Urgensi Studi Ekonomi Islam

Ahmad Dahlan *)

*) Penulis adalah Magister Studi Islam (M.S.I.), dosen tetap dan Ketua Prodi Ekonomi Islam, Jurusan Hukum Islam (Syari’ah) STAIN Purwokerto.

Abstract:

Islamic economy discourse tend to viewed as no more than conventional economy that developed with ethic-religious content, but actually it’s have wide and specific area. To elaborate that width, nowadays urgently needed a
study media or special education related with Islamic economy science discipline. The aim is to produce economist that have humanist and religious mental, therefore economy can maintain its religious norms.

Keywords: urgency, study, Islam economy, humanist economist.

Pendahuluan

Studi ekonomi Islam merupakan proses aktualisasi dan kontekstualisasi fiqhiyyah al-muamalah atau asasul itqishâdiyah (dasar-dasar ilmu ekonomi) terhadap kebutuhan sistem ekonomi. Aktualisasi dan kontekstualisasi ini selaras dengan fenomena empiris yang menuntut domain keilmuan normatif tidak menjadi rutinitas teks yang hanya dikaji dan dibaca, tetapi harus aplikabel sehingga atas dasar ini dibutuhkan studi di bidang ekonomi.

Kebutuhan terhadap studi tersebut semakin mendesak karena; pertama dari aspek sistem, ekonomi Islam berkembang pada saat hegemoni sistem kapitalis telah berpengaruh pada hampir seluruh aktivitas ekonomi publik. Kedua, dari aspek opini publik, masih terdapat kesalahpahaman masyarakat muslim bahwa sistem ekonomi Islam hanya sistem ekonomi konvensional yang berganti baju dan dipoles sedikit sehingga tampak islami.

Ketiga, dari aspek political will, beragam regulasi terkait dengan sistem ekonomi Islam telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia melalui perundang-undangan atau peraturan hukum yang lain. Di bidang perbankan terdapat UU Nomor 10 Tahun 1998 pengganti UU No 7 Tahun 1992 dan UU
Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia yang membuka peluang bisnis Perbankan Syariah dan Lembaga Keuangan Syariah nonbank semakin berkembang. Di bidang fiskal, terdapat UU Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat dan KMA Nomor 581 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat yang menjadikan seseorang yang telah membayar zakat sebesar 2,5 persen dapat mengurangi kewajiban pembayaran pajak. Di bidang peradilan, terdapat UU No. 3 Tahun 2006 tentang Pengadilan Agama yang kewenangan kompetensinya bertambah untuk menyelesaikan kasus-kasus yang terkait bisnis syariah.

Ketiga hal di atas semakin memberikan kejelasan bahwa studi ekonomi Islam menjadi sesuatu yang urgen. Studi ekonomi Islam dibutuhkan untuk dapat memberikan suatu penguatan terhadap sistem yang telah berjalan sehingga menjadi lebih baik serta mengklarifikasi bahwa sistem ekonomi tidak melenceng dari asas-asas normatif. Semakin banyak studi ekonomi Islam dilakukan secara formal, maka akan banyak lahir intelektual (ahli ekonomi Islam) yang dapat menerjemahkan kebutuhan aplikasi terhadap teks-teks normatif yang terdapat dalam fiqhiyyah al-muamalah atau asasul itqishâdiyah.

Baca selengkapnya: 9-urgensi-studi-ekonomi-islam-ahmad-dahlan

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: