Ngelmu Iku Olehe Kanthi Laku

Kholid Mawardi *)

*) Penulis adalah Magister Humaniora (M.Hum.) alumnus Program Studi Sejarah, Jurusan Humaniora, Pascasarjana  UGM. Dia dosen  tetap di Jurusan Pendidikan  (Tarbiyah) STAIN Purwokerto. Bukunya  yang  telah  terbit, Mazhab Sosial  Keagamaan NU (Grafindo bekerjasama dengan STAIN Purwokerto Press, 2006).

Abstract:

From  early  times,  traditional  Islamic  community  accustomed  to  interpret  Islamic  teaching  with  local  comprehension. This tradition is a legacy from Walisongo teaching that prudent with local tradition on the beginning of match  between Islam and Javanese culture. On education sphere, traditional Islamic community gives more interest to process not
outcome, as apprehension to moralities of classical  Islamic education thought. On the process of knowledge searching, a santri  have  to  do  specific  laku-laku  (special  practice)  as  wandering  for  searching  the  teacher,  loyal  (ta’zim),  haul   (yearly  commemoration of someone’s pass away) and ziarah (make a devotional visit to a sacred place), an tabarukkan (ask for  blessing).  If  this  practice  (laku-laku)  done  correctly,  then  the  knowledge  being  gained—even  little—will  become  blessed  (barokah)  and have benefit.

Keywords: traditional Islamic community, Islamic teaching, laku-laku (special practice).

Pendahuluan
Dalam masyarakat Islam tradisional, menuntut ilmu adalah suatu bentuk pengabdian kepada Tuhan.  Segala yang terkait dengan proses mencari ilmu selalu diarahkan kepada tujuan tersebut. Seorang guru  yang dikenal dalam komunitas sebagai kiai sangat dimuliakan. Kiai adalah pengemban amanat untuk  menyebarluaskan  ilmu-ilmu Allah  kepada masyarakat  banyak. Kiai mempunyai  kedudukan  tinggi  secara  sosial karena  integritas moral dan karisma yang dimilikinya,  selain adanya keyakinan publik  bahwa mereka mempunyai kedekatan khusus dengan Tuhan.

Seorang pencari  ilmu  juga memiliki kedudukan yang  tinggi dalam masyarakat  Islam  tradisional.  Pemuda  yang  berani  untuk  melanjutkan  belajar  ke  pesantren-pesantren  besar  yang  masyhur  dan  biasanya berada jauh dari tempat tinggalnya dipandang sebagai orang yang istimewa oleh masyarakat  sekitarnya. Kemampuannya untuk berlaku prihatin, jauh dari rumah, menahan kerinduan, melakukan  tirakat, dan mempelajari ilmu agama mendapat apresiasi tinggi dari masyarakatnya. Mereka berharap
pemuda  itu  akan  menjadi  orang  alim  yang  dapat  mengajarkan  berbagai  kitab  dan  memimpin  masyarakat dalam kegiatan keagamaan.1

Penghargaan  terhadap  orang  yang mencari  ilmu  (santri)  tidak  hanya  berupa  dukungan moral,  melainkan  juga  finansial.  Terdapat  beberapa  kasus  pendanaan  bagi  santri  yang  melanjutkan  pendidikannya di pesantren masyhur yang dibiayai oleh masyarakat kampungnya secara gotong-royong  atau mencari mertua yang kaya untuk membiayai pendidikannya di pesantren. Seorang santri yang akan  pergi belajar di sebuah pesantren yang jauh, sebelum berangkat biasanya diadakan semacam upacara  penghormatan  yang  meriah.  Dalam  upacara  ini  biasanya  dihadiri  oleh  hampir  seluruh  penduduk  kampung.2

Baca selengkapnya: 7-ngelmu-iku-olehe-kanthi-laku-kholid-mawardi

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: