Archive for the ‘Budaya’ Tag

Urgensi Pendidikan dalam Budaya Politik

Luthfiyah *)

*) Penulis menyelesaikan Program Magister, Konsentrasi Pemikiran Pendidikan Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang sedang menempuh Program Doktor pada tempat yang sama.

 

Abstract:

The crisis of nation is caused by the crisis of inner self and moral degradations, that politic which must be oriented to safety people, but show emphasizing to individual or group orientation finally the politic, which must have service character precisely dominated and patronage character. So, it is significant to develop cognition, affection, and psicomotoric componens on a simultant scale through education. However education has antisipatoris and preparatoris characters. The identification of democaration values and provide a model through civic education will be concrete the fundamental function of education in effort to create the humanis people and shaped unresistant education to reality. So, education can cange political culture.

Keywords: education, political culture, moral values.

 

Pendahuluan

Indonesia baru yang dicita-citakan banyak orang adalah masyarakat baru yang disebut civil society. Hal ini berarti kekuasaan berada di tangan rakyat, ditentukan oleh rakyat, dan untuk rakyat. Rakyat tidak lagi menjadi objek, tetapi sebagai subjek pelaku kekuasaan. Masyarakat madani hanya dapat terwujud jika masyarakat memperoleh pendidikan yang memadai sehingga masyarakat dapat memahami perannya dalam proses perubahan sosial secara kreatif-konstruktif untuk mencari bentuk-bentuk sintetik baru secara tulus, damai sekaligus mencerahkan.1

Oleh karena itu, pemerintah seharusnya dapat meningkatkan komitmennya untuk menciptakan pemerintahan yang bersih, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, dan berpihak pada proses pemberdayaan rakyat dengan memprioritaskan pada bidang pendidikan. Kesejahteraan rakyat seharusnya diartikan dengan semakin meningkatnya kualitas sumber daya manusia yang terdidik agar mampu meningkatkan penghasilannya secara benar, mandiri, dan kreatif. Ukuran kesejahteraan rakyat harus menyertakan indikator menguatnya etika sosial, kualitas partisipasi rakyat dalam politik, kreativitas budaya, dan komitmen moralitas keagamaan dan kemanusiaan universal, tidak semata mata menggunakan indikator ekonomi,2 meskipun ekonomi menjadi salah satu indikator di dalamnya.

Baca selengkapnya: 2-urgensi-pendidikan-dalam-budaya-politik-lutfiyah

Advertisements

Tinjauan Aspek Budaya pada Pembelajaran IPA

Fajar Hardoyono *)

*) Penulis adalah dosen STAIN Purwokerto, mahasiswa S-2 Jurusan Ilmu-ilmu MIPA, Program Studi Fisika Terapan
Bidang Elektronika Instrumentasi dan Jaringan Komputer, Sekolah Pascasarjana UGM.

Abstract:

Education deals with enlightening people and developing human resources. The reasecher concluded that
cultural background of students influences their learning attitude in the school. Therefore, the developing learning process of Natural Sciences insist student to elaborate principles of Natural Sciences without ignoring cultural valuesof local community. The policy of decentralization of Indonesian Government had authorized and legitimated local authorities to develop curriculum based on the local cultures. To do so, each local government through the officers of Education has to create a curiculum by involving some curriculum experts, instructures, natural sciences theachers, and the lectures of universities who adequately understand learning model of Natural Sciences.

Keywords: Curriculum development, ethnoscience, learning model, local government, and local based curriculum.

Pendahuluan
Sukmadinata (1997) mengutarakan beberapa sifat penting dari pendidikan, dua di antaranya
adalah2 sebagai berikut.
1. Pendidikan diarahkan pada kehidupan masyarakat. Pendidikan yang dilaksanakan oleh
pemerintah maupun swasta diadakan untuk menyiapkan siswa di dalam kehidupan masyarakat.
2. Pelaksanaan pendidikan dipengaruhi dan didukung oleh lingkungan masyarakat tempat
pendidikan itu berlangsung.
Pernyataan tersebut mengisyaratkan kedudukan penting dari masyarakat di dalam proses
pendidikan, baik di dalam perencanaan pendidikan, misalnya pengembangan kurikulum, maupun di
dalam pelaksanaan, misalnya dalam dukungan dana. Berkaitan dengan pengembangan kurikulum,
pernyataan ini juga menyiratkan perlunya kurikulum yang dikembangkan harus bertumpu pada
sistem sosial budaya masyarakat setempat. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh
Fensham (1988) bahwa kurikulum dibuat untuk memenuhi beberapa tuntutan dari pembuatnya,
antara lain tuntutan dari segi ekonomi, politik, sosial, budaya, dan individu.3 Kurikulum yang ideal
mampu mengakomodasi seluruh tuntutan tersebut. Sayangnya, kurikulum yang ada, seperti
kurikulum pendidikan IPA kita belum dapat melayani seluruh tuntutan tersebut secara seimbang.
Kurikulum yang berlaku sekarang lebih melayani kepentingan politik dan ekonomi, dengan masih
mengabaikan tuntutan sosial dan budaya.4

Baca artikel selengkapnya: 1-tinjauan-aspek-budaya-pada-pembelajaran-ipa-fajar-hardoyono

Belajar Berfilsafat Melalui Lirik Tembang

Suwartono *)

*)Penulis adalah dosen tetap di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan  Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Kini dia sedang studi Program Doktoral (S3) Pendidikan Bahasa di UniversitasNegeri Jakarta.

Abstract:

In this paper song lyrics are seen as a literary work. They are identical in nature to poems. However, to most of us, song lyrics are more familiar than poems. This paper argues that by appreciating songs (lyrics) one’s philosophical power becomes trained. Its content, that is quite often rich in hermeneutics (related to interpretation), semiotics (related to symbols) and esthetics (related to arts, beauty) – some of the approaches to philosophy, might be responsible for this. For illustrations, four selected, analysed song lyrics have been presented here.

Keywords: song lyrics, literary work, philosophy, hermeneutics, semiotics, and esthetics.


Pendahuluan

Berpikir mendalam masih belum membudaya di tengah-tengah masyarakat kita. Dalam kehidupan sehari-hari orang hanya ingin praktisnya saja, tidak berpikir yang prinsip, apalagi berpikir hingga tataran hakikat. Nilai-nilai etika, moral, dan agama kerap kali dilanggar. Itulah sebabnya, krisis multi-demensional melanda negeri ini, yang hingga makalah ini ditulis belum ada tanda-tanda kapan akan berakhir. Untuk mengatasi hal ini kuncinya terletak pada faktor manusianya, sebab dengan kelengkapan akal budi atau pikiran yang ada padanya ia meminjam istilah Bronowski, merupakan “shaper of the landscape1 – penentu bentuk dunia ini. Di dalam al-Qur’an sebagai pegangan hidup pemeluk agama Islam, Allah menyampaikan firman-Nya bahwa Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum bila kaum itu sendiri tidak mengubahnya. Tidak sedikit ayat al-Qur’an yang diakhiri dengan perkataan afala ta’qilun, afala tatafakkarun, afala tatadzabbarun –perintah untuk berpikir.2 Dengan demikian, telah diserahkan kepada manusia dengan kemampuan berpikirnya untuk menentukan arah hidup dan kehidupan ini.

Sebagaimana jelas tersurat dalam judul makalah ini, lirik tembang sebagai bagian dari karya seni bahasa akan coba dikaitkan dengan filsafat, yang bagi sebagian orang dikonotasikan sebagai sesuatu yang melangit. Makalah ini menyajikan sisi indah filsafat dengan mengangkat lirik tembang sebagai objek kajian. Bahan yang disajikan diharapkan akan berimplikasi pada pembentukan watak anak bangsa yang tengah memprihatinkan pengajaran serta pembelajaran bahasa Inggris yang masih terpuruk.

Baca artikel selengkapnya: 3-belajar-berfilsafat-suwartono