Apresiasi Sastra Indonesia di Sekolah

Maman S. Mahayana *)

*) Penulis adalah Magister Humaniora (M.Hum.), Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, dan kini tengah menempuh studi Doktor (S-3) di Malaysia.
Abstract:

The essence of literary learning is appreciation, and that only can be realized if teacher and student read those literary works. There’s numerous literary works around the world, especially traditional literary works like legends and
folktales. Why those literary treasures have been abandoned by literary learning at school? Therefore, teachers must show their faith and bravery to deliver learning matters that they feel good, appropriate, and joyful. In curriculum, KTSP (unit-learning curriculum) have give freedom to translate the Standard of competence and Basic Competence. There’s local content and matters that appropriate with local social-cultural condition?

Keywords: literary learning, appreciation, KTSP, legends and folktales.

Pendahuluan

Apakah pengajaran sastra (Indonesia) di sekolah bertujuan agar siswa; (a) menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan (b) menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia,1 atau agar siswa memperoleh pengetahuan; (a) tentang sastra dengan berbagai teori; dan (b) nama pengarang, judul, dan angkatan-angkatan?

Jika merujuk pada tujuan yang hendak dicapai pada tujuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)2 yang mulai diberlakukan tahuan ajaran 2006—2007 dan yang pemberlakuannya didasarkan pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 dan 23/2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, maka sesungguhnya KTSP memberi peluang yang lebih leluasa bagi guru dan pihak sekolah untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensinya.3 Akan tetapi, dunia pendidikan (baca: hidup) di Indonesia sering kali serba tidak terduga. Seloroh ganti menteri, ganti kurikulum-–yang selama ini selalu menjadi kenyataan—hendaknya tidak lagi terjadi.

Baca selengkapnya: 2-Apresiasi Sastra Indonesia – maman s mahayana

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: