Pengembangan STAIN: antara Tantangan dan Peluang di Indonesia

Moh. Roqib *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), dosen tetap Jurusan Pendidikan (Tarbiyah) STAIN Purwokerto, sedang menyelesaikan program Doktor (menunggu promosi) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Abstract:

If we notice Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 about Teacher and Lecturer, and Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 about National Standard of education, we realize that
it’s a chance for PTAIN (State Islamic Higher Education) to strengthen its position, politically or socially. Here, role of alumni, academician, and Department of Religion officer that in charge of education, is to build plan and concrete action using all potential and involved every institution related. With this fine planning and cooperation of every institution, solution about Islamic education will be found.

Keywords: government act, State Islamic Higher Education, Department of Religion.

Pendahuluan
Pada awal tahun 1990-an, penulis mengikuti Pendidikan dan Latihan Kepemimpinan Mahasiswa Se-Indonesia di Kaliurang Yogyakarta mewakili Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga. Saat dibuka sesi tanya-jawab dengan penceramah, Prof. Muin Umar,1 penulis mengajukan pertanyaan tentang problem pengembangan PTAI atau IAIN di antaranya problem kelembagaan
yang terkait dengan pengakuan dan pembiayaan. Konon anggaran 14 IAIN se-Indonesia sama dengan anggaran satu IKIP Negeri Yogyakarta.2 Hal ini disinyalir karena perbedaan departemen sehingga berbeda pula kebijakan dan anggarannya, padahal sama-sama Institut. Bagaimana jika IAIN ini disatukan dalam satu naungan departemen, yaitu IAIN berada di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan3 sama dengan IKIP negeri agar IAIN mendapatkan perlakukan, pengakuan, dan anggaran yang sama? Prof. Muin Umar menjawab tidak semudah itu memindahkan IAIN dari Departemen Agama ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, karena
IAIN memiliki sejarah yang unik dan perjuangan panjang. Jasa para pendiri IAIN dan Departemen Agama tidak mungkin dilupakan.
Penulis memahami jawaban Prof. Muin sebagai orangtua yang pernah mengalami detik-detik menegangkan saat memperjuangkan status IAIN di Departemen Agama dan IAIN sebagai sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang mendapatkan naungan politik dan anggaran dari Negara. Perjuangan berat yang telah dilakukan tidak mudah untuk dihapus begitu saja hanya karena anggaran yang kecil dan pengakuan yang setengah hati. Secara psikis, peralihan IAIN ke Departemen Pendidikan mengesankan bahwa IAIN telah pindah tangan yang terkesan negatif karena ada perasaan kalah dan rendah.

Baca selengkapnya: 4-pengembangan-stain-antara-tantangan-dan-peluang-moh-roqib

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: