Pendidikan Islam dalam Pengembangan Potensi Manusia

M. Slamet Yahya *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdhatul Ulama (STAINU)
Kebumen dan pada Jurusan Tarbiyah (Pendidikan) STAIN Purwokerto.

Abstract:

Human is subject as well as object of education. As subject human determine
education’s type and direction, and as subject he became focus of entire education activities.
Therefore, every formulation of education has to refer to human on every dimension, which are
reflection of dynamic thought or empirical reality. Without human orientation, that formulation can’t
anticipate change, and education’s practice will fail. Human is a creature with two elements, namely
material (jasmani) and immaterial (ruhani), and equipped with fitrah, nafs, qalb, ruh, and aql. With
those instruments, human have potential, positive and negative. Positive potential have to be
developed optimally and negative potential must be minimized, and education is appropriate means to
build and develop good potentials.

Keywords: human potential, education, and Islamic education.

Pendahuluan
Dalam pandangan Islam, manusia merupakan ‘entity yang unik. Keunikannya terletak pada
wujudnya yang multi-dimensi, bahkan awal penciptaannya didialogkan langsung oleh Allah SWT
degan para malaikat1 sehingga jadilah manusia makhluk Allah yang paling mulia dan sempurna di
muka bumi ini.
Karena kesempurnaan dan kemuliaannya, Allah memberikan keistimewaan-keistimewaan yang
menyebabkan manusia berhak mengungguli makhluk lainnya. Di antara keistimewaankeistimewaannya
adalah diangkatnya manusia sebagai khalifah di bumi. Manusia merupakan
makhluk berpikir yang menggunakan bahasa sebagai medianya; manusia merupakan makhluk tiga
dimensi seperti segitiga sama kaki, yang kaki-kakinya terdiri dari tubuh, akal, dan ruh; manusia
mempunyai motivasi dan kebutuhan, manusia juga mempunyai keluwesan sifat yang selalu berubah
melalui interaksi pendidikan.2
Mencermati uraian di atas, wacana untuk menjadikan pendidikan yang lebih manusiawi
semakin marak—dengan memperhatikan sifat, kebutuhan, dan potensi dasar manusia—, maka
pemahaman tentang hal ihwal manusia menjadi sangat penting.
Oleh karena itu, setiap rumusan pendidikan berawal dari konsep dasar manusia dalam berbagai
dimensinya, yang merupakan refleksi dari pemikiran-pemikiran dinamis atau kenyataan-kenyataan
empirik. Antara konsep dasar pendidikan dan konsep dasar manusia terdapat hubungan yang erat.
Tanpa berorientasi pada manusia sebagai acuan dasarnya, rumusan-rumusan teoretis pendidikan
akan mengalami stagnasi dan tidak berdaya dalam mengantisipasi perubahan. Praktik-praktik
kependidikan tidak pelak lagi akan mengalami kegagalan, kecuali bila dibangun di atas konsep yang
jelas mengenai sifat dasar manusia.

Baca artikel selengkapnya: 2-pendidikan-islam-dalam-pengembangan-potensi-manusia-m-slamet-yahya

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: