Paradigma Pendidikan Kritis: Menuju Humanisasi Pendidikan

Sunhaji *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), dosen tetap dan Ketua Prodi PAI Jurusan Pendidikan (Tarbiyah) STAIN Purwokerto.

Abstract:

The process of education must apply with “Learning Process Skill”, not “Learning Concept”. Process approach marked with student centered curricula, not teacher centered. Role of teacher is as facilitator, mediator,
dynamizing, organizing, and catalyst to apply “dialog” as spirit of education process. Critical education model is an education that independent from internal-institutional fetter, social hegemony, or structured to maintain political and economical stability. These happen in the length of our national history, then produce tame-weak human accorded to system condition. Whereas, education is human right, even people right to enhance its maturity, self-identity, and independence to serve his function to his God.

Keywords: critical education, humanize, human rights.

Pendahuluan
Ada pandangan yang kuat di kalangan para pendidik radikal bahwa pendidikan dan penyelenggaraan proses belajar mengajar—di antaranya dalam bentuk pelatihan—, pada dasarnya tidak pernah terbebas dari kepentingan politik dan sistem sosial ekonomi dalam kekuasaan yang ada.
Oleh karena itu, hakikat pendidikan bagi golongan mereka tidak lebih sebagai sarana untuk mereproduksi sistem dan struktur sosial yang tidak adil, seperti sistem kelas, relasi gender, relasi rasisme, ataupun relasi sistem lainnya. Pandangan seperti ini sering disebut dengan pendidikan sebagai reproduksi sosial.

Pola pendidikan semacam ini telah lama dijalankan oleh bangsa Indonesia. Pola pendidikan ini telah melahirkan orang-orang yang dipakai untuk kepentingan-kepentingan sesaat. Out-put pendidikan seperti ini adalah orang-orang yang diatur sedemikian rupa untuk mengisi kepentingan
politik tertentu. Dalam hal ini pendidikan adalah wahana penjinakan atau alat hegemoni dari sistem dan ideologi kelompok dominan.

Proses aktualisasi dalam belajar mengajar seperti ini adalah sama dengan yang dikritik oleh Paule Freire dengan teori Banking Concept of Education. Dengan sistem ini, pelajar diberi ilmu pengetahuan agar kelak dapat mendatangkan hasil dengan berlipat-ganda. Jadi, anak adalah objek
investasi dan sumber deposito potensial. Mereka tidak berbeda dengan komoditi ekonomis lainnya yang lazim dikenal. Depositor atau investornya adalah para guru yang mewakili lembaga-lembaga kemasyarakatan mapan dan berkuasa. Sementara depositonya berupa ilmu pengetahuan yang
diajarkan kepada anak didik. Anak didik pun lantas diperlakukan sebagai “bejana kosong” yang akan diisi sebagai sarana tabungan atau penanaman “modal ilmu pengetahuan” yang akan dipetik hasilnya kelak.1 Lebih lanjut, Freire menegaskan bahwa pendidikan adalah memanusiakan manusia
kembali. Gagasan ini berangkat dari suatu analisis bahwa sistem kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya membuat masyarakat mengalami proses dehumanisasi. 2 Pendidikan sebagai bagian dari sistem masyarakat justru menjadi pelanggeng proses dehumanisasi.

Baca selengkapnya: 8-paradigma-pendidikan-kritis-sunhaji

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: