Pendidikan Islam dan Pluralisme Beragama

M. Slamet Yahya *)

*) Penulis adalah magister Agama (M.Ag.), dosen tetap di Jurusan Pendidikan (Tarbiyah) STAIN Pruwokerto.

Abstract:

Islam is a religion that has prophetic mission, namely rahmatan lil ‘alamin, blessing to universe. To realize this mission, Islamic education must able to produce outputs that have inclusive character, pluralist,  and appreciative to pluralism. Pluralism in Islam not only normatively supported by religious texts, but also on praxis-empiric level. Islam also has practiced  life orientation  that  reflected  religious plurality. Therefore, on global scale, acknowledgment  to  religious plurality became essential and significant matter. To realize this, it’s urgently needed wisdom to suppress emotional and radical attitude on everyday life.

Keywords: Islamic education, religious plurality.

Pendahuluan
Realitas dunia yang plural dan multikultural semakin disadari dan diyakini oleh umat manusia. Kesadaran ini muncul karena umat manusia telah mampu melihat jumlah etnis atau bangsa yang beragam  di  dunia  ini.  Kesadaran  itu  pula  mengalami  perkembangan  sesuai  dengan  episteme
jamannya.1  Akan  tetapi,  tampaknya  realitas  yang  plural  dan  multikultural  ini  belum  disadari  sepenuhnya —dan kalaupun disadari—masih enggan diterima di  Indonesia yang masyarakatnya  multi etnik, agama, suku, dan warna kulit.

Kondisi  semacam  ini  sebetulnya  memiliki  tingkat  sensitivitas  yang  cukup  tinggi  untuk munculnya  berbagai  konflik. Keadaan  ini  ibarat  hutan  di musim  kemarau  panjang,  yang  siap terbakar kapan saja, ketika ada api yang menyulut (baik sengaja ataupun tidak). Hal ini merupakan tantangan  tersendiri dalam sejarah perjalanan negara kita karena berbagai kepentingan  individual seperti  jabatan,  maupun  kelompok  seperti  kepentingan  partai  politik  dan  golongan,  sering dimanfaatkan pihak-pihak  yang  sengaja  membangkit-bangkitkan  sensitivitas  konflik  dan  menyulutnya hingga bergema ke seluruh negeri, bahkan ke luar negeri.2

Selain  itu,  kita  dapat  melihat  bahwa  kehidupan  manusia  ditandai  dengan  kepastian  dan ketidakpastian karena agama. Manusia bisa damai dan bersaudara karena agama, bisa  resah dan pecah karena agama pula.3
Ada orang menolak beragama karena melihat agama sebagai sumber
konflik, perpecahan, dan peperangan. Pertikaian yang terjadi di Eropa, Afrika maupun Asia, hampir selalu diwarnai karena perbedaan agama (paling tidak perbedaan paham tentang keagamaan).4

Di lain pihak, tidak ada satu pun agama di muka bumi ini yang mengajarkan, menginginkan, serta  merestui  terjadinya  tindak  kekerasan,  seperti  pembunuhan,  perampokan,  penodongan, pemerkosaan,  atau  pun  bentuk  anarkhisme  lainnya. Agama merupakan  kebenaran  hakiki  yang bersifat perennial, kebenarannya  juga bersifat  timeless  (istilah H. Smith). Agama adalah  sesuatu yang absolut dan eternal, yang berbicara tentang nilai-nilai, arti, dan tujuan kehidupan, serta hal-hal yang berhubungan dengan kualitas spiritual (spiritual quality) seseorang.5

Baca selengkapnya: 1-pendidikan-islam-dan-pluralisme-beragama-m-slamet-yahya

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: