Pengajaran Sastra dan Politik Kebudayaan

Aprinus Salam *)

*) Penulis adalah Magister Humaniora (M.Hum.), Pengajar Fakultas Ilmu Budaya UGM, Yogyakarta, dan kini sedang menunggu ujian kelulusan program Doktor di UGM pula.

Abstract:

High school textbooks on literary facing serious problem, namely its curriculum didn’t have clear paradigm and political-cultural basis. Its content is still subjectively-based on writer taste and still circling on technical matter. Therefore, literary lesson look like structural and cognitive memorizing. Old assumption that literary is a matter of “esthetical art” that haven’t connection with life reality is still dominant. Lesson content like this should be changed, by formulate or identifying several cultural problems in Indonesia. Based on that formulation and problems identification, literary lesson’s contents packed to understand culture problems in Indonesia, therefore learning literary not only literary itself, but also become a textual ideological strategy that having vision and mission to developing Indonesia.

Keywords: High school textbooks, literary, paradigm, politicalcultural basis.

Sastra dalam Buku Pelajaran Bahasa Indonesia

Sangat banyak buku pelajaran sastra yang dititipkan ke dalam buku pelajaran bahasa Indonesia. Hal itu memang perlu dipersoalkan mengingat aspek-aspek persoalan bahasa Indonesia dan aspek kesusastraan merupakan dua hal yang berbeda. Perbedaan tersebut terutama terletak pada materi, tujuan, dan kepentingan pembelajaran. Sebetulnya, tidak ada alasan yang cukup mendasar ketika pelajaran kesusastraan “dicampur” ke dalam materi buku pelajaran bahasa Indonesia. Kebijakan makro dari negara tidak menempatkan materi pengajaran kesusastraan sebagai sesuatu yang perlu berdiri sendiri,
tampaknya perlu ditinjau ulang. Di samping itu, kemandirian dan kreativitas sekolah untuk menentukan kurikulum masih merupakan persoalan serius yang harus selalu dievaluasi, dan disesuaikan dengan kemajuan dan perubahan zaman.

Berdasarkan hasil pengamatan, tampaknya materi pelajaran sastra yang dititipkan ke dalam buku pelajaran bahasa Indonesia itu, secara umum dalam koridor dan paradigma yang sama. Hal itu dapat diketahui dari buku pelajaran Pasti Bisa Pembahasan Tuntas Kompetensi Bahasa Indonesia untuk SMP dan MTs Kelas VII-IX (Agus Trianto, 2006); Bahasa dan Sastra Indonesia (Pardimin, 2005), Bahasa Indonesia untuk kelas VII-IX (Nurhadi, Dawud, Yuni Pratiwi, 2007); Bahasa Indonesia SMP (Alex Suryanto, Anita Verly, 2004); Belajar Berbahasa Indonesia untuk SMP kelas VII – IX (Frans Asisi
Datang, Aah Hilyati, 2004); Aku Mampu Berbahasa dan Bersastra Indonesia (Joko Santoso, Anwar Efendi, Teguh Setiawan, Kastam Syamsi: 2007), dan sebagainya. Buku-buku pelajaran tersebut berkelanjutan dari SMP hingga SMA.

Baca selengkapnya: 1-Pengajaran Sastra – aprinus salam

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: