Islamic Education in Syria: Undoing Secularism

Joshua M. Landis *)

*) Penulis adalah Assistant Professor of History and School for International and Area Studies di University of Oklahoma, e-mail: landis@ou.edu. Artikel ini disajikan dalam Seminar “Constructs of Inclusion and Exclusion: Religion
and Identity Formation in Middle Eastern School Curricula” di Watson Institute for International Studies Brown University, November 2003.

Abstrak:

Pendidikan Islam di Syiria adalah bagian dari strategi besar negara tersebut menuju nation-building. Sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mengeliminasi semua perbedaan di antara bangsa Syiria, pengajaran Islam di
sekolah menanamkan ajaran Islam Sunni kepada semua muslim Syiria tanpa memandang suku. Namun, kurikulum agama ini berkebalikan dengan agenda pemerintah menuju sekularisme. Kurikulum agama Islam mengajarkan
ketidaksetaraan di antara bangsa Syiria yang beragama Islam dan non-Islam. Ketidaksetaraan ini, yang menyebabkan perlakuan yang berbeda terhadap non-muslim, menjadikan mereka merasa tidak nyaman, dan pada akhirnya
gelombang imigrasi ke negara lain pun terus terjadi.

Kata Kunci: Pendidikan Islam, sekularisme, non-muslim.

Islamic Education in Syria: Undoing Secularism1

Islamic education in Syrian schools is traditional, rigid, and Sunni. The Ministry of Education makes no attempt to inculcate notions of tolerance or respect for religious traditions other than Sunni Islam. Christianity is the one exception to this rule. Indeed, all religious groups other than Christians
are seen to be enemies of Islam, who must be converted or fought against. The Syrian government teaches school children that over half of the world’s six billion inhabitants will go to hell and must be actively fought by Muslims. Jews have their own status. The Jewish religion – the Torah and the Jewish prophets – are considered divine – but the Jewish people, who, it is claimed, deny their prophets, are fated to go to hell and must be eliminated.

At first view, one might expect Syria to promote a liberal and tolerant view of religious difference in its religion curriculum. The reasons for this are many. Syria has been ruled by leaders belonging to a religious minority, the Muslim Alawi sect, for 40 years and is home to many religious minorities both Christian and Muslim. It plays a commanding role in the politics of Lebanon, a
country in which no more than 20% of the population is Sunni Muslim. Most importantly, Syria has been good to its minorities, who enjoy greater security and opportunity than in any other Arab country. Nevertheless, Syria has chosen not to follow a path of religious liberalism. Instead, it has pursued an integralist policy of nation-building for the last 40 years under the Ba‘th Party. The Asads have struggled to be good Sunnis, not to make Sunnis into good liberals.

Read more: 12-Islamic Education in Syria – joshua m landis

Urgensi Kurikulum Gender dalam Pendidikan

Khusnul Khotimah *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.) alumnus Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia menjadi dosen tetap pada Jurusan Dakwah (Komunikasi) STAIN Purwokerto.

Abstract:

One of education goal is how to realize fair society, by not discriminate one sex. But the reality exist discrimination at education that necessitate several effort to solve it, on of it is by formulating curriculum that have gender
perspective. Curriculum is a development of vision and mission of educational institution that want to realize education goal. Gender curriculum is based on an assumption that woman and man are equal in education, and have equal opportunity to get education. In its application, gender curriculum can be formulated implicitly (hidden curriculum), or explicitly (overt curriculum). However, to explain gender problems we recommend explicit way.

Keywords: Gender curriculum, education.

Pendahuluan
Pendidikan merupakan aktivitas yang khas bagi manusia dalam suatu komunitas masyarakat dengan tujuan untuk memanusiakan manusia,1 dan merupakan instrumen yang penting bagi pemberdayaan masyarakat, terutama bagi masyarakat yang termarjinalkan.2 Pendidikan juga merupakan kunci terwujudnya keadilan gender dalam masyarakat, karena di samping merupakan alat untuk mentransfer norma-norma masyarakat, pengetahuan dan kemampuan manusia, juga sebagai alat untuk mengkaji dan menyampaikan ide-ide dan nilai baru. Dengan demikian, lembaga pendidikan
merupakan sarana formal untuk sosialisasi sekaligus transfer nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, termasuk nilai dan norma gender. Nilai dan norma tersebut ditransfer secara lugas maupun secara tersembunyi, baik melalui buku-buku teks yang digunakan maupun pada suasana dan proses pembelajaran.

Oleh karena itu, dalam lembaga pendidikan, sebagai tempat mentransfer pengetahuan kepada masyarakat, mewujudkan keadilan gender merupakan hal yang niscaya. Untuk mengarah pada terwujudnya keadilan gender yang dimaksud maka perlu; (1) memberlakukan keadilan gender dalam pendidikan dan menghilangkan pembedaan pada peserta didik, (2) mengupayakan keadilan gender di kalangan staf dan pimpinan, dan (3) meredam sebab-sebab terjadinya kekerasan dan diskriminasi melalui materi pengetahuan yang diajarkan, proses pembelajaran yang dilakukan, dan menentang segala
ide dan pemikiran yang mengandung stereotipe negatif. Dari tiga hal di atas, maka hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pendidikan adalah bagaimana menyusun kurikulum yang dapat menciptakan relasi gender yang dinamis. Tulisan ini bermaksud untuk memaparkan tentang urgensi kurikulum yang
berperspektif gender dalam pendidikan sebagai upaya sosialisasi dan implementasi pengarusutamaan gender di bidang pendidikan.

Baca selengkapnya: 11-Urgensi Kurikulum Gender – khusnul khotimah

Difabilitas dan Pendidikan Inklusif: Kemungkinannya di STAIN Purwokerto

Asyhabuddin *)

Abstract:

Anti-discriminatory practicioners in many campuses have, so far, focused themselves too much on gender. In fact, there are more than one source of discrimination and oppression. One of them is ableism. Ableism is an ism that categorizes people by seeing their organs of body. For it, people can be divided into two groups. Those are the able and the disable. The able is a group of people who are “normal” in term of their organs of body. Conversely, the disable is a group of people who are “abnormal”in term of those. The categorization leads to discriminatory acts and views of “normal” people to the disable. One of Requirements of enrolling to schools or jobs is that the candidate should be physically and spiritually healthy. This condition makes many “disable” people eliminated from the competition. In order to combat the discrimination, one of the ideas is exchanging the term disable/disability with diffable/diffability. Another idea is inclusive education. That is an education system which put the diffable and the non-diffable in one class. This system is very effective for combatting discrimination and campaigning democracy and equality in life.

Keywords: Discrimination, ableism, diffability, inclusive education.

Mengapa Hanya Gender? Merambah Ranah Anti-diskriminasi Lain

Sensitivitas gender telah sekian lama menjadi tema hangat yang banyak dikemukakan dan didiskusikan di banyak artikel dalam berbagai jurnal ilmiah ataupun dalam berbagai makalah di seminar ilmiah. Pendidikan yang sensitif-gender pun telah sebegitu kuat merasuki akal pikiran kaum terpelajar di
kampus-kampus sehingga pusat-pusat studi yang didedikasikan untuk mengarus-utamakan (mainstreaming) gender agar persoalan pembedaan dan diskriminasi berbasis jenis kelamin tersebut menjadi pusat perhatian para pengambil kebijakan telah banyak berdiri di kampus-kampus seperti Pusat
Studi Gender (PSG) di STAIN Purwokerto atau Pusat Studi Wanita (PSW) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, misalnya.

Namun demikian, di tengah derasnya upaya untuk menghilangkan diskriminasi terhadap kaum perempuan yang didasarkan atas jenis kelamin (sexism), ada beragam diskriminasi lain yang didasarkan pada isme-isme lain yang tampaknya luput dari perhatian para cerdik-pandai di republik ini. Salah satu contohnya adalah diskriminasi yang didasarkan pada kemampuan fisik (ableism).

Paham ableism yang mengukur manusia dengan melihat kemampuan fisik telah menjadi sumber penindasan dan kezaliman yang tidak kalah bengisnya dengan sexism. Banyak sekali orang yang memiliki kemampuan berbeda secara fisik harus tersingkir dari dunia pendidikan maupun pekerjaan,
meskipun pendidikan dan pekerjaan yang diinginkan oleh kelompok anak manusia tersebut sesungguhnya tidaklah mengandalkan kemampuan fisik.

Baca selengkapnya: 10-Difabilitas dan pendidikan inklusif – asyhabuddin

Puisi Sebagai Metode Alternatif dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Munjin *)

*) Penulis adalah Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I.), dosen tetap Jurusan Tarbiyah (Pendidikan) STAIN Purwokerto.

Abstract:

There is still a notion stated by some students that English language is difficult and bored It is like a big monster which has always to be avoided, moreover it is to be one of the National Final Examination materials, English can make them upset dan frustrate. Why do the students sill have an opinion like this? The answer is that the teachers still use, in teaching English, traditional method and strategy which are unapropriate to the students’ demand. Poem as a material of teaching is, according to the writer, considered as a method which can increase students’ interest in studying English. Because the teaching will run in a joyful atmosphere, there is no burden on students’ shoulders

Keywords: Poem, Method, and Teaching English.

Pendahuluan
Sebagaimana kita ketahui, tujuan pembelajaran bahasa Inggris adalah dikuasainya empat kemampuan berbahasa, yakni berbicara, menulis, membaca, dan mendengar. Namun pada kenyataannya, meskipun kurikulum sudah didesain sedemikian rupa untuk mencapai tujuan dimaksud, pembelajaran yang berlangsung sebagian besar masih timpang. Artinya, pembelajaran itu hanya menonjolkan salah satu kemahiran saja, bahkan tidak jarang malah hanya aspek tata bahasa atau grammar-nya yang diajarkan. Pembelajaran bahasa yang seperti ini tidak lain adalah pembelajaran tentang bahasa, bukan bagaimana berbahasa.

Padahal, di dalam kurikulum bahasa Inggris telah diamanatkan bahwa tujuan pembelajaran bahasa adalah kebermaknaan dan fungsi komunikasi.1 Hal ini berarti pembelajaran bahasa harus didesain sedemikian rupa agar peserta didik pada gilirannya dapat menggunakan bahasa tersebut sebagai alat komunikasi, baik secara lisan maupun tulisan. Oleh karena itu, untuk mencapai basil pembelajaran tersebut, pemilihan metode, pendekatan, strategi, serta media memegang peran yang penting.

Baca selengkapnya: 9-Puisi Sebagai Metode Alternatif – munjin

Strategi Pembelajaran: Konsep dan Aplikasinya

Sunhaji *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), Dosen tetap Jurusan Tarbiyah dan Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam di STAIN Purwokerto.

Abstract:

Learning strategy is a teacher effort to create environment system that enable student to learn, or choice of teacher-student activity pattern at learning process. There are several different strategies, but only at its accentuation, namely as abstract conception thought versus its operation on three activity i.e. pre-instructional, instructional, and evaluation. As criteria to choose learning strategy there are: learning goal, skill at lesson, media being used, evaluation system, and student as subject and teacher as implementer.

Keywords: Learning strategy, effort, environment, teacher, student.

Pendahuluan
Banyak pendapat ahli yang mendefinisikan strategi belajar-mengajar dengan berbagai istilah dan pengertian yang berbeda, perbedaan tersebut sebenarnya hanya terletak pada aksentuasinya saja. Misalnya, Nana Sudjana mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar merupakan tindakan guru melaksankan rencana mengajar, yaitu usaha guru dalam menggunakan beberapa variabel
pengajaran (tujuan, metode, alat, serta evaluasi) agar dapat mempengaruhi siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan.1 Dengan demikian, ia adalah usaha nyata guru dalam praktik mengajar yang dinilai lebih efektif dan efisien, atau politik dan taktik guru yang dilaksanakan dalam praktik mengajar di kelas.

Selanjutnya, Nana Sudjana menambahkan bahwa strategi mengajar ini dibagi tiga tahapan; tahapan pra-instruksional, tahap instruksional, dan tahap evaluasi. Pada tahap pra-instruksional, misalnya guru menanyakan kehadiran siswa, bertanya tentang materi lalu ini semua sebagai upaya melakukan apersepsi, kemudian tahapan kedua guru menjelaskan tujuan, menuliskan pokok-pokok materi sesuai tujuan ini dimaksudkan untuk menekankan fokus pada tujuan yang diharapkan (learning outcome), dan tahap evaluasi guru berusaha mengetahui sejauh mana siswa memahami pada materi yang dijelaskan pada tahapan instruksional dan termasuk sebagai feedback terhadap pelaksanaan seluruh kegiatan instruksional.2 Menurut definisi sebagaimana dijelaskan dimuka, maka strategi belajar-mengajar adalah operasionalisasi dari desain pembelajaran yang telah dirancang.

Baca selengkapnya: 8-Strategi Pembelajaran – sunhaji

Epistemologi Pendidikan Islam:Melacak Metodologi Pengetahuan Perguruan Tinggi Islam Klasik

Musnur Hery *)

*) Penulis adalah Doktor lulusan UIN Sunan Kalijaga (2008), Dosen Fak. Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang. Bukubukunya yang telah terbit: Filsafat Wacana, Terjemahan dari buku Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse and the Surpluss of Meaning, Yogyakarta: Ircisod, 2002. Hermeneutika, Terjemahan dari Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermarcher, Dilthey, Heidegger and Gadamer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

Abstract:

Islamic higher college not only limited to higher education that famous at Islamic history like madrasah (e.g. Nizamiyah), and al-Jami’ah (e.g. al-Azhar). Yet, Islamic higher college is the implementation of learning process that can be categorized in higher education stage, that being practiced in Moslem society, even still in non-formal or informal form before madrasah existence. Several epistemologies branch indeed take place at formal institution, while some epistemologies branch theoretically applied at formal institution, but it’s practiced at non-formal institutions. These non-formal institutions were still reflecting Islamic higher education level.

Keywords: Islamic higher college, madrasah, al-Jami’ah, non-formal, informal, epistemology.

Pendahuluan

Harus ditegaskan terlebih dahulu, sebelum mengulas epistemologi di perguruan tinggi Islam, bahwa yang dimasudkan dengan perguruan tinggi Islam tidak hanya sebatas lembaga pendidikan tinggi yang sudah masyhur dalam sejarah pendidikan Islam seperti madrasah (misalnya Nizamiyah), dan al- Jami’ah (seperti al-Azhar). Dua lembaga terakhir ini merupakan pengembangan selanjutnya dari pendidikan tinggi Islam. Namun, perguruan tinggi Islam adalah pelaksanaan proses belajar-mengajar yang dapat dikategorikan dalam jenjang pendidikan tinggi, yang dipraktikkan dalam mayarakat Islam, meskipun masih dalam bentuk yang non-formal atau informal sebelum kehadiran madrasah.

Hal ini berarti, sebagaimana yang dikatakan Bayard Dodge, proses belajar-mengajar yang masuk kategori jenjang pendidikan tinggi dalam lembaga masjid, majlis maupun halaqah ataupun di lembagalembaga lain dapat dikategorikan sebagai perguruan tinggi Islam. Penegasan ini dirasakan perlu karena memang yang menjadi fokus telaah bukanlah persoalan manajemen, organisasi dan profesionalisme kelembagaan, melainkan adalah bagaimana sumber pengetahuan di perguruan tinggi tersebut? Cara memperoleh pengetahuan tersebut serta pengembangannya.

Baca selengkapnya: 7-Epistemologi Pendidikan Islam – musnur hery

Metode Pembelajaran Bahasa Arab: antara Tradisional dan Modern

Sapri *)

*) Penulis adalah Master of Arts (M.A.), Dosen matakuliah Bahasa Arab, Fak. Tarbiyah, IAIN Sumatera Utara.

Abstract:

Teaching method is one of educational elements. The exist of a good method in the teaching learning process is to be because it can help to get hope goal of an instructional. In Arabic instructional, a teacher must use various method
throught it is conventional or modern.

Keywords: Teaching method, Arabic language, modern, traditional.

Pendahuluan
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi peserta didik melalui kegiatan pengajaran sehingga ia dapat berkembang secara sempurna. Ada dua buah konsep kependidikan yang berkaitan dengan lainnya, yaitu belajar (learning) dan pembelajaran (intruction). Konsep belajar berakar pada pihak peserta didik sedangkan konsep pembelajaran berakar pada pihak pendidik.

Dalam proses belajar-mengajar (PBM) bahasa Arab akan terjadi interaksi antara peserta didik dan pendidik. Peserta didik adalah seseorang atau sekelompok orang sebagai pencari dan penerima pelajaran yang dibutuhkannya. Pendidik adalah seseorang atau sekelompok orang yang berprofesi sebagai pengolah kegiatan belajar-mengajar dan seperangkat peranan lainnya, yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar yang efektif.

Kegiatan belajar-mengajar bahasa Arab melibatkan beberapa komponen, yaitu peserta didik, guru (pendidik), tujuan pembelajaran, isi pelajaran, metode mengajar, media, dan evaluasi. Tujuan pembelajaran adalah perubahan perilaku dan tingkah laku yang positif dari peserta didik setelah
mengikuti kegiatan belajar-mengajar, baik perubahan secara psikologis dalam tingkah laku (over behaviour), motorik, maupun gaya hidupnya.

Baca selengkapnya: 6-Metode Pembelajaran bahasa arab – sapri

Peranan Keluarga dalam Pendidikan Emosional Anak

Yuni Setia Ningsih *)

*) Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), Dosen matakuliah Metodologi Studi Islam, Fak. Tarbiyah, IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Abstract:

Family is a tiny scope that will bring someone to social life. The fine social order influenced by condition of every family inside it, because society is an accumulation and reflection of lifestyle, world view, even way of thinking of every individual in a family. Good or worse community at social life is depending on family condition. Family is playing important role to direct
children to become good moral generation on and beneficial for society. Therefore, to realize that goal, children emotional education from early age at family scope is requirement.

Keywords: family, children emotional education.

Pendahuluan
Keluarga yang mampu mempersiapkan generasi yang baik adalah keluarga yang mampu memberikan pendidikan sikap sehingga emosionalnya terarah dan proporsional. Apabila pendidikan mereka terabaikan dan pembentukan pribadi mereka dilakukan secara tidak proporsional, maka mereka akan menjadi bencana bagi orangtua dan gangguan bagi masyarakat dan umat manusia secara keseluruhan.1 Pendidikan fase pertama ini menentukan sikap dan mental anak dalam berinteraksi dengan alam lingkungannya. Kekokohan pondasi mental dan kejiwaan pada fase awal akan menjadi filter dalam menghadapi berbagai persoalan hidupnya di kemudian hari.2

Keluarga sebagai lembaga terkecil di dalam masyarakat diharapkan mampu menyiapkan mental anak dalam menghadapi hidupnya pada masa mendatang. Apabila didikan anak dalam keluarga baik dan terarah, maka kelak anak akan tumbuh dewasa sebagai manusia yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat.3 Untuk mempersiapkan generasi yang baik tersebut tidaklah mudah. Orangtua sebagai pendidik di lingkup keluarga harus memiliki pengetahuan tentang perkembangan emosional anak dan juga harus mengetahui kewajibannya dalam mendidik anak. Oleh karena itu, tulisan ini akan membicarakan tentang pembentukan keluarga yang ideal sehingga dapat memberikan pengaruh terhadap anak, perkembangan emosional anak, dan peranan keluarga dalam pendidikan emosional anak.

Baca selengakpnya: 5-Peranan Keluarga dalam Pendidikan Emosional Anak – yuni setia ningsih

Problem Pengajaran Sastra di SMK

Teguh Trianton *)

*) Penulis adalah Sarjana Pendidikan (S.Pd.), pernah bekerja sebagai wartawan. Kini menjadi guru Bahasa dan Sastra Indonesia pada SMK Widya Manggala Purbalingga. Buku antologi yang memuat karyanya; puisi “Jiwajiwa
Mawar” (Bukulaela, 2003), “Untuk Sebuah Kasihsayang” (Bukulaela, 2004), antologi “Puisi Penyair Jawa Tengah: Pendhapa-1” (TBJT 2005). Kumpulan Cerpen (Kumcer) “Robingah Cintailah Aku” STAIN Purwokerto Press (Grafindo 2007), antologi “Temu Penyair Antar Kota: Pendhapa-5 (TBJT 2008).

Abstract: At high-school vocational education, literary lesson didn’t have yang proper portion. This is a serious problem, if education wishes to build nation character by humanizing human. The problem at vocational education is, at its 2004’s curriculum that Indonesian language lesson fully directed to one direction, namely using utilizing right and roper Indonesian language to communicate at work. Therefore, it’s the time for government and education department to reformulate or revitalize the real education goal, by equalizing all matters and lesson even if that lesson didn’t tested at national test (UN). Teacher also must apply curriculum with flexibility and wise, because curriculum inst a sacred text that annul interpretation and difference on its realization.

Keywords: vocational education, literary lesson, curriculum.

Pengantar

Hubungan bahasa dengan sastra Indonesia pada dasarnya serupa dua sisi mata uang logam. Keduanya saling ketergantungan, tidak dapat dipisahkan atau berdiri sendiri. Sastra merupakan sistem tanda yang mempunyai makna dengan bahasa sebagai mediumnya (Pradopo, 1995). Bahasa sendiri tidaklah netral, sebab sebelum jadi anasir dari bangunan karya sastra, bahasa telah memiliki arti tersendiri (meaning) berdasarkan konvensi bahasa tingkat pertama melalui pembacaan heuristik.

Sumbangan sastra sendiri terhadap khazanah bahasa Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Konvensikonvensi sastra dengan sendirinya memberikan sokongan yang besar bagi perkembangan bahasa.

Dalam pendidikan, nilai estetik dan puitik sastra selama ini diyakini mampu memompa dan membangun karakter manusia. Bahkan, mendiang Presiden Amerika Serikat John F. Kenedy (JFK) begitu yakin bahwa sastra mampu meluruskan arah kebijakan politik yang bengkok sehingga politikus yang mati tertembak ini mengatakan, “Ketika Politik Bengkok, Sastra akan Meluruskannya”.

Baca selengakapnya: 4-Problem Pengajaran Sastra – teguh trianton

Komersialisasi dan Tanggung Jawab Pendidikan: Sekelumit Pembicaraan

Wan Anwar *)

*) Penulis adalah Magister Humaniora (M.Hum.) lulusan S-2 Ilmu Sastra FIB Universitas Indonesia. Kini mengajar sastra di Jurusan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Tirtayasa (Untirta) Banten, dan menjadi editor majalah sastra Horison. Bukunya yang sudah ditulis: Sebelum Senja Selesai (2002), Sepasang Maut (2004), Kuntowijoyo dan Dunianya (2006).

Abstract: One of crucial pictures of our education recently is expensive education expense. This happen parallel with pragmatism mental on every side of social life. Commercialization and capitalism often become cause of human values destruction that actually should to be preserved by education. Therefore, we have to do awareness movement to change attitude and action of education’s actor. BHP and BHMN (State’s owner legal institution) status, that giving autonomy to education institution to raise fund from community shouldn’t accentuate commercialization of education at school or campus. Its
also prevail on entrepreneurial university that its network source from global market capitalism expansion. School and campus must revitalize its public and humanity responsibility to independent, quality, creative, and responsible human. According to Kuntowijoyo, education task and responsibility is on humanizing human (humanization) effort, liberation, and spiritualizing human (transcendent).

Keywords: pragmatism, education commercialization, capitalism, BHP-BHMN, entrepreneurial university, dehumanization, awareness movement, and humanization liberation-transcendent.

Pengantar
Salah satu potret dunia pendidikan yang belakangan ini menggelisahkan adalah mahalnya biaya pendidikan. Sementara itu, jumlah orang miskin semakin bertambah, jurang kaya-miskin tambah menganga. Rakyat miskin yang “dilumpuhkan” oleh berbagai kebijakan dan struktur negara, akhirnya
harus pula dilindas oleh dunia pendidikan. Hal ini berarti, langsung tidak langsung, pengelola negara mengkhianati rakyatnya, si kaya menghisap si miskin, kaum terpelajar menindas orang-orang yang tidak mampu mengenyam pendidikan.

Berkaitan dengan pernyataan di atas, perlu ditegaskan bahwa masalah penting dalam dunia pendidikan yang harus terus dibicarakan adalah pergumulan dua kekuatan tidak terhindarkan: kuasa yang menindas dan perjuangan manusia untuk bebas! Dalam pergumulan itulah, dua kenyataan mengemuka: pendidikan kita terpuruk, meskipun “idealisme” masih tampak bergelora dalam diri sebagian pelaku atau pengelolanya. Sejumlah potret carut-marut dunia pendidikan tidak sulit ditunjukkan dan berbagai kritik terhadap kenyataan itu hingga kini terus bergulir. Inilah yang cukup melegakan, masih ada sekelompok orang yang menghasratkan perbaikan di tengah kebanyakan orang tenggelam di dalam rawa-rawa kemapanan.

Baca selengkapnya: 3-Komersialisasi dan tanggung jawab pendidikan – wan anwar

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.