Pendidikan yang Memanusiakan: Sastra Pembebasan terhadap Dominasi dan Penindasan dalam Trilogi Puisi-Perempuan Abdul Wachid B.S.

Kholid Mawardi *)
*) Penulis adalah Magister Humaniora (M.Hum.), dosen tetap Jurusan Pendidikan (Tarbiyah) STAIN Purwokerto.

Abstract:

women-poem trilogy of Abdul Wachid B.S. is a work that builds on the basis class perspective, with critical education paradigm approach. These three poems describe clearly how literary work can have function to empower oneself and placed him on liberation horizon, through humanizing education. Analytical studies from those poems clarify that literary work that neglect social reality will lose empowerment and liberation meaning.

Keywords: poem, women-poem, education, liberation.

Pendahuluan
Sastra tidak mungkin dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Tidak hanya unsur estetis, imajinatif, filosofis, dan riak emosionalnya yang mengisi kehampaan ruhaniah manusia. Akan tetapi, sastra juga mampu menjadi media dokumentasi sosial sekaligus rujukan teks yang dapat digunakan untuk membaca jiwa zaman, di mana sebuah teks sastra dibuat; konteks sosial, budaya, dan paradigma penulis.1

Melalui karya sastra, kita dapat mengarungi mozaik perubahan dan/atau konsistensi sosial pada masa yang melingkupi, bahkan spekulasi jauh dari masa teks sastra dibuat. Dengan rangkaian kata-kata, sastrawan dapat menampilkan realitas dan interpretasi sosial yang mengharu-biru, menohok emosi, serta menggugah kesadaran penikmatnya pada berbagai ketimpangan, dominasi, dan penindasan dalam sebuah sistem sosial yang sering terjadi dan diciptakan, namun kadang tidak terbaca dan disadari.
Karya sastra merupakan interpretasi dan rekonstruksi realitas sosial yang dihadapi, bahkan dialami oleh penulis sastra. Interpretasi dan rekonstruksi sosial dalam karya sastra sangat bergantung kepada ideologi penulis sastra, sebagai sesuatu yang khas.2 Tidak jarang karya sastra dengan rangkaian kata-kata eksotis sebetulnya merupakan pergolakan, bahkan lebih keras merupakan sebuah pemberontakan terhadap ketimpangan-ketimpangan sosial seperti dominasi dan penindasan, pergolakan, dan pemberontakan sastrawan. Oleh karenanya, sastrawan bermetamorfosis dalam karya sastra yang menghentak dan berfungsi untuk menyadarkan penikmatnya (yang sangat mungkin mereka termasuk kelompok tertindas namun tidak merasakannya) akan adanya dominasi dan penindasan. Pada saat sastra berada pada aras penyadaran dan pencerahan terhadap penikmatnya, maka karya sastra tersebut berada dalam maqam sastra pembebasan.

Baca selengkapnya: 5-Pendidikan yang Memanusiakan – kholid mawardi

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: