Apresiasi Sastra Indonesia di Sekolah

Maman S. Mahayana *)

*) Penulis adalah Magister Humaniora (M.Hum.), Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, dan kini tengah menempuh studi Doktor (S-3) di Malaysia.
Abstract:

The essence of literary learning is appreciation, and that only can be realized if teacher and student read those literary works. There’s numerous literary works around the world, especially traditional literary works like legends and
folktales. Why those literary treasures have been abandoned by literary learning at school? Therefore, teachers must show their faith and bravery to deliver learning matters that they feel good, appropriate, and joyful. In curriculum, KTSP (unit-learning curriculum) have give freedom to translate the Standard of competence and Basic Competence. There’s local content and matters that appropriate with local social-cultural condition?

Keywords: literary learning, appreciation, KTSP, legends and folktales.

Pendahuluan

Apakah pengajaran sastra (Indonesia) di sekolah bertujuan agar siswa; (a) menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan (b) menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia,1 atau agar siswa memperoleh pengetahuan; (a) tentang sastra dengan berbagai teori; dan (b) nama pengarang, judul, dan angkatan-angkatan?

Jika merujuk pada tujuan yang hendak dicapai pada tujuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)2 yang mulai diberlakukan tahuan ajaran 2006—2007 dan yang pemberlakuannya didasarkan pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 dan 23/2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, maka sesungguhnya KTSP memberi peluang yang lebih leluasa bagi guru dan pihak sekolah untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensinya.3 Akan tetapi, dunia pendidikan (baca: hidup) di Indonesia sering kali serba tidak terduga. Seloroh ganti menteri, ganti kurikulum-–yang selama ini selalu menjadi kenyataan—hendaknya tidak lagi terjadi.

Baca selengkapnya: 2-Apresiasi Sastra Indonesia – maman s mahayana

Pengajaran Sastra dan Politik Kebudayaan

Aprinus Salam *)

*) Penulis adalah Magister Humaniora (M.Hum.), Pengajar Fakultas Ilmu Budaya UGM, Yogyakarta, dan kini sedang menunggu ujian kelulusan program Doktor di UGM pula.

Abstract:

High school textbooks on literary facing serious problem, namely its curriculum didn’t have clear paradigm and political-cultural basis. Its content is still subjectively-based on writer taste and still circling on technical matter. Therefore, literary lesson look like structural and cognitive memorizing. Old assumption that literary is a matter of “esthetical art” that haven’t connection with life reality is still dominant. Lesson content like this should be changed, by formulate or identifying several cultural problems in Indonesia. Based on that formulation and problems identification, literary lesson’s contents packed to understand culture problems in Indonesia, therefore learning literary not only literary itself, but also become a textual ideological strategy that having vision and mission to developing Indonesia.

Keywords: High school textbooks, literary, paradigm, politicalcultural basis.

Sastra dalam Buku Pelajaran Bahasa Indonesia

Sangat banyak buku pelajaran sastra yang dititipkan ke dalam buku pelajaran bahasa Indonesia. Hal itu memang perlu dipersoalkan mengingat aspek-aspek persoalan bahasa Indonesia dan aspek kesusastraan merupakan dua hal yang berbeda. Perbedaan tersebut terutama terletak pada materi, tujuan, dan kepentingan pembelajaran. Sebetulnya, tidak ada alasan yang cukup mendasar ketika pelajaran kesusastraan “dicampur” ke dalam materi buku pelajaran bahasa Indonesia. Kebijakan makro dari negara tidak menempatkan materi pengajaran kesusastraan sebagai sesuatu yang perlu berdiri sendiri,
tampaknya perlu ditinjau ulang. Di samping itu, kemandirian dan kreativitas sekolah untuk menentukan kurikulum masih merupakan persoalan serius yang harus selalu dievaluasi, dan disesuaikan dengan kemajuan dan perubahan zaman.

Berdasarkan hasil pengamatan, tampaknya materi pelajaran sastra yang dititipkan ke dalam buku pelajaran bahasa Indonesia itu, secara umum dalam koridor dan paradigma yang sama. Hal itu dapat diketahui dari buku pelajaran Pasti Bisa Pembahasan Tuntas Kompetensi Bahasa Indonesia untuk SMP dan MTs Kelas VII-IX (Agus Trianto, 2006); Bahasa dan Sastra Indonesia (Pardimin, 2005), Bahasa Indonesia untuk kelas VII-IX (Nurhadi, Dawud, Yuni Pratiwi, 2007); Bahasa Indonesia SMP (Alex Suryanto, Anita Verly, 2004); Belajar Berbahasa Indonesia untuk SMP kelas VII – IX (Frans Asisi
Datang, Aah Hilyati, 2004); Aku Mampu Berbahasa dan Bersastra Indonesia (Joko Santoso, Anwar Efendi, Teguh Setiawan, Kastam Syamsi: 2007), dan sebagainya. Buku-buku pelajaran tersebut berkelanjutan dari SMP hingga SMA.

Baca selengkapnya: 1-Pengajaran Sastra – aprinus salam

Ibn Khaldun and Education

Fahri Kayadibi *)

*) Penulis adalah Doktor, Associate Professor di Ilahiyat Fakultesi, Istanbul University, Beyazit, Istanbul, Turki.

Abstrak:

Ibn Khaldun adalah pemikir besar muslim, yang gagasan-gagasannya mempunyai arti penting dalam sejarah pemikiran Islam. Pemikirannya yang orisinil dan inovatif, mampu meneropong ke masa sesudahnya, bahkan tetap berguna hingga kini. Dalam artikel ini, dipaparkan beberapa pemikiran Ibn Khaldun dalam dunia pendidikan, khususnya berkaitan dengan sistem pendidikan. Penekanannya tentang hubungan guru dan murid yang lebih manusiawi, dan pengajaran yang menyesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan murid, merupakan sumbangan bernilai bagi dunia pendidikan.

Kata Kunci: Ibn Khaldun, pendidikan, pengajaran, guru, murid.

Introduction
The great thinker Ibn Khaldun was born in Tunis, 1332 AD and died in Cairo, 1406 AD. His ideas have reflected their importance on the history of universal thought as much as within the Islamic realm. His thoughts are all self-created. He has been affected by savants before him but he is not a continuation of them. He created genuine and innovative ideas. It is due to this fact that although he lived during the 14th century his thoughts still manage to shed light among events of current times. His ideas have not lost their relevance as time has passed. Recognized as the founder of sociological sciences, Ibn Khaldun has been accepted and commented upon by historians, jurists, theologians, politicians, economists, teachers, educators and environmentalists alike. Ibn Khaldun’s great work of art, The Muqaddimah has been translated into the world’s most common languages.

Here, we shall try to enumerate his education-teaching views which shed light on current educational systems and consequently provide a text from which we may take benefit.

Read more: 12-Ibn Khaldun and Education – fahri kayadibi

Exploring Pedagogic Implication of the Qur’anic Stories

Suparjo*

*) Suparjo is a Lecturer of Islamic Pedagogy at Purwokerto State College for Islamic Studies, Central Java, Indonesia.

Abstract: Tulisan ini secara spesifik bermaksud mengeksplorasi bentuk-bentuk cerita dalam al-Qur’an dan makna pedagogisnya. Kajian ini penting karena hingga sekarang ini para pemikir muslim saling silang pendapat tentang hakikat dari cerita-cerita yang tertulis di dalam al-Qur’an. Pokok pangkal perbedaan mereka sebenarnya sangat terkait dengan pandangannya tentang kedudukan al-Qur’an dalam sistem epistemologi Islam. Mereka yang memandang al-Qur’an sebagai kitab suci dan sekaligus kitab sains akan menganggap cerita-cerita di dalam al-Qur’an sebagai sejarah atau kisah nyata.
Sebaliknya, mereka yang menganggap al-Qur’an sekadar kitab suci dan bukan kitab sains maka akan menganggap ceritacerita tersebut sebagai ekspresi simbolis untuk mengajarkan nilai-nilai moral dan kehidupan. Hanya saja, semua pemikir muslim menganggap cerita-cerita tersebut benar-benar bagian otentik dari al-Quran dan mempunyai relevansi makna sepanjang masa seiring dengan perkembangan kemampuan manusia untuk menerjemahkannya dalam keragaman budaya dan peradaban. Bahkan secara pedagogis, mereka mengakui bahwa menyampaikan nilai-nilai-nilai moral dan kehidupan melalui cerita dengan ekspresi yang sastrawi merupakan metode yang sangat efektif.

Keywords: the qur’anic stories, esthetic expression, contextual meaning, impressive impact, and moral values.

Introduction
The Qur’an expresses its ideas esthetically within all its verses and chapters. Therefore, it can be regarded as a book of information as well as esthetic expression along with its powerful diction and impressive notion. This was merely a counter balance to Arabian people who exalted poem and letters though all Muslims believe that its essential meaning will never lose. Principally, the Qur’an was not only functioned to build leadership and prophesy supreme of Muhammad1 but it is also functioned as a universal guidance for human beings which is not limited by time and culture.

In this case, Muslims contradict one another in determining some of the qur’anic stories as whether myth or history. Those who regard them as historical reports try to prove their scientific evidences, whereas others who just regard them as mythical narration try to elaborate their implication for human life. Only do both actually try to keep their relevant and contextual meaning for people in entire history. Thus, to regard them as either history or myth will not decrease their important role for developing ideal values gratifying human sense and reason.2

To synchronize those two controversial views, therefore, it is better to elaborate their contextual and essential meanings than their textual ones.3 For instance, the contextual and essential meaning of the story of Adam and Eve, Cain and Abel, Noah and the flood, Abraham and Namruz’s fire, Moses and Pharaoh’s magic, and other similar stories are more important than their textual meaning.4 In such away, even though each Muslim scholar has its own view in regarding those stories, each understands that they have contextual and essential meanings. Principally, all Muslim scholars seem to understand that the qur’anic stories have significant meaning for human life and sustainable nature.

Read more: 11-Exploring Pedagogic Implication – suparjo

Fenomena Kekerasan di Lingkungan Pendidikan

Ida Novianti *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), dosen tetap di Jurusan Hukum Islam (Syariah) STAIN Purwokerto.

Abstract:

Friend at school ideally have role as a partner, to motivate other student to do learning activity. Meanwhile, teacher role is as mentor, facilitator, supervisor, and role model for student. However, fact shows that bullying and violence case at school reaching frightened level. Bullying is a serious problem that can cause traumatic effect to the victim. Several factors causing bullying are family background, individual character, and school environment. Bullying can take a form like averse nickname, alienating, wrong issue, expelling, physical violence and aggression (pushing, beating, kicking), intimidation, theft, and with religion, ethnic, or gender based. Several strategies to stop bullying are adequate monitoring to student, and giving effective and distinct punishment to performer. Better communication between parent and teacher also important to resolute this problem. Theater have to give positive role model and give reinforcement, and school must proactive to formulate social skill learning program, problem solving, conflict management, and character education.

Keywords: bullying and violence, school, teacher, student.

Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu usaha untuk membentuk manusia seutuhnya yang berkualitas, baik secara akademik maupun kepribadian. Sekolah menjadi salah satu institusi ujung tombak yang menentukan keberhasilan atau kegagalan pencapaian tujuan tersebut.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kelancaran pelaksanaan program pendidikan di sekolah, baik faktor intern dan ekstern.1 Faktor intern, yaitu segala sesuatu yang berasal dari siswa itu sendiri, seperti rasa senang terhadap pelajaran, motivasi belajar siswa, kesehatan fisik, psikis, serta inteligensi. Faktor ekstern adalah segala sesuatu yang berasal dari luar siswa seperti lingkungan sekolah; berupa desain tempat belajar, ketersediaan sarana dan prasana, dan yang tidak kalah pentingnya adalah faktor relasi atau hubungan yang terjalin antara siswa dengan siswa, serta siswa dengan guru. Istilah terakhir dapat disebut dengan istilah “partner” belajar, baik yang berasal dari teman sejawat maupun guru.

Teman di lingkungan pendidikan —di sekolah— idealnya berperan sebagai “partner” siswa dalam proses pencapaian program-program pendidikan. Keberadaannya dapat mendorong siswa lain agar lebih bersemangat dalam melakukan berbagai aktivitas. Hal ini senada dengan John W. Santrock2 yang
mengatakan bahwa ada enam fungsi pertemanan/ persahabatan di lingkungan pendidikan, di antaranya adalah sebagai kawan belajar/peer lesson, pendorong, dukungan fisik, dukungan ego, perbandingan sosial, dan keakraban/afeksi. Sementara itu, guru bagi Winkel3 berperan menjadi pembimbing, fasilitator, pengawas, dan teladan bagi siswa.

Baca selengkapnya: 10-Fenomena Kekerasan – ida novianti

Mengatasi Kesulitan Anak dalam Pembelajaran Pecahan Menggunakan Model Konkret dan Gambar

Mutijah *)

*) Penulis adalah calon dosen di STAIN Purwokerto. Menyelesaikan studi S-1 di IKIP Yogyakarta (Sekarang UNY) Fakultas Pendidikan MIPA Jurusan Pendidikan Matematika, dan S-2 di Fakultas MIPA Jurusan Matematika Universitas Gadjah Mada dengan mengambil konsentrasi studi pada bidang Statistika.

Abstract:

Central of curriculum development and material’s education of research and development department to state that fractions are one topics which difficult to be teached. The difficulty is seen from little of meaning of activity to be done by teachers and difficulty of accomplishment mediator of teaching as teaching aids. The result of it, teachers direct teach to making acquaintance from fraction numbers. To follow Piaget, children in primary school old are being in operational concrete stage, so followed development’s stage the children of primary school old can construct knowledge with anything can be seen and groped. Children will very difficult to accept the concept being teached abstracly. That cause, it is to be hoped the teachers in order to do teaching of fraction concept with using of teaching aids. The models can be used to teach the fraction concept followed; region model, length model, set model, and area model. The rectangle is the easiest region model for children to draw and to partition. The rectangle is the simpliest region model to teach the fraction concept In practice, teaching of fraction concept
can be used region model of concrete rectangle and region model of picture rectangle.

Keywords: teaching of fraction, rectangle region model, concrete, picture.

Pendahuluan
Matematika senantiasa ada pada semua kurikulum sekolah. Dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai tingkat Perguruan Tinggi. Matematika senantiasa termasuk salah satu materi yang tercakup dalam kurikulum. Belajar matematika dapat digunakan sebagai suatu wahana yang memfasilitasi kemampuan bernalar, berkomunikasi, dan sebagai alat menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan nyata.1

Kita hidup di suatu zaman yang mengalami perubahan begitu luar biasa dan semakin cepat. Hal-hal baru dalam pengetahuan, alat-alat, dan cara-cara mengerjakan dan mengkomunikasikan matematika terus muncul dan berkembang.2 Oleh karena itu, tujuan diberikannya matematika pada jenjang pendidikan dasar di antaranya adalah; (1) mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia, yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran logis, rasional, kritis, cermat, jujur, dan efektif; (2) mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari, dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.3

Baca selengkapnya: 9-Mengatasi Kesulitan Anak – mutijah

Pendidik Dinamis dan Inovasi dalam Dunia Pendidikan

Asef Umar Fakhruddin *)

*) Penulis adalah Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.) alumnus UIN Sunan Kalijaga. Sekarang dia aktif sebagai peneliti di Pusat Kajian Dinamika Agama Budaya dan Masyarakat (PUSKADIABUMA) UIN Sunan Kalijaga dan penulis lepas di berbagai media massa.

Abstract:

Education is the most effective mean to internalize democracy, pluralism, and inclusive values. This kind of education can accommodate every difference. Meanwhile, education that emphasizes internalization of divine values will become solution to various problem of this nation. Dynamic education will made us understand substance and meaning of everything. This paradigm only can be manifested by teacher that have dynamic attitude, on viewing difference, on noticing student’s character and need, and to face life and this world.

Keywords: dynamic education, internalization.

Pendahuluan
Pendidik merupakan salah satu faktor terpenting dalam keberhasilan proses belajar-mengajar. Dari para pendidiklah, anak-anak didik mendapatkan media, motivasi, dan pengetahuan yang bisa mereka gunakan sebagai bekal mengarungi kehidupan. Oleh karena itu, pendidik hendaknnya benar-benar mengetahui peran dan kapasitasnya dalam memberikan proses kependidikan. Pasalnya, pendidik tidak hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan, melainkan juga pembimbing murid untuk memahami hidup dan kehidupan.

Dengan demikian, pendidik diharapkan—untuk tidak mengatakan diwajibkan, meskipun sangat diharapkan—menjadi dinamis. Pendidik yang dinamis akan berusaha mengeluarkan seluruh potensi yang dimiliki anak-anak didiknya untuk dioptimalkan dan/atau dikembangkan. Hal ini menjadi penting karena tidak sedikit bakat agung para anak didik acap tidak disumirkan. Hasilnya, mereka tidak bisa berkembang, bahkan bakat-bakat luar biasa tersebut akan mati dan hilang.

Untuk sampai pada kapasitas menjadi pendidik dinamis, khususnya pendidik dalam makna formal, harus memiliki legalisasi berupa Surat Keterangan Mengajar. Ada suatu paradigma dan sikap yang perlu kita tunjamkan dalam jiwa. Sudah seharusnya kita dan semua orang, tandas Ari Prabowo,1 General Manager Eloquent, mengakui bahwa dirinya adalah seorang guru/pendidik. Tidak hanya itu, karena di dalam proses berkehidupan begitu pun pendidikan, pada setiap sisi kehidupan kita tidak pernah lepas dari sebuah ungkapan “take and give”.

Pada proses dan keberlangsungannya, hal ini menempatkan kita sebagai guru atau pendidik. Bila kita adalah pengawas, kepala bagian, anggota staf direksi, orangtua dalam rumah tangga, kakak, paman, dan lain sebagainya, maka kita pasti dan seharusnya melakukan pekerjaan guru itu. Pasalnya, saat itu kita sedang berada di tengah-tengah masyarakat dan sudah pasti kita akan berusaha membantu orang lain. Pendek kata, saat kita membantu orang lain untuk melakukan langkah maju dalam belajar atau melakukan sesuatu, maka kita adalah seorang guru.

Baca selengkapnya: 8-Pendidik Dinamis dan Inovasi dalam Dunia Pendidikan – asef umar

Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini

Moh. Roqib *)
*) Penulis adalah ustadz pesantren, dosen tetap Jurusan Tarbiyah, dan Pembantu Ketua I STAIN Purwokerto. Saat ini sedang menunggu ujian disertasi program Doktor (S-3) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Abstract:

Today, we have to be more alert because media and technology tend to facilitate free sex behavior, that more sophisticate and easy to access. One example is via cellular phone, with parent and government more permissive to it. Giving sex education early is because human basic character forming is at children age. Psychoanalyst shows that early years of children growth giving effect to children basic character growth. Wrong education can affect and became cause of sexual deviation on their next phase of life. Early age sex education can became mean of undeviating sexual apprehension and act, positively.

Keywords: sexual education, early age.

Pendahuluan
Keresahan orangtua terhadap perkembangan free sex sudah sampai pada kondisi darurat yang harus mendapatkan penanganan khusus dari berbagai pihak terutama tokoh agama, aktivis pendidikan, dan pemerintah yang mendapatkan amanah dari rakyat untuk menyejahterakan dan membahagiakan kehidupan warga-bangsanya.1 Perhatian harus ditingkatkan karena perkembangan media dan fasilitas yang menjurus ke free sex saat ini semakin canggih, lengkap, dan mudah diakses oleh masyarakat miskin sekalipun. Fasilitas dan media yang berpotensi merusak moralitas generasi ini tidak berimbang dengan kebijakan dan tanggap darurat yang dimiliki oleh pemerintah juga tokoh-tokoh pendidikan dan agama. Perebutan dominasi ke arah kebebasan negatif dimungkinkan akan terjadi jika tidak segera dilakukan antisipasinya dengan cerdas.

Media elektronik semacam TV, video, CD, film, internet, HP, dan media cetak seperti koran, majalah, tabloid, brosur, foto, kartu, kertas stensilan yang berbau porno dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat, dan semakin terbuka dan mudah, tanpa ada pengendalian yang memadai. Orangtua dan pemerintah semakin permisif dan seakan memberikan “dukungan”, karenanya produk “kelam” ini cukup laris di pasaran.

Pelayanan mudah terkait dengan yang serba mesum bisa dipuaskan lewat lokalisasi, tempat remangremang, konsultasi seks lewat sms, dan telepon, sampai pada pemanfaatan tempat rekreasi dan hotel atau penginapan. Sudah menjadi rahasia umum, kondisi ini didiamkan oleh pemerintah atau anggota legislatif yang menangani penertiban dan penyembuhan penyakit masyarakat itu. Teguran Tuhan dengan menurunkan berbagai penyakit kelamin yang ganas dan mematikan seperti HIV/AIDS belum direspon baik oleh manusia sehingga semua komponen belum kompak tergugah untuk bergerak bersama menyelamatkan bangsa dan generasi muda.

Baca Selengkapnya: 7-Pendidikan Seks pada anak usia dini – m roqib

Pesantren dan Pluralisme: Upaya Modernisasi Pendidikan Pesantren Menuju Masyarakat Madani

Muhammad Muntahibun Nafis *)
*) Penulis adalah dosen tetap di STAIN Tulungagung; sedang menyelesaikan Program Doktor, Prodi Studi Islam, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Abstract:

Pesantren is one of the indigenous institutions of religious education in Indonesia that still exists until recently. Therefore, its role in constructing and developing society as its essential duties is always questioned. However, at least, its sustainable indicates that it fits to fulfill and dialogue with the dynamics society. In other words, it can be regarded as an institution that does not only successfully anticipate, receipt and adopt social developments but also integrates them within its essential tradition and values. This paper just focuses on how pesantren develops its values and tradition to respect plurality. As a result, pesantren has some philosophies and practices supporting in realizing multicultural and plural societies. In this sense, we still have great hope to pesantren roles in developing civilized society.

Keywords: Pesantren, Modernization, Plurality, Civilized Society.

Pendahuluan
Masyarakat madani adalah sebuah bentuk masyarakat ideal yang sangat didambakan keberadaannya oleh seluruh kalangan masyarakat, khususnya di Indonesia ini. Sudah banyak sekali pakar dan ahli yang mencoba memberikan sumbangan pemikiran demi terwujudnya masyarakat madani atau civil society. Salah satu yang dapat diusahakan adalah melalui jalur pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Pendidikan dianggap merupakan sarana yang masih efektif dan tepat untuk membangun tatanan masyarakat yang ingin berkembang, untuk tidak mengatakan berubah total.

Nurcholish Madjid berpandangan bahwa salah satu elemen yang dapat mewujudkan masyarakat madani di Indonesia adalah masyarakat pesantren dengan seluruh elemen dan pendidikannya. Pesantren adalah lembaga yang unik dan mengagumkan. Berbagai pihak menaruh harapan kepada dunia pesantren sebagai gerbong penarik terwujudnya masyarakat yang madani. Institusi pendidikan yang mampu berperan dalam menyongsong masyarakat madani adalah institusi pendidikan yang mempunyai unsur perpaduan antara nilai keislaman, keindonesiaan, dan keilmuan. Perpaduan tiga dimensi itu dijadikan landasan filosofis dalam memodernisasi pendidikan Islam seperti pesantren. Dengan modernisasi, pesantren diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual. Langkah ini, pada gilirannya akan melahirkan sumber daya manusia Indonesia masa depan yang mencerminkan kualitas civility sebagai prasyarat dalam masyarakat madani yang memiliki komitmen keislaman, keilmuan, dan kebangsaan.1

Baca Selengkapnya: 6-Pesantren dan Pluralisme – m mutabihun nafis

Pendidikan yang Memanusiakan: Sastra Pembebasan terhadap Dominasi dan Penindasan dalam Trilogi Puisi-Perempuan Abdul Wachid B.S.

Kholid Mawardi *)
*) Penulis adalah Magister Humaniora (M.Hum.), dosen tetap Jurusan Pendidikan (Tarbiyah) STAIN Purwokerto.

Abstract:

women-poem trilogy of Abdul Wachid B.S. is a work that builds on the basis class perspective, with critical education paradigm approach. These three poems describe clearly how literary work can have function to empower oneself and placed him on liberation horizon, through humanizing education. Analytical studies from those poems clarify that literary work that neglect social reality will lose empowerment and liberation meaning.

Keywords: poem, women-poem, education, liberation.

Pendahuluan
Sastra tidak mungkin dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Tidak hanya unsur estetis, imajinatif, filosofis, dan riak emosionalnya yang mengisi kehampaan ruhaniah manusia. Akan tetapi, sastra juga mampu menjadi media dokumentasi sosial sekaligus rujukan teks yang dapat digunakan untuk membaca jiwa zaman, di mana sebuah teks sastra dibuat; konteks sosial, budaya, dan paradigma penulis.1

Melalui karya sastra, kita dapat mengarungi mozaik perubahan dan/atau konsistensi sosial pada masa yang melingkupi, bahkan spekulasi jauh dari masa teks sastra dibuat. Dengan rangkaian kata-kata, sastrawan dapat menampilkan realitas dan interpretasi sosial yang mengharu-biru, menohok emosi, serta menggugah kesadaran penikmatnya pada berbagai ketimpangan, dominasi, dan penindasan dalam sebuah sistem sosial yang sering terjadi dan diciptakan, namun kadang tidak terbaca dan disadari.
Karya sastra merupakan interpretasi dan rekonstruksi realitas sosial yang dihadapi, bahkan dialami oleh penulis sastra. Interpretasi dan rekonstruksi sosial dalam karya sastra sangat bergantung kepada ideologi penulis sastra, sebagai sesuatu yang khas.2 Tidak jarang karya sastra dengan rangkaian kata-kata eksotis sebetulnya merupakan pergolakan, bahkan lebih keras merupakan sebuah pemberontakan terhadap ketimpangan-ketimpangan sosial seperti dominasi dan penindasan, pergolakan, dan pemberontakan sastrawan. Oleh karenanya, sastrawan bermetamorfosis dalam karya sastra yang menghentak dan berfungsi untuk menyadarkan penikmatnya (yang sangat mungkin mereka termasuk kelompok tertindas namun tidak merasakannya) akan adanya dominasi dan penindasan. Pada saat sastra berada pada aras penyadaran dan pencerahan terhadap penikmatnya, maka karya sastra tersebut berada dalam maqam sastra pembebasan.

Baca selengkapnya: 5-Pendidikan yang Memanusiakan – kholid mawardi