Penguasaan Bahasa Inggris Melalui Extensive Reading Program

Munjin *)
*) Penulis adalah Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I.), dosen tetap Jurusan Pendidikan (Tarbiyah) STAIN Purwokerto.

Abstract:

Even though there is no representative data reporting the profile of Indonesian students’ proficiency in English, it seems that English teaching program has been largely unsuccessful. Factually, most of high school graduates just had average reading vocabulary of 1000 words, a number considered too small. This phenomenon needs an appropriate solution.
Extensive Reading Program (ERP) may be the answer. Why? Because it can, with “easy and interesting” strategy, motivate students’ interest in reading, increase their language acquisition, and eliminate their negative predisposition on English as either difficult language or bored lesson.

Keywords: unsuccessful teaching, language acquisition, Extensive Reading Program.

Pendahuluan
Pengajaran bahasa Inggris (English Language Teaching: ELT) merupakan suatu masalah yang sangat kompleks. Ada sejumlah variabel atau faktor yang secara potensial dapat mempengaruhi keberhasilan pengajaran bahasa asing. Namun, faktor metode mengajar dapat dianggap sebagai faktor determinan dalam menentukan keberhasilan pengajaran bahasa Inggris.

Meskipun demikian, telah banyak upaya yang dilakukan untuk mengembangkan kualitas pengajaran bahasa Inggris, secara umum hasilnya masih sangat memprihatinkan. Menurut Wulan Retno, hampir sebagian besar alumni sarjana strata satu (S-1) masih sangat kesulitan memahami teks berbahasa Inggris.1 Hal senada diungkapkan oleh Darjdowidjojo2 bahwa para praktisi, pakar pembelajaran bahasa, dan pembuat kebijakan menyadari betul akan belum berhasilnya pembelajaran bahasa Inggris. Siswa yang telah memperoleh materi dalam jangka waktu yang cukup lama (SMPSMA) juga belum mampu menyusun kalimat sederhana dalam bahasa Inggris, apalagi
menggunakannya secara aktif.

Namun demikian, data empiris yang menggambarkan tentang kemampuan berbahasa siswa secara komprehensif masih sangat jarang. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Quin’s, sebagaimana dikutip oleh Lowenberg3 menyebutkan bahwa lulusan sekolah tingkat atas (SLTA) rata-rata hanya
menguasai 1000 kosa kata. Sebuah penguasaan yang sangat minim untuk dapat memahami referensi berbahasa Inggris di perguruan tinggi. Menurut Sadtono,4 rendahnya penguasaan siswa terhadap bahasa Inggris lebih banyak disebabkan oleh rendahnya kompetensi guru. Masih banyak guru bahasa yang
sangat lemah dalam memadukan teori-teori dan pendekatan secara interdisipliner, terlebih lagi dalam pembelajaran reading. Fakta ini ditemukan dalam sebuah penelitian terhadap guru-guru bahasa yang mengambil program doktor di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Dalam penelitian itu digambarkan sebagai berikut.

Baca selengkapnya: 3-Penguasaan Bahasa Inggris – munjin

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: