Archive for the ‘Vol. 12 No. 1 Jan-Apr 2007’ Category

Kompensasi Pendidikan

Rohmat *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), dosen tetap di STAIN Purwokerto.

Abstract:

Compensation is a kind of reward to educational worker for his/her knowledge, professionalism, time, and
thought that have been dedicated to realize school commitment to produce qualified output. Compensation and teacherperformance have straight relationship. The higher compensation levels the more effective teacher performance to enhancing education quality. Decentralization in education must be focused on developing local potential in every education organization. It has to develop a balanced effort to give great attention to teacher profession and remove any dichotomy in education. Teachers with state or private status have equal obligation to enhance education quality. Compensation becomes an important element to realize this objective.

Keywords: compensation, benefit, and education decentralization.

Pendahuluan

Kompensasi sangat berkaitan dengan pembiayaan. Secara teoretis, di bidang apapun kompensasi
menjadi penting, terlebih dalam bidang pendidikan, di mana lembaga pendidikan dipandang sebagai
produsen jasa pendidikan yang menghasilkan keahlian, keterampilan, ilmu pengetahuan, karakter, dan
nilai-nilai yang dimiliki lulusan. Kompensasi merupakan salah satu faktor pendukung bagi terwujudnya
profesionalitas guru. Profesionalitas guru menjadi tuntutan sejalan dengan kebijakan desentralisasi
pendidikan. Desentralisasi pendidikan menuntut kreativitas guru yang cukup tinggi untuk mengadakan
inovasi dan seharusnya diikuti dengan semangat reformasi pendidikan.
Reformasi pendidikan harus dimulai dari perbaikan proses belajar-mengajar di kelas. Hal ini berkait
erat dengan profesionalitas. Guru sebagai faktor yang esensial dalam keberhasilan pendidikan semetinya
harus diberikan layanan kompensasi yang memadai. Pimpinan institusi pendidikan (kepala sekolah,
rektor, ketua) harus berlaku juga sebagai pimpinan pendidikan yang dapat membantu dan mendorong
masyarakat turut mewujudkan kualitas pendidikan.1
Optimalisasi kegiatan pendidikan dalam menunjang kualitas pendidikan dapat dipandang sebagai
pelayanan (services) terhadap peserta didik selama belajar. Pendidikan sebagai proses produksi
menghasilkan lulusan yang berhasil dapat ditentukan oleh jumlah pendaftar dan komponen input dalam
suatu sistem pendidikan. Pada skala ekonomi mikro dan tingkatan keluarga atau lembaga pendidikan,
tidak terdapat hubungan fungsional antara biaya bagi produsen (lembaga) dengan biaya konsumen
(masyarakat).2 Lembaga pendidikan pada umumnya tidak langsung menanggung seluruh biaya karena
gaji tenaga pendidikan dan sarana pendidikan bersumber dari pemerintah. Uang pemerintah sebagian
besar dari masyarakat melalui pembayaran pajak. Pajak yang dibayar masyarakat dipandang sebagai
biaya tidak langsung.

Baca artikel selengkapnya: 8-kompensasi-pendidikan-rohmat

Advertisements

Realistic Mathematics Education (RME)

Ifada Novikasari *)

*) Penulis adalah Sarjana Sains (S.Si.), dosen di STAIN Purwokerto.

Abstract:

Teaching methods is always developed to make students became easily to understand the lesson. One of the developing methods tries to maka students can apply scientific theories to the real life. In this way, mathematics as pure science gets much attention to be developed. The most fundamental question is how students can utilize mathematics which initially in the form of concept as a formula which can be used in solving problem of life. Realistic Mathematics Education (RME) developed by Freudenthal Instute is a method which harmonize betweeen mathematics concept with reality.

Keywords: mathematics, reality, concept, and RME.

Pendahuluan
Salah satu permasalahan yang muncul terkait dengan dunia pendidikan matematika di tingkat
pendidikan dasar, menengah, dan perguruan tinggi sejak lama adalah bagaimana melakukan
transformasi berbagai konsep matematika yang telah dikenal masyarakat dengan ilmu ‘matimatian’-
nya menjadi konsep-konsep yang mengasyikkan untuk dipelajari dan mudah untuk
diaplikasikan.
Sebagai ilmu dasar, matematika perlu mendapatkan perhatian yang cukup besar karena pada
setiap aktivitas sehari-hari yang dilakukan manusia hampir bisa dipastikan tidak mungkin dapat
terlepas dari kegiatan matematika. Oleh karenanya, kebutuhan untuk mengembangkan pendidikan
matematika merupakan tuntutan yang sulit dihindarkan.
Kecenderungan yang mengarah pada pemenuhan tuntutan tersebut sedikit demi sedikit mulai
tampak. Dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir ini, Kurikulum Sekolah Dasar dan Menengah
di Indonesia mengalami perkembangan ke arah positif. Kurikulum 1994 yang dianggap berorientasi
pada materi ajar (subject-matter oriented) berkembang menjadi Kurikulum 2004 yang secara
konseptual berorientasi pada kompetensi (competency-based). Perkembangan terbaru adalah
Kurikulum 2006 yang berorientasi pada kompetensi dan otonomi sekolah (school-based) dalam
pengembangan kurikulum, terkenal dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Dalam proses pendidikan, kurikulum menempati posisi yang menentukan. Ibarat tubuh,
kurikulum merupakan jantung pendidikan.1 Kurikulum yang dikembangkan dalam praktik
pendidikan di Indonesia selama ini dipandang lebih banyak diorientasikan kepada pencapaian
kemajuan akademik, padahal sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, spektrum tujuan yang harus
dicapai oleh pendidikan lebih luas dari sekadar aspek akademik.2 Oleh karenanya, Kurikulum 2006
(KTSP) diharapkan dapat memberi angin segar bagi perubahan praktik pendidikan di Indonesia,
termasuk pendidikan matematika.

Baca artikel selengkapnya: 7-realistic-mathematics-education-ifada-nofikasari

Variasi dan Register Bahasa dalam Pengajaran Sosiolinguistik

Sunahrowi *)

*) Penulis adalah Sarjana Sastra Prancis (S.S.) alumni Universitas Negeri Semarang (Unnes). Kini sedang studi S-2
Prodi Sastra Indonesia Jurusan Ilmu Humaniora Sekolah Pascasarjana Gadjah Mada.

Abstract:

Teaching sociolinguistics is so important since it involves at least two disciplines, i.e. social studies and lingusitics. Sociolinguistics is a study of language linking to social circumstance. There are so many varieties of social classification, such as sex, age, status and classes in collective life that rise so many languange variation. Language variation is usually influenced by at least three factors; geographical area that rise local dialect, social factors relating to social classes and status, and educational background. Those aspects develop social dialect and register.

Keywords: Variation, Register, Sociolinguistics, and Teaching.


Pendahuluan

Pengajaran sosiolinguistik, terutama pada mahasiswa di perguruan tinggi bertujuan untuk
memperkenalkan tentang hakikat keberadaan bahasa di dalam masyarakat. Bahasa dan masyarakat
merupakan dua hal yang saling berkaitan, keduanya mempunyai hubungan layaknya hubungan
simbiosis mutualisme, hubungan antara dua makhluk hidup yang saling menggantungkan dan
menguntungkan. Hubungannya tampak jelas bahwa ujaran dan bunyi disebut sebagai bahasa jika
berada dan digunakan oleh masyarakat. Masyarakat tidak dapat berjalan (survive) tanpa adanya
bahasa yang berguna sebagai sarana untuk saling berinteraksi dan bekerjasama antarindividu di
masyarakat. Lembaga-lembaga yang dibentuk oleh anggota masyarakat dipertahankan dan
dikembangkan dengan menggunakan bahasa. Tiada satu segi kehidupan yang dapat dipisahkan
dengan bahasa. Kita memanipulasi, membujuk, mengejek, dan bernegosiasi tanpa kita sadari bahwa
kita sedang terlibat dalam pelaksanaan kehidupan berbahasa.
Keberagaman bahasa akan dapat dijangkau, diketahui, dan dipahami oleh siswa maupun
mahasiswa melalui pengajaran sosiolinguistik, yaitu ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa
dan kaitannya dengan masyarakat. Secara sederhana Pride dan Holmes merumuskan sosiolinguistik
sebagai “……the study of language as part of culture and society,” yaitu kajian bahasa sebagai bagian
dari kebudayaan dan masyarakat.1 Sosiolinguistik menelaah penggunaan bahasa sebagai alat
interaksi anggota masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat sebagai unsur penting di
samping bahasa sendiri dalam penelaahan sosiolinguistik. Tata bahasa tidak lengkap apabila dalam
kaidah-kaidahnya tidak dimasukkan faktor sosial seperti umur, keluarga, latar belakang, dan
kelompok masyarakat. Faktor sosial berpengaruh terhadap munculnya variasi bahasa, baik berupa
kalimat maupun ujaran dalam masyarakat.

Baca artikel selengkapnya: 6-variasi-dan-register-bahasa-sunahrowi

Profesionalisme Pendidik

Rahman Afandi *)
*) Penulis adalah Sarjana Agama (S.Ag.), sedang menyelesaikan studinya di Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta.

Abstract:

Profession means an occupation that requires a qualification of education, skill, and standardization. As well, a profession also requires social responsibility. Therefore, a teacher as a professional worker has to have a qualification of education so that he can properly does his/her duty and function. In other words, a professional teacher is one that well educated and trained on his/her subject. In detail, a teacher (to some extent including a lecturer) must have proper education concerning on his/her subject, good academic capability, faith and piety, good character, and good emotional and social intelligence.

Keywords: educator, Professional, and enhancing education.

Pendahuluan
Pendidik (guru dan dosen) merupakan salah satu di antara faktor pendidikan yang memiliki peranan strategis sebab faktor pendidik menentukan terjadinya proses belajar mengajar. Di tangan guru-dosen yang cekatan dan energik, pendidikan yang kurang memadai dapat diatasi. Sebaliknya, di tangan pendidik yang kurang cakap, sarana dan fasilitas yang canggih tidak banyak memberi manfaat.
Berangkat dari asumsi tersebut, maka langkah pertama yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kualitas pendidikan adalah dengan memperbaiki kualitas tenaga pendidiknya terlebih dahulu. Dipersyaratkannya Program Diploma Empat (D.IV) atau Sarjana S.1 bagi guru, dan Magister (S.2), maupun Doktor (S.3) bagi dosen merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas pendidik yang dimaksud.
Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik tersebut diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat. Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.2
Demikian pula dosen, ia wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik dosen diperoleh melalui pendidikan tinggi program pascasarjana yang terakreditasi sesuai dengan bidang keahlian. Dosen harus memiliki kualifikasi akademik minimum lulusan program magister untuk program diploma atau program sarjana, dan lulusan program doktor untuk program pascasarjana.3

Baca artikel selengkapnya: 5-profesionalisme-pendidik-rahman-afandi

Penggunaan Komputer sebagai Media Pembelajaran di Perguruan Tinggi

Maria Ulpah *)

*)Penulis adalah Sarjana Sains (S.Si.), dosen STAIN Purwokerto.

Abstract

Although computer has been used in into the educational world since along ago, it is not intensively used as media in learning process at university. It usually used as media in learning process only for computer lesson. If its functions in a larger as media in learning process of other lessons, it hopefully became an alternative way to improve the quality of learning at university.

Keyword: computer, media, and learning process.

 

Pendahuluan

Media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran adalah proses komunikasi antara pengajar, peserta didik, dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media. Jadi, sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pembelajaran.

Kegiatan belajar peserta didik dengan bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik daripada tanpa bantuan media. Dengan media diharapkan terjadi interaksi antara dosen dengan mahasiswa secara maksimal sehingga dapat mencapai hasil belajar yang sesuai dengan tujuan.Tidak ada ketentuan kapan suatu media harus digunakan, tetapi sangat disarankan bagi para dosen untuk memilih dan menggunakan media dengan tepat. Penggunaan media pembelajaran yang tidak tepat akan menyebabkan mahasiswa salah paham terhadap pokok bahan ajar yang diberikan dan menghalangi mereka untuk mencapai hasil belajar seperti yang diinginkan.

Dalam pemilihan dan penggunaan media harus mempertimbangkan: kesesuaian media dengan materi yang akan dibahas; Oleh karena media pembelajaran amat menentukan hasil proses pendidikan, maka manusia secara terus menerus memperbaiki media pembelajaran. Dari yang paling sederhana, dengan menggunakan media tulis yang terbuat dari batu, dimanfaatkannya papan tulis pada pertengahan abad XIX, penggunaan radio pada awal abad XX, hingga penggunaan  (OHP), dan komputer. Televisi sebagai media pembelajaran pun sudah dikenal dan dipergunakan saat ini, misalnya pada acara perkuliahan Universitas Terbuka (UT). Papan tulis adalah media yang hampir selalu digunakan oleh semua dosen dan selalu ada di setiap ruang, di perguruan tinggi manapun. Selain papan tulis, OHP juga umum digunakan di dalam proses perkuliahan atau pelatihan.

Baca artikel selengkapnya: 4-penggunaan-komputer-maria-ulpah

Belajar Berfilsafat Melalui Lirik Tembang

Suwartono *)

*)Penulis adalah dosen tetap di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan  Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Kini dia sedang studi Program Doktoral (S3) Pendidikan Bahasa di UniversitasNegeri Jakarta.

Abstract:

In this paper song lyrics are seen as a literary work. They are identical in nature to poems. However, to most of us, song lyrics are more familiar than poems. This paper argues that by appreciating songs (lyrics) one’s philosophical power becomes trained. Its content, that is quite often rich in hermeneutics (related to interpretation), semiotics (related to symbols) and esthetics (related to arts, beauty) – some of the approaches to philosophy, might be responsible for this. For illustrations, four selected, analysed song lyrics have been presented here.

Keywords: song lyrics, literary work, philosophy, hermeneutics, semiotics, and esthetics.


Pendahuluan

Berpikir mendalam masih belum membudaya di tengah-tengah masyarakat kita. Dalam kehidupan sehari-hari orang hanya ingin praktisnya saja, tidak berpikir yang prinsip, apalagi berpikir hingga tataran hakikat. Nilai-nilai etika, moral, dan agama kerap kali dilanggar. Itulah sebabnya, krisis multi-demensional melanda negeri ini, yang hingga makalah ini ditulis belum ada tanda-tanda kapan akan berakhir. Untuk mengatasi hal ini kuncinya terletak pada faktor manusianya, sebab dengan kelengkapan akal budi atau pikiran yang ada padanya ia meminjam istilah Bronowski, merupakan “shaper of the landscape1 – penentu bentuk dunia ini. Di dalam al-Qur’an sebagai pegangan hidup pemeluk agama Islam, Allah menyampaikan firman-Nya bahwa Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum bila kaum itu sendiri tidak mengubahnya. Tidak sedikit ayat al-Qur’an yang diakhiri dengan perkataan afala ta’qilun, afala tatafakkarun, afala tatadzabbarun –perintah untuk berpikir.2 Dengan demikian, telah diserahkan kepada manusia dengan kemampuan berpikirnya untuk menentukan arah hidup dan kehidupan ini.

Sebagaimana jelas tersurat dalam judul makalah ini, lirik tembang sebagai bagian dari karya seni bahasa akan coba dikaitkan dengan filsafat, yang bagi sebagian orang dikonotasikan sebagai sesuatu yang melangit. Makalah ini menyajikan sisi indah filsafat dengan mengangkat lirik tembang sebagai objek kajian. Bahan yang disajikan diharapkan akan berimplikasi pada pembentukan watak anak bangsa yang tengah memprihatinkan pengajaran serta pembelajaran bahasa Inggris yang masih terpuruk.

Baca artikel selengkapnya: 3-belajar-berfilsafat-suwartono

Strategi Pembelajaran Era Digital

Fajar Hardoyono *)

*) Penulis adalah dosen STAIN Purwokerto, mahasiswa S-2 Jurusan Ilmu-ilmu MIPA, Program Studi Fisika Terapan Bidang Elektronika Instrumentasi dan Jaringan Komputer, Sekolah Pascasarjana UGM.

 

Abstract:

The most important devices for digital campus development are computer network, Internet, and content. Computer network and Internet depend on the outside factors, i.e. vendors and technology suppliers. The last devices depend on the internal factor but it must be suitable by the users. The users in digital campus include all of the students, lectures, and the non-academic staff. This paper is not only to propose how to manage the content of digital learning but also to propose the digital learning model and the development of cyber campus in State College of Islamic Studies of Purwokerto, Central Java.

Keywords: digital campus, computer network-internet-content, and digital learning model.

 

Pendahuluan

Kebijakan pengembangan cyber kampus merupakan petunjuk kuat bahwa STAIN Purwokerto akan memasuki era kampus digital. Apakah kampus digital lebih unggul dibandingkan kampus tradisional? Suatu pertanyaan menantang yang tergantung dari definisi “kampus digital” itu sendiri, salah satunya adalah “segala usaha untuk mengubah sumber daya kampus yang ada ke dalam bentuk digital berbasis internet, melalui alat atau instrumen yang canggih, sedemikian rupa sehingga kehidupan nyata kampus dapat ditingkatkan melebihi waktu maupun ruang yang ada”2 [Sumber daya itu meliputi semua informasi di lingkungan kampus (jadwal transportasi yang tersedia, perbankan, kantin, ketersediaan fasilitas), sumber daya material (buku, materi/modul pembelajaran) sampai dengan aktivitas kampus (proses belajar dan mengajar, manajemen, dan pelayanan administrasi).

Jika demikian halnya maka jelaslah bahwa kampus digital akan lebih unggul jika dibandingkan dengan yang tradisional. Bayangkan, perpustakaan dapat diakses malam hari langsung dari rumah, tugas dikumpulkan melalui email, pengumuman kampus diakses tanpa harus ke kampus, dan sebagainya.3 Teknologi Informasi (TI) yang merupakan tulang punggung kampus digital, didukung oleh tiga komponen utama,4 computer, communication, dan content. Tentulah yang dimaksud dengan communication adalah jaringan internet. Dengan adanya jalinan kerjasama kampus dengan tiga vendor raksasa teknologi, yaitu Microsoft-Intel-Toshiba maka sudah diperoleh jaminan bahwa dua komponen pertama di atas pasti akan berfungsi sebagaimana dimaksud, sedangkan komponen content tidak sepenuhnya dapat dijamin keberhasilannya karena tergantung dari manusia-manusia pengelola maupun pemakainya.

Baca artikel selengkapnya:  2-strategi-pembelajaran-era-digital-fajar-hardoyono

Pendidikan Nilai: Telaah tentang Model Pembelajaran

Subur *)
*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), dosen STAIN Purwokerto.

Abstract:

A nation that praises Divine value, progress, and humanity will always sensitive about value issue. Value become reference and parameter each time human think, stand, and act. It because value is important aspect of civilized human life. Values will always being sought, obeyed, and acted; even not every man can practice it perfectly, especially in this materialistic and hedonistic era. Value internalisation will become harder. However, changing behaviour and life tendency that producing much clash and conflict causing human awareness about importance of value. Here, value can be developed through many models according to human character.

Keywords: value, meaning, structure, and valuelearning strategy.

Pendahuluan

Wajah kehidupan bangsa Indonesia yang kita saksikan saat ini, seperti tindakan korupsi yang menggurita, perilaku melanggar berbagai aturan yang seolah telah menjadi kebiasaan, tidak disiplin waktu, sikap hidup pragmatis/hedonis, rendahnya etos kerja, lemahnya semangat enterpreneourship, sedikitnya tenaga profesional, dan banyaknya perilaku kekerasan dengan berbagai bentuknya secara langsung atau tidak merupakan potret buram dan produk institusi pendidikan. Hal ini sekaligus juga menjadi indikator bahwa pendidikan kita gagal dalam menjalankan fungsinya.
Pendidikan yang berlangsung selama ini lebih banyak mengejar target formalitas dan kurikulum yang telah ditetapkan, tetapi kurang banyak menekankan pada pencapaian tujuan yang berdimensi pembentukan watak dan kepribadian (character building). Proses pembelajaran yang berkembang masih lebih banyak berorientasi pada penguasaan pengetahuan (kognitif domain) dengan menggunakan model pembelajaran yang monolog, teks book, verbalistik (meski sudah mulai banyak dikenalkan berbagai strategi pembelajaran aktif, tetapi ironis juga karena di kalangan peserta
didik tidak memiliki landasan kultural yang kokoh, fasilitas yang minim, dan tenaga pendidik yang ada merupakan stok dan produk lama dengan kultur yang lama pula). Oleh karena itu, tidaklah mengherankan meskipun bangsa ini secara teritorial sudah merdeka dan pendidikan sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun, tetapi tidak begitu signifikan dalam melahirkan perubahan perilaku out-put ke arah yang lebih maju, adil, manusiawi, dan profesional. Situasi di atas tentu
menimbulkan kegelisahan bahwa ada permasalahan yang cukup memperihatinkan dalam dunia pendidikan di negeri ini.
Penekanan terhadap pendidikan nilai merupakan bagian penting yang sering terlupakan dalam proses pendidikan selama ini. Padahal substansi dari pendidikan itu sendiri adalah proses untuk mengembangkan watak optimisme dalam diri manusia, memberikan kesadaran kritis agar manusia mampu mengembangkan penalaran, memanggil kepada manusia akan kebenaran hakiki, dan memberikan pencerahan iman serta akal budi manusia1

Dengan pendidikan yang sangat menekankan pada aspek nilai diharapkan akan lahir manusia yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap penegakan nilai-nilai kebenaran, keadilan, kemanusiaan, dan kemajuan yang merupakan nafas (ruh) dalam kehidupan manusia di bumi ini.

Baca artikel selengkapnya: `1-pendidikan-nilai-subur