Pendidikan Berbasis Cinta

Asef Umar Fakhruddin *)

*) Penulis adalah peneliti pada Centre for Developing Islamic Education (CDIE) UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Abstract:

Education with love as its basic will shape and develop children potential. A Child should able to do activity that good and rational. A teacher and parent are just spectators, who suggest correction when something unwise and dangerous happen to children and everyone else. Creativity forming on love based education is direct student to always creative. Therefore, this conception is a criteria that he applying spiritual quotient. Intelligent people spiritually will not solve live problem just rationally or emotionally. But, he will relate it will life meaning spiritually, connect it with spiritual legacy as sacred texts or saint saying to give interpretation to recent situation.

Keywords: spiritual quotient, sacred text, love-based education.

Pendahuluan
Dewasa ini, pendidikan semakin menjadi kebutuhan yang sangat mendesak bagi semua orang. Pendidikan menjadi faktor terpenting dalam mewujudkan pembangunan mental dan spiritual manusia. Tidak hanya itu, dan ini sangat menggembirakan semua pihak, di tempat pelosok sekalipun telah dibangun lembaga-lembaga pendidikan. Meskipun lembaga ini tidak didanai pemerintah pusat, tetapi mereka tetap mampu eksis di tengah masifnya kompetisi dalam dunia pendidikan.
Sudah menjadi perbincangan yang khas apabila pendidikan ditempatkan dalam barisan terdepan sebagai pranata membangun suatu peradaban yang baik dan tangguh. Akan tetapi, sering dilupakan bahwa membangun iklim pendidikan yang mampu melahirkan generasi-generasi yang demikian membutuhkan perangkat yang “canggih” pula.
Sudah menjadi kajian bersama dan juga pemahaman umum pula bahwa pendidikan menjadi faktor terpenting dalam membangun kepribadian manusia. Di samping itu, dengan pendidikan pula sasaran yang ingin dicapai oleh sebuah peradaban akan bisa direalisasikan. Apalagi jika kita mengaca kepada dinamika yang berkembang dewasa ini, ketika semakin masifnya kerusakan datang menyapa, pendidikan menjadi komoditi utama. Pendidikan seakan menjadi sumber primer dan bahkan sebagai makanan pokok.
Dalam terang perkembangan seperti sekarang ini, pendidikan mendapatkan perhatian yang besar. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri, jika pendidikan yang berkembang saat ini juga kerap menanggalkan dan meninggalkan para anak didik dalam kubangan pesimisme. Oleh karena itu, tidak jarang pula kita menyaksikan banyak anak didik yang merasa kesepian di tengah keramaian dan perkembangan zaman seperti yang terjadi sekarang ini.

Baca selengkapnya: 5-pendidikan-berbasis-cinta-asef

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: