Fenomena Kekerasan di Lingkungan Pendidikan

Ida Novianti *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), dosen tetap di Jurusan Hukum Islam (Syariah) STAIN Purwokerto.

Abstract:

Friend at school ideally have role as a partner, to motivate other student to do learning activity. Meanwhile, teacher role is as mentor, facilitator, supervisor, and role model for student. However, fact shows that bullying and violence case at school reaching frightened level. Bullying is a serious problem that can cause traumatic effect to the victim. Several factors causing bullying are family background, individual character, and school environment. Bullying can take a form like averse nickname, alienating, wrong issue, expelling, physical violence and aggression (pushing, beating, kicking), intimidation, theft, and with religion, ethnic, or gender based. Several strategies to stop bullying are adequate monitoring to student, and giving effective and distinct punishment to performer. Better communication between parent and teacher also important to resolute this problem. Theater have to give positive role model and give reinforcement, and school must proactive to formulate social skill learning program, problem solving, conflict management, and character education.

Keywords: bullying and violence, school, teacher, student.

Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu usaha untuk membentuk manusia seutuhnya yang berkualitas, baik secara akademik maupun kepribadian. Sekolah menjadi salah satu institusi ujung tombak yang menentukan keberhasilan atau kegagalan pencapaian tujuan tersebut.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kelancaran pelaksanaan program pendidikan di sekolah, baik faktor intern dan ekstern.1 Faktor intern, yaitu segala sesuatu yang berasal dari siswa itu sendiri, seperti rasa senang terhadap pelajaran, motivasi belajar siswa, kesehatan fisik, psikis, serta inteligensi. Faktor ekstern adalah segala sesuatu yang berasal dari luar siswa seperti lingkungan sekolah; berupa desain tempat belajar, ketersediaan sarana dan prasana, dan yang tidak kalah pentingnya adalah faktor relasi atau hubungan yang terjalin antara siswa dengan siswa, serta siswa dengan guru. Istilah terakhir dapat disebut dengan istilah “partner” belajar, baik yang berasal dari teman sejawat maupun guru.

Teman di lingkungan pendidikan —di sekolah— idealnya berperan sebagai “partner” siswa dalam proses pencapaian program-program pendidikan. Keberadaannya dapat mendorong siswa lain agar lebih bersemangat dalam melakukan berbagai aktivitas. Hal ini senada dengan John W. Santrock2 yang
mengatakan bahwa ada enam fungsi pertemanan/ persahabatan di lingkungan pendidikan, di antaranya adalah sebagai kawan belajar/peer lesson, pendorong, dukungan fisik, dukungan ego, perbandingan sosial, dan keakraban/afeksi. Sementara itu, guru bagi Winkel3 berperan menjadi pembimbing, fasilitator, pengawas, dan teladan bagi siswa.

Baca selengkapnya: 10-Fenomena Kekerasan – ida novianti

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: