Tantangan Pendidikan Islam di Era Globalisasi

A. Fatih Syuhud *)

*) Penulis adalah Kandidat Doktor Islamic Studies, di Jamia Millia University, New Delhi, India, dan aktif nge-blog di http://www.fatihsyuhud.com.

Abstract:

From the beginning of television era, Islamic society become only as consumer, and West (non-Muslim) as ruler and of every modern technology. From this, there’s several problems related with Islamic education. First, what step should taken by every Muslim, parent and educator to anticipation and response early to moral distortion symptom made by television, internet, and other media? Second, west is the only key master from every news media, newspaper or electronic media. News tends to contain bias, especially if correlated with Islamic world. Third, science and technology become specific domination of western word, therefore every Muslim who interested to delve with this field forced to follow western term-term, that often contrary with Islamic vales, and unconsciously they become fanatic defender of West. Therefore, Islamic education needs
participation of every Muslim individual, and also institution, or even state.

Keywords: television era, globalization, Islamic vales, Islamic education.

Pendahuluan
Teknologi modern telah memungkinkan terciptanya komunikasi bebas lintas benua, lintas negara, menerobos berbagai pelosok perkampungan di pedesaan dan menyelusup di gang-gang sempit di perkotaan, melalui media audio (radio) dan audio visual (televisi, internet, dan lain-lain). Fenomena
modern yang terjadi di awal milenium ketiga ini popular dengan sebutan globalisasi.

Sebagai akibatnya, media ini, khususnya televisi, dapat dijadikan alat yang sangat ampuh di tangan sekelompok orang atau golongan untuk menanamkan atau, sebaliknya, merusak nilai-nilai moral, untuk mempengaruhi atau mengontrol pola pikir seseorang oleh mereka yang mempunyai kekuasaan terhadap media tersebut. Persoalan sebenarnya terletak pada mereka yang menguasai komunikasi global tersebut memiliki perbedaan perspektif yang ekstrim dengan Islam dalam memberikan kriteria nilainilai moral; antara nilai baik dan buruk, antara kebenaran sejati dan yang artifisial. Di sisi lain era kontemporer identik dengan era sains dan teknologi, yang pengembangannya tidak terlepas dari studi kritis dan riset yang tidak kenal henti. Dengan semangat yang tak pernah padam ini para saintis telah memberikan kontribusi yang besar kepada kesejahteraan umat manusia di samping kepada sains itu sendiri. Hal ini sesuai dengan identifikasi para saintis sebagai pecinta kebenaran dan pencarian untuk
kebaikan seluruh umat manusia. Akan tetapi, sekali lagi, dengan perbedaan perspektif terhadap nilainilai etika dan moralitas agama, jargon saintis sebagai pencari kebenaran tampaknya perlu dipertanyakan. Apalagi bila dilihat data-data berikut.

Baca selengkapnya: 3-tantangan-pendidikan-islam-fatih-syuhud

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: