkan keadilan gender merupakan hal yang niscaya. Untuk mengarah pada terwujudnya keadilan gender yang dimaksud maka perlu; (1) memberlakukan keadilan gender dalam pendidikan dan menghilangkan pembedaan pada peserta didik, (2) mengupayakan keadilan gender di kalangan staf dan pimpinan, dan (3) meredam sebab-sebab terjadinya kekerasan dan diskriminasi melalui materi pengetahuan yang diajarkan, proses pembelajaran yang dilakukan, dan menentang segala
ide dan pemikiran yang mengandung stereotipe negatif. Dari tiga hal di atas, maka hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pendidikan adalah bagaimana menyusun kurikulum yang dapat menciptakan relasi gender yang dinamis. Tulisan ini bermaksud untuk memaparkan tentang urgensi kurikulum yang
berperspektif gender dalam pendidikan sebagai upaya sosialisasi dan implementasi pengarusutamaan gender di bidang pendidikan.

Baca selengkapnya: 11-Urgensi Kurikulum Gender – khusnul khotimah

Advertisements

Problem Pengajaran Sastra di SMK

Teguh Trianton *)

*) Penulis adalah Sarjana Pendidikan (S.Pd.), pernah bekerja sebagai wartawan. Kini menjadi guru Bahasa dan Sastra Indonesia pada SMK Widya Manggala Purbalingga. Buku antologi yang memuat karyanya; puisi “Jiwajiwa
Mawar” (Bukulaela, 2003), “Untuk Sebuah Kasihsayang” (Bukulaela, 2004), antologi “Puisi Penyair Jawa Tengah: Pendhapa-1” (TBJT 2005). Kumpulan Cerpen (Kumcer) “Robingah Cintailah Aku” STAIN Purwokerto Press (Grafindo 2007), antologi “Temu Penyair Antar Kota: Pendhapa-5 (TBJT 2008).

Abstract: At high-school vocational education, literary lesson didn’t have yang proper portion. This is a serious problem, if education wishes to build nation character by humanizing human. The problem at vocational education is, at its 2004’s curriculum that Indonesian language lesson fully directed to one direction, namely using utilizing right and roper Indonesian language to communicate at work. Therefore, it’s the time for government and education department to reformulate or revitalize the real education goal, by equalizing all matters and lesson even if that lesson didn’t tested at national test (UN). Teacher also must apply curriculum with flexibility and wise, because curriculum inst a sacred text that annul interpretation and difference on its realization.

Keywords: vocational education, literary lesson, curriculum.

Pengantar

Hubungan bahasa dengan sastra Indonesia pada dasarnya serupa dua sisi mata uang logam. Keduanya saling ketergantungan, tidak dapat dipisahkan atau berdiri sendiri. Sastra merupakan sistem tanda yang mempunyai makna dengan bahasa sebagai mediumnya (Pradopo, 1995). Bahasa sendiri tidaklah netral, sebab sebelum jadi anasir dari bangunan karya sastra, bahasa telah memiliki arti tersendiri (meaning) berdasarkan konvensi bahasa tingkat pertama melalui pembacaan heuristik.

Sumbangan sastra sendiri terhadap khazanah bahasa Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Konvensikonvensi sastra dengan sendirinya memberikan sokongan yang besar bagi perkembangan bahasa.

Dalam pendidikan, nilai estetik dan puitik sastra selama ini diyakini mampu memompa dan membangun karakter manusia. Bahkan, mendiang Presiden Amerika Serikat John F. Kenedy (JFK) begitu yakin bahwa sastra mampu meluruskan arah kebijakan politik yang bengkok sehingga politikus yang mati tertembak ini mengatakan, “Ketika Politik Bengkok, Sastra akan Meluruskannya”.

Baca selengakapnya: 4-Problem Pengajaran Sastra – teguh trianton

Tinjauan Aspek Budaya pada Pembelajaran IPA

Fajar Hardoyono *)

*) Penulis adalah dosen STAIN Purwokerto, mahasiswa S-2 Jurusan Ilmu-ilmu MIPA, Program Studi Fisika Terapan
Bidang Elektronika Instrumentasi dan Jaringan Komputer, Sekolah Pascasarjana UGM.

Abstract:

Education deals with enlightening people and developing human resources. The reasecher concluded that
cultural background of students influences their learning attitude in the school. Therefore, the developing learning process of Natural Sciences insist student to elaborate principles of Natural Sciences without ignoring cultural valuesof local community. The policy of decentralization of Indonesian Government had authorized and legitimated local authorities to develop curriculum based on the local cultures. To do so, each local government through the officers of Education has to create a curiculum by involving some curriculum experts, instructures, natural sciences theachers, and the lectures of universities who adequately understand learning model of Natural Sciences.

Keywords: Curriculum development, ethnoscience, learning model, local government, and local based curriculum.

Pendahuluan
Sukmadinata (1997) mengutarakan beberapa sifat penting dari pendidikan, dua di antaranya
adalah2 sebagai berikut.
1. Pendidikan diarahkan pada kehidupan masyarakat. Pendidikan yang dilaksanakan oleh
pemerintah maupun swasta diadakan untuk menyiapkan siswa di dalam kehidupan masyarakat.
2. Pelaksanaan pendidikan dipengaruhi dan didukung oleh lingkungan masyarakat tempat
pendidikan itu berlangsung.
Pernyataan tersebut mengisyaratkan kedudukan penting dari masyarakat di dalam proses
pendidikan, baik di dalam perencanaan pendidikan, misalnya pengembangan kurikulum, maupun di
dalam pelaksanaan, misalnya dalam dukungan dana. Berkaitan dengan pengembangan kurikulum,
pernyataan ini juga menyiratkan perlunya kurikulum yang dikembangkan harus bertumpu pada
sistem sosial budaya masyarakat setempat. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh
Fensham (1988) bahwa kurikulum dibuat untuk memenuhi beberapa tuntutan dari pembuatnya,
antara lain tuntutan dari segi ekonomi, politik, sosial, budaya, dan individu.3 Kurikulum yang ideal
mampu mengakomodasi seluruh tuntutan tersebut. Sayangnya, kurikulum yang ada, seperti
kurikulum pendidikan IPA kita belum dapat melayani seluruh tuntutan tersebut secara seimbang.
Kurikulum yang berlaku sekarang lebih melayani kepentingan politik dan ekonomi, dengan masih
mengabaikan tuntutan sosial dan budaya.4

Baca artikel selengkapnya: 1-tinjauan-aspek-budaya-pada-pembelajaran-ipa-fajar-hardoyono

Realistic Mathematics Education (RME)

Ifada Novikasari *)

*) Penulis adalah Sarjana Sains (S.Si.), dosen di STAIN Purwokerto.

Abstract:

Teaching methods is always developed to make students became easily to understand the lesson. One of the developing methods tries to maka students can apply scientific theories to the real life. In this way, mathematics as pure science gets much attention to be developed. The most fundamental question is how students can utilize mathematics which initially in the form of concept as a formula which can be used in solving problem of life. Realistic Mathematics Education (RME) developed by Freudenthal Instute is a method which harmonize betweeen mathematics concept with reality.

Keywords: mathematics, reality, concept, and RME.

Pendahuluan
Salah satu permasalahan yang muncul terkait dengan dunia pendidikan matematika di tingkat
pendidikan dasar, menengah, dan perguruan tinggi sejak lama adalah bagaimana melakukan
transformasi berbagai konsep matematika yang telah dikenal masyarakat dengan ilmu ‘matimatian’-
nya menjadi konsep-konsep yang mengasyikkan untuk dipelajari dan mudah untuk
diaplikasikan.
Sebagai ilmu dasar, matematika perlu mendapatkan perhatian yang cukup besar karena pada
setiap aktivitas sehari-hari yang dilakukan manusia hampir bisa dipastikan tidak mungkin dapat
terlepas dari kegiatan matematika. Oleh karenanya, kebutuhan untuk mengembangkan pendidikan
matematika merupakan tuntutan yang sulit dihindarkan.
Kecenderungan yang mengarah pada pemenuhan tuntutan tersebut sedikit demi sedikit mulai
tampak. Dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir ini, Kurikulum Sekolah Dasar dan Menengah
di Indonesia mengalami perkembangan ke arah positif. Kurikulum 1994 yang dianggap berorientasi
pada materi ajar (subject-matter oriented) berkembang menjadi Kurikulum 2004 yang secara
konseptual berorientasi pada kompetensi (competency-based). Perkembangan terbaru adalah
Kurikulum 2006 yang berorientasi pada kompetensi dan otonomi sekolah (school-based) dalam
pengembangan kurikulum, terkenal dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Dalam proses pendidikan, kurikulum menempati posisi yang menentukan. Ibarat tubuh,
kurikulum merupakan jantung pendidikan.1 Kurikulum yang dikembangkan dalam praktik
pendidikan di Indonesia selama ini dipandang lebih banyak diorientasikan kepada pencapaian
kemajuan akademik, padahal sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, spektrum tujuan yang harus
dicapai oleh pendidikan lebih luas dari sekadar aspek akademik.2 Oleh karenanya, Kurikulum 2006
(KTSP) diharapkan dapat memberi angin segar bagi perubahan praktik pendidikan di Indonesia,
termasuk pendidikan matematika.

Baca artikel selengkapnya: 7-realistic-mathematics-education-ifada-nofikasari