Andhap Asor, Pracaya, lan Mituhu

Kholid Mawardi *)

*) Penulis adalah Magister Humaniora (M.Hum.) alumnus Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Dia dosen tetap di
Jurusan Pendidikan (Tarbiyah) STAIN Purwokerto. Bukunya yang telah terbit, Mazhab Sosial Keagamaan NU (Grafindo
bekerjasama dengan STAIN Purwokerto Press, 2006).

Abstract:

K.H. Hasyim Asy’ari is one Islamic scholar that has global insight without ripped out from
tradition that grows him up (Javanese). He develops Islamic ideas about education with local sense. His
thought structure about education philosophically based on view that every activity conducted to seek
Allah’s acceptance and place good characters as basic morality. From that two basic values bring about
adab (moral) as its operational.

Keywords: K.H. Hasyim Asy’ari, moral, and education.

Pendahuluan
K.H. Hasyim Asy’ari dibesarkan dalam tradisi sufi dari golongan muslim tradisionalis Jawa. Ia
menuntut ilmu dan berkiprah di masyarakat pada masa munculnya gerakan Wahabi dalam dunia Islam.
Abad ke-19 di Jawa merupakan masa transisi, yaitu masa dialog antara golongan santri tradisional
dengan golongan modernis yang dipengaruhi oleh gerakan Wahabi dan Muhammad Abduh. Golongan
modernis mengatakan bahwa Islam di Jawa telah tertinggal jauh karena salah menafsirkan Islam dengan
tujuan sufi dan percampuran Islam dengan budaya lokal. Slogan golongan modernis adalah kembali
kepada al-Qur’an dan Hadis. Misi mereka adalah memurnikan ajaran Islam dari pengaruh-pengaruh
budaya lokal.2
Sebagaimana tipologi kiai Jawa, K.H. Hasyim melakukan penggabungan elemen-elemen Islam
dengan budaya lokal dalam berdakwah sepanjang praktik-praktik budaya lokal itu tidak bertentangan
dengan prinsip-prinsip Islam. Perpaduan semacam inilah yang digunakan oleh K.H. Hasyim dan
pengikutnya sehingga lebih mudah untuk diserap oleh sebagian besar masyarakat Jawa.3 Dia tidak
pernah mencela orang-orang yang berbuat salah, tetapi secara pelan-pelan mendekati mereka dengan
penuh ketulusan dan penghargaan. Dengan pendekatan yang bijaksana akan menarik masyarakat untuk
meninggalkan kebiasaan buruk, dan kembali ke jalan yang benar. Perilaku yang tumbuh dari kesadaran
akan lebih baik dan bertahan lama daripada disebabkan oleh kritik dan cercaan. Dia selalu menunjukkan
kehidupan nabi sebagai contoh yang ideal. Nabi lebih cenderung memberikan nasihat dan bimbingan
daripada kekerasan.4

Baca artikel selengkapnya: 5-andhap-asor-pracaya-lan-mituhu-kholid-mawardi

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: